alexametrics
21.5 C
Surakarta
Thursday, 30 June 2022

Racik Kopi Tak Segampang saat Nyruput: Seorang Barista Harus Kuasai Sensory

SOLO – Menjamurnya coffeeshop di Kota Bengawan berbanding lurus dengan semakin banyaknya jumlah barista. Ya, profesi peracik di balik nikmatnya se-cup kopi ini, kini jadi buruan anak muda. Image barista harus sosok cowok macho berambut gondrong, sekarang mulai terkikis. Ada juga lho barista cewek yang cantik, lucu, dan fashionable.

Deby Fersiani adalah salah seorang barista cewek di The Hidden Swargi Coffee. Salah satu coffeeshop di Kota Solo. Menariknya, sebelum benar-benar terjun ke dunia perkopian, Deby adalah atlet basket tingkat Provinsi Jawa Tengah. Dia rela pindah haluan dari atlet ke barista lantaran kesukaannya terhadap kopi.

“Karena aku suka kopi, aku tertarik belajar lebih dalam tentang kopi. Pengen bisa menguasai mesin kopi. Gimana cara mengoperasikan mesin, gimana cara menyeduh kopi yang bisa bikin rasanya enak. Untuk bisa tahu semua itu, aku harus jadi barista. Jadi aku mencoba something new. Banting setir dari basket,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Menurutnya, kopi punya rasa yang unik. Dan anehnya, semakin dikulik, Deby menemukan keasyikan tersendiri. Awalnya, pada 2020, Deby rajin mampir dari satu kedai kopi ke kedai kopi lainnya. Mencoba explore. Kemudian medio 2020, Deby mantap memutuskan menjadi seorang barista.

“Soalnya semakin aku explore, aku semakin kepo sama kopi. Padahal setelah jadi barista, susah banget. Ada yang namanya kalibrasi kopi. Itu barista harus bisa menemukan rasa yang pas dari biji kopi yang sudah disediakan kedai. Benar-benar kita harus kulik semua variabelnya. Mulai dari grind size, kandungan airnya, tekanannya, sampai mempelajari karakter kopi itu,” beber pecinta coffee latte dan kopi mocktail ini.

Belum selesai sampai di situ, Deby juga harus belajar sensory kopi jika ingin jadi barista yang jago. Sensory ini, diklaim Deby, adalah hal paling sulit bagi barista. Karena kemampuan sensory itu basic buat pedoman barista untuk paham karakter kopi seperti apa. Apakah asam atau pahit. Nah, barista bisa explore rasa kopi lewat sensory itu.

“Jadi barista yang andal itu tidak hanya menguasai mesin. Tapi juga mempelajari teknik dan metode basic dalam seduh kopi. Misalnya, pakai mesin espresso atau manual brew. Lebih dalam lagi, pelajari soal sensory dan cupping kopi. Mereka ini saling berhubungan. Karena untuk bisa cupping, kita harus melatih dulu kemampuan sensory. Cara latihannya, sering-sering ikut kelas pelatihan. Ada sertifikasinya juga,” jelasnya.

Apakah untuk jadi barista harus mengantongi berbagai sertifikasi pelatihan kopi? Deby menjawab, tidak. Sertifikasi hanya berfungsi untuk meningkatkan value barista. Semakin banyak sertifikat yang dimiliki, berarti skill yang dikuasi semakin banyak. Artinya, branding sebagai barista berkompeten semakin kuat.

“Tapi buat jadi barista nggak harus punya sertifikat kok. Sertifikat itu hanya penunjang. Kalau banyak sertifikat, sering juara, value-nya lebih tinggi,” sambungnya.

Pertanyaan lain yang sering dilontarkan adalah, apakah seduhan kopi barista cewek berbeda dengan barista cowok?

Nggak ada pengaruhnya sama sekali. Seduhan kopi enak atau nggak itu tergantung jam terbang barista. Mungkin selama ini banyak anggapan bahwa barista itu harus cowok. Itu karena mayoritas yang interest sama kopi adalah cowok. Sedangkan cewek kan lebih suka minuman yang manis,” pungkasnya. (aya/wa/dam)

SOLO – Menjamurnya coffeeshop di Kota Bengawan berbanding lurus dengan semakin banyaknya jumlah barista. Ya, profesi peracik di balik nikmatnya se-cup kopi ini, kini jadi buruan anak muda. Image barista harus sosok cowok macho berambut gondrong, sekarang mulai terkikis. Ada juga lho barista cewek yang cantik, lucu, dan fashionable.

Deby Fersiani adalah salah seorang barista cewek di The Hidden Swargi Coffee. Salah satu coffeeshop di Kota Solo. Menariknya, sebelum benar-benar terjun ke dunia perkopian, Deby adalah atlet basket tingkat Provinsi Jawa Tengah. Dia rela pindah haluan dari atlet ke barista lantaran kesukaannya terhadap kopi.

“Karena aku suka kopi, aku tertarik belajar lebih dalam tentang kopi. Pengen bisa menguasai mesin kopi. Gimana cara mengoperasikan mesin, gimana cara menyeduh kopi yang bisa bikin rasanya enak. Untuk bisa tahu semua itu, aku harus jadi barista. Jadi aku mencoba something new. Banting setir dari basket,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Menurutnya, kopi punya rasa yang unik. Dan anehnya, semakin dikulik, Deby menemukan keasyikan tersendiri. Awalnya, pada 2020, Deby rajin mampir dari satu kedai kopi ke kedai kopi lainnya. Mencoba explore. Kemudian medio 2020, Deby mantap memutuskan menjadi seorang barista.

“Soalnya semakin aku explore, aku semakin kepo sama kopi. Padahal setelah jadi barista, susah banget. Ada yang namanya kalibrasi kopi. Itu barista harus bisa menemukan rasa yang pas dari biji kopi yang sudah disediakan kedai. Benar-benar kita harus kulik semua variabelnya. Mulai dari grind size, kandungan airnya, tekanannya, sampai mempelajari karakter kopi itu,” beber pecinta coffee latte dan kopi mocktail ini.

Belum selesai sampai di situ, Deby juga harus belajar sensory kopi jika ingin jadi barista yang jago. Sensory ini, diklaim Deby, adalah hal paling sulit bagi barista. Karena kemampuan sensory itu basic buat pedoman barista untuk paham karakter kopi seperti apa. Apakah asam atau pahit. Nah, barista bisa explore rasa kopi lewat sensory itu.

“Jadi barista yang andal itu tidak hanya menguasai mesin. Tapi juga mempelajari teknik dan metode basic dalam seduh kopi. Misalnya, pakai mesin espresso atau manual brew. Lebih dalam lagi, pelajari soal sensory dan cupping kopi. Mereka ini saling berhubungan. Karena untuk bisa cupping, kita harus melatih dulu kemampuan sensory. Cara latihannya, sering-sering ikut kelas pelatihan. Ada sertifikasinya juga,” jelasnya.

Apakah untuk jadi barista harus mengantongi berbagai sertifikasi pelatihan kopi? Deby menjawab, tidak. Sertifikasi hanya berfungsi untuk meningkatkan value barista. Semakin banyak sertifikat yang dimiliki, berarti skill yang dikuasi semakin banyak. Artinya, branding sebagai barista berkompeten semakin kuat.

“Tapi buat jadi barista nggak harus punya sertifikat kok. Sertifikat itu hanya penunjang. Kalau banyak sertifikat, sering juara, value-nya lebih tinggi,” sambungnya.

Pertanyaan lain yang sering dilontarkan adalah, apakah seduhan kopi barista cewek berbeda dengan barista cowok?

Nggak ada pengaruhnya sama sekali. Seduhan kopi enak atau nggak itu tergantung jam terbang barista. Mungkin selama ini banyak anggapan bahwa barista itu harus cowok. Itu karena mayoritas yang interest sama kopi adalah cowok. Sedangkan cewek kan lebih suka minuman yang manis,” pungkasnya. (aya/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/