alexametrics
24.9 C
Surakarta
Wednesday, 26 January 2022

Jenang Jagung dari Jatipuro, Dibungkus Kelobot Munculkan Cita Rasa Khas

JENANG menjadi salah satu camilan yang banyak ditemui. Jenisnya juga macam-macam. Di Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, warga membuat jenang dari bahan baku jagung.

Jenang jagung banyak dikembangkan warga Desa Jatisuko, Kecamatan Jatipuro. Salah satunya Yanti Lestari, 33, sejak 4 tahun silam. Yanti awalnya terinspirasi dari banyaknya bahan jagung di wilayahnya.

Pembuatan jenang jagung sebenarnya sama dengan jenang pada umumnya. Hanya saja, dalam proses pembuatan lebih mengedepankan bahan atau peralatan secara tradisional. Bungkusnya pun unik karena dari kulit jagung atau kelobot.

”Untuk pembuatannya sederhana. Jagung manis nanti diblender, kemudian diperas dan dicampur dengan hasil santan dari parutan kelapa. Untuk pengharumnya tidak menggunakan pengharum vanili, melainkan daun pandan. Setelah itu dilarutkan dengan tepung maizena yang terbuat dari bahan jagung, kemudian diaduk-aduk dan yang terakhir dituangkan diloyang sebagai pencetak, setelah padat dipotong-potong,” kata Yanti.

Dalam penyajiannya menggunakan daun jagung atau klobot. Penggunaan klobot sendiri karena selain sebagai ciri khas juga bisa mengeluarkan cita rasa jenang.

”Sempat dibungkus dengan daun pisang, tapi malah rasanya itu beda, kemudian konsumen juga banyak yang protes dan malah tidak laku,” ungkapnya.

Jenang jagung bisa disajikan dalam kondisi hangat dan dingin. Namun disarankan tidak disimpan di dalam freezer. ”Ya enaknya itu pas hangat, bisa sebagai pengganti nasi atau roti untuk sarapan. Kemudian makanan ini juga cocok untuk sajian acara seperti arisan ataupun hajatan,” paparnya.

Dalam satu loyang, bisa jadi 30 buah jenang jagung berukuran sekepal tangan orang dewasa. Untuk harganya dipatok Rp 1.000. Ditanya terkait kendala dalam pembuatan jenang jagung, Yanti mengaku ketersediaan bungkus klobot.

”Ketersediaan klobot itu susah, karena disesuaikan dengan musimnya, jadi harus cari-cari ke petani,” tandasnya. (rud/adi)






Reporter: Rudi Hartono

JENANG menjadi salah satu camilan yang banyak ditemui. Jenisnya juga macam-macam. Di Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, warga membuat jenang dari bahan baku jagung.

Jenang jagung banyak dikembangkan warga Desa Jatisuko, Kecamatan Jatipuro. Salah satunya Yanti Lestari, 33, sejak 4 tahun silam. Yanti awalnya terinspirasi dari banyaknya bahan jagung di wilayahnya.

Pembuatan jenang jagung sebenarnya sama dengan jenang pada umumnya. Hanya saja, dalam proses pembuatan lebih mengedepankan bahan atau peralatan secara tradisional. Bungkusnya pun unik karena dari kulit jagung atau kelobot.

”Untuk pembuatannya sederhana. Jagung manis nanti diblender, kemudian diperas dan dicampur dengan hasil santan dari parutan kelapa. Untuk pengharumnya tidak menggunakan pengharum vanili, melainkan daun pandan. Setelah itu dilarutkan dengan tepung maizena yang terbuat dari bahan jagung, kemudian diaduk-aduk dan yang terakhir dituangkan diloyang sebagai pencetak, setelah padat dipotong-potong,” kata Yanti.

Dalam penyajiannya menggunakan daun jagung atau klobot. Penggunaan klobot sendiri karena selain sebagai ciri khas juga bisa mengeluarkan cita rasa jenang.

”Sempat dibungkus dengan daun pisang, tapi malah rasanya itu beda, kemudian konsumen juga banyak yang protes dan malah tidak laku,” ungkapnya.

Jenang jagung bisa disajikan dalam kondisi hangat dan dingin. Namun disarankan tidak disimpan di dalam freezer. ”Ya enaknya itu pas hangat, bisa sebagai pengganti nasi atau roti untuk sarapan. Kemudian makanan ini juga cocok untuk sajian acara seperti arisan ataupun hajatan,” paparnya.

Dalam satu loyang, bisa jadi 30 buah jenang jagung berukuran sekepal tangan orang dewasa. Untuk harganya dipatok Rp 1.000. Ditanya terkait kendala dalam pembuatan jenang jagung, Yanti mengaku ketersediaan bungkus klobot.

”Ketersediaan klobot itu susah, karena disesuaikan dengan musimnya, jadi harus cari-cari ke petani,” tandasnya. (rud/adi)






Reporter: Rudi Hartono

Populer

Berita Terbaru