alexametrics
31.1 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Nasi Jagung Gudang dan Gereh Remuk: Jadi Makanan Pokok Era 80-an

BOYOLALI – Nasi jagung pernah menjadi makanan pokok masyarakat lereng Merapi-Merbabu. Eksistensi nasi jagung masih bisa ditemui di pasar-pasar tradisional dan beberapa warung masakan Jawa hingga saat ini.

Butiran kasar nasi jagung tetap menggoda. Apalagi jika diberi lauk gudangan dan gereh remuk. Ditambah sambal orek pedas dan sambal krambil atau kelapa muda. Kenikmatan bertambah jika dinikmati dengan muluk alias makan dengan tangan. Namun, dibalik kenikmatan rasa ternyata ada proses pembuatan nasi jagung yang ternyata tak mudah.

Warga lereng Merapi, tepatnya Dusun Randu, Jelok, Cepogo, Siti Kiptiyah, 57, mengatakan, nasi jagung pernah menjadi makanan pokok. Sejak dia kecil hingga 1980-an, nasi jagung menjadi energi utama masyarakat lereng Merapi-Merbabu. Pada masa itu, ketersediaan jagung sangat mencukupi. Mengingat, mayoritas masyarakat lereng gunung lebih memilih menanam palawija.

Selain itu, jagung juga mengandung karbohidrat, mengenyangkan, dan memberikan energi. Namun, proses pembuatan nasi jagung ternyata tak mudah. Jagung yang digunakan merupakan jagung putih dan sudah kering. Baru dilanjutkan proses bebak atau ditumbuk di dalam lumpang kayu.

”Sebelah kulit jagung hilang, jagung harus direndam semalaman. Biar mudah digilingnya. Lalu paginya kita bersihkan dan cuci.  Dilanjutkan proses ditumbuk kalau jaman dulu, sekarang ya pakai penggilingan agar halus sampai menjadi tepung. Tepung jagung yang sudah dipindahkan ke tampah anyaman bambu,” terangnya pada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (15/7).

Tepung jagung lantas diberi air sedikit demi sedikit sembari diayak. Proses ini harus dilakukan sampai tepung berubah menjadi buliran-buliran kecil. Setelah itu, buliran tepung jagung dipindahkan di kerucut bambu. Proses pengukusan pertama dilakukan hingga buliran tepung jagung benar-benar matang.

”Kalau sudah tanak (matang,Red) ditaruh di tampah bambu lagi. Pas masih panas harus diuleni terus sampai memes (kalis,Red). Karena kalau diuleninya sudah dingin, nasi jagung cenderung keras. Untuk proses pengulenan cukup lama karena butiran tepung jagung harus terlihat lagi,” jelasnya.

Setelah itu, masuk tahap pengukusan kedua dengan kerucut bambu. Proses pengukusan sekitar 10 menit. Setelah itu, karon atau nasih jagung setengah matang diletakan kembali pada tampah dan diratakan. Pada tahap ini, karon harus disiram air panas sedikit demi sedikit sampai merata. Lalu didiamkan sampai meresap airnya. Dilanjutkan proses pengukusan ketiga selama 30-40 menit.

”Sejak kecil, nasi jagung sudah sebagai makanan pokok. Biasanya dengan lauk sambel tumpang, gereh remuk, dengan sambel kelapa muda, orek pedas dan gudangan. Karen di daerah lereng Merapi -Merbabu mayoritas menanam jagung yang menjadi bahan pokok masyarakat,” terangnya.

Siti menjelaskan, peralihan beras menjadi makanan pokok terjadi 1980-an. Meski, masyarakat dengan usia lanjut banyak yang memilik memakan nasi jagung dibanding beras. Namun, seiring gempuran zaman, masyarakat dewasa kini lebih memilih yang praktis. Selain mudah dimasak, nasi beras dinilai mengenyangkan. Tapi perlu bersusah payah seperti pembuatan nasih jagung.

Meski keberadaan nasi jagung masih eksis hingga kini. Tak mudah menjumpai masyarakat yang menjadikan nasi jagung sebagai makanan pokok. Ataupun membuat nasi jagung sendiri. Di sisi lain, nasi jagung masih bisa ditemui disejumlah pasar tradisional di daerah Cepogo, Musuk dan sekitar. Baik dalam bentuk siap makan lengkap dengan lauk pauk, ataupun karon.

”Sekarang cari nasi jagung masih ada. Kadang juga harus pesan. Untuk harga karon sekitar Rp 18 ribu per kilogram itu sudah jadi satu ceting kecil. Kalau beli yang lengkap sama gudangan gereh remuk dan sambal juga ada. Harganya Rp 3 ribu/bungkus. Sekarang nasi jagung sudah tak sebanyak dulu karena tergantikan dengan beras,” paparnya. (rgl/adi/dam)

BOYOLALI – Nasi jagung pernah menjadi makanan pokok masyarakat lereng Merapi-Merbabu. Eksistensi nasi jagung masih bisa ditemui di pasar-pasar tradisional dan beberapa warung masakan Jawa hingga saat ini.

Butiran kasar nasi jagung tetap menggoda. Apalagi jika diberi lauk gudangan dan gereh remuk. Ditambah sambal orek pedas dan sambal krambil atau kelapa muda. Kenikmatan bertambah jika dinikmati dengan muluk alias makan dengan tangan. Namun, dibalik kenikmatan rasa ternyata ada proses pembuatan nasi jagung yang ternyata tak mudah.

Warga lereng Merapi, tepatnya Dusun Randu, Jelok, Cepogo, Siti Kiptiyah, 57, mengatakan, nasi jagung pernah menjadi makanan pokok. Sejak dia kecil hingga 1980-an, nasi jagung menjadi energi utama masyarakat lereng Merapi-Merbabu. Pada masa itu, ketersediaan jagung sangat mencukupi. Mengingat, mayoritas masyarakat lereng gunung lebih memilih menanam palawija.

Selain itu, jagung juga mengandung karbohidrat, mengenyangkan, dan memberikan energi. Namun, proses pembuatan nasi jagung ternyata tak mudah. Jagung yang digunakan merupakan jagung putih dan sudah kering. Baru dilanjutkan proses bebak atau ditumbuk di dalam lumpang kayu.

”Sebelah kulit jagung hilang, jagung harus direndam semalaman. Biar mudah digilingnya. Lalu paginya kita bersihkan dan cuci.  Dilanjutkan proses ditumbuk kalau jaman dulu, sekarang ya pakai penggilingan agar halus sampai menjadi tepung. Tepung jagung yang sudah dipindahkan ke tampah anyaman bambu,” terangnya pada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (15/7).

Tepung jagung lantas diberi air sedikit demi sedikit sembari diayak. Proses ini harus dilakukan sampai tepung berubah menjadi buliran-buliran kecil. Setelah itu, buliran tepung jagung dipindahkan di kerucut bambu. Proses pengukusan pertama dilakukan hingga buliran tepung jagung benar-benar matang.

”Kalau sudah tanak (matang,Red) ditaruh di tampah bambu lagi. Pas masih panas harus diuleni terus sampai memes (kalis,Red). Karena kalau diuleninya sudah dingin, nasi jagung cenderung keras. Untuk proses pengulenan cukup lama karena butiran tepung jagung harus terlihat lagi,” jelasnya.

Setelah itu, masuk tahap pengukusan kedua dengan kerucut bambu. Proses pengukusan sekitar 10 menit. Setelah itu, karon atau nasih jagung setengah matang diletakan kembali pada tampah dan diratakan. Pada tahap ini, karon harus disiram air panas sedikit demi sedikit sampai merata. Lalu didiamkan sampai meresap airnya. Dilanjutkan proses pengukusan ketiga selama 30-40 menit.

”Sejak kecil, nasi jagung sudah sebagai makanan pokok. Biasanya dengan lauk sambel tumpang, gereh remuk, dengan sambel kelapa muda, orek pedas dan gudangan. Karen di daerah lereng Merapi -Merbabu mayoritas menanam jagung yang menjadi bahan pokok masyarakat,” terangnya.

Siti menjelaskan, peralihan beras menjadi makanan pokok terjadi 1980-an. Meski, masyarakat dengan usia lanjut banyak yang memilik memakan nasi jagung dibanding beras. Namun, seiring gempuran zaman, masyarakat dewasa kini lebih memilih yang praktis. Selain mudah dimasak, nasi beras dinilai mengenyangkan. Tapi perlu bersusah payah seperti pembuatan nasih jagung.

Meski keberadaan nasi jagung masih eksis hingga kini. Tak mudah menjumpai masyarakat yang menjadikan nasi jagung sebagai makanan pokok. Ataupun membuat nasi jagung sendiri. Di sisi lain, nasi jagung masih bisa ditemui disejumlah pasar tradisional di daerah Cepogo, Musuk dan sekitar. Baik dalam bentuk siap makan lengkap dengan lauk pauk, ataupun karon.

”Sekarang cari nasi jagung masih ada. Kadang juga harus pesan. Untuk harga karon sekitar Rp 18 ribu per kilogram itu sudah jadi satu ceting kecil. Kalau beli yang lengkap sama gudangan gereh remuk dan sambal juga ada. Harganya Rp 3 ribu/bungkus. Sekarang nasi jagung sudah tak sebanyak dulu karena tergantikan dengan beras,” paparnya. (rgl/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/