alexametrics
31.1 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Konsisten Soal Rasa

Sate Kere Sor Ringin Rumah Dinas Bupati Boyolali: Dikenal Sejak 1951

BOYOLALI – Kuliner sor ringin alias di bawah pohon beringin depan Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Boyolali memang dikenal nikmat. Salah satunya sate kere yang ada sejak 1951. Rasanya manis bercampur gurihnya daging sapi dan tempe gembus.

Sate kere sor ringin ini konsisten pada rasa. Sambal kacangnya yang gurih diguyurkan dalam tusukan sate kere dan lontong. Sate kere terdiri dari lontong, sate gembus dan sate jeroan sapi. Ditambah irisan bawang merah serta cabai. Disajikan saat masih panas di atas pincuk daun pisang.

Sejak 1951, pasangan suami istri Surani, 60, dan Sudarno ,62, sudah berjualan di sor ringin tersebut. Sebagai generasi kedua, mereka melanjutkan berjualan sate kere. Lokasinya tidak pernah berpindah-pindah. Hanya di bawah pohon beringin di sisi timur. Pasutri asli Poncobudoyo, Pulisen ini selalu berjualan berdua. Sudarno bertugas membakar sate, sedangkan Surani menyajikan pada pembeli.

”Kami sudah generasi kedua, melanjutkan ibu dulu yang jualan sejak 1951. Lalu kami lanjutkan mulai 1984. Lokasinya juga di sini saja. Meneruskan resep dari ibu,” ungkap Surani pada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (22/7).

Sate gembus dan jeroan sapi sudah dimasak terlebih dahulu. Meski dominan rasa manis dan gurih, namun kenikmatan rempah-rempah juga terasa. Sepulang dari pasar, pasutri ini mulai bersiap memasak. Termasuk lontong yang dibuat sejak pagi hari. Begitu sore dijual, lontong masih dalam keadaan hangat.

Begitu juga sambal kacang. Dia menggoreng dan menumbuk kacang tanah. Teksturnya tidak terlalu halus. Sehingga ketika dimakan, gurihnya kacang sangat terasa. Kemudian Surani juga membuat bumbu sambal mandiri. Tidak terlalu pedas dan dominan manis gurih.

”Bikinnya ndadak (mendadak,red). Tiap pagi semua biar masih fresh dan enak. Ini resep turun temurun dari ibu. Saya nggak perlu promosi, orang-orang sudah pada tahu. Kami biasanya berjualan dari pukul 14.00- 17.00,” katanya.

Harga sate kere sor ringin ini juga cukup terjangkau. Mulai dari porsi kecil seharga Rp 10 ribu. Pembeli sudah mendapatkan lontong, tiga tusuk sate sapi dan satu tusuk sate gembus. Untuk porsi sedang seharga Rp 15 ribu. Berisi lima tusuk sate sapi dan satu tusuk gembus. Ada juga porsi besar seharga Rp 20 ribu dengan isian delapan tusuk sate sapi dan satu tusuk gembus. Sudah lengkap dengan guyuran sambal kacang.

Sate kere sor ringin memang menjadi salah satu kuliner favorit yang diminati berbagai kalangan. Mulai dari remaja hingga dewasa. Apalagi saat akhir pekan, banyak keluarga yang berwisata gratis di barat Rumah Dinas Bupati Boyolali. Mereka pasti menyempatkan mampir.

”Sehari bisa habis puluhan bungkus. Kalau Minggu bisa habìs 10 kilogram jeroan sapi. Gembusnya bisa habis 10 lonjoran besar. Kalau lontongnya habis 5 kilogram, saya kalau bawa satu tonggok dan selalu baru, jadi hangat,” tandasnya. (rgl/adi/dam)

BOYOLALI – Kuliner sor ringin alias di bawah pohon beringin depan Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Boyolali memang dikenal nikmat. Salah satunya sate kere yang ada sejak 1951. Rasanya manis bercampur gurihnya daging sapi dan tempe gembus.

Sate kere sor ringin ini konsisten pada rasa. Sambal kacangnya yang gurih diguyurkan dalam tusukan sate kere dan lontong. Sate kere terdiri dari lontong, sate gembus dan sate jeroan sapi. Ditambah irisan bawang merah serta cabai. Disajikan saat masih panas di atas pincuk daun pisang.

Sejak 1951, pasangan suami istri Surani, 60, dan Sudarno ,62, sudah berjualan di sor ringin tersebut. Sebagai generasi kedua, mereka melanjutkan berjualan sate kere. Lokasinya tidak pernah berpindah-pindah. Hanya di bawah pohon beringin di sisi timur. Pasutri asli Poncobudoyo, Pulisen ini selalu berjualan berdua. Sudarno bertugas membakar sate, sedangkan Surani menyajikan pada pembeli.

”Kami sudah generasi kedua, melanjutkan ibu dulu yang jualan sejak 1951. Lalu kami lanjutkan mulai 1984. Lokasinya juga di sini saja. Meneruskan resep dari ibu,” ungkap Surani pada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (22/7).

Sate gembus dan jeroan sapi sudah dimasak terlebih dahulu. Meski dominan rasa manis dan gurih, namun kenikmatan rempah-rempah juga terasa. Sepulang dari pasar, pasutri ini mulai bersiap memasak. Termasuk lontong yang dibuat sejak pagi hari. Begitu sore dijual, lontong masih dalam keadaan hangat.

Begitu juga sambal kacang. Dia menggoreng dan menumbuk kacang tanah. Teksturnya tidak terlalu halus. Sehingga ketika dimakan, gurihnya kacang sangat terasa. Kemudian Surani juga membuat bumbu sambal mandiri. Tidak terlalu pedas dan dominan manis gurih.

”Bikinnya ndadak (mendadak,red). Tiap pagi semua biar masih fresh dan enak. Ini resep turun temurun dari ibu. Saya nggak perlu promosi, orang-orang sudah pada tahu. Kami biasanya berjualan dari pukul 14.00- 17.00,” katanya.

Harga sate kere sor ringin ini juga cukup terjangkau. Mulai dari porsi kecil seharga Rp 10 ribu. Pembeli sudah mendapatkan lontong, tiga tusuk sate sapi dan satu tusuk sate gembus. Untuk porsi sedang seharga Rp 15 ribu. Berisi lima tusuk sate sapi dan satu tusuk gembus. Ada juga porsi besar seharga Rp 20 ribu dengan isian delapan tusuk sate sapi dan satu tusuk gembus. Sudah lengkap dengan guyuran sambal kacang.

Sate kere sor ringin memang menjadi salah satu kuliner favorit yang diminati berbagai kalangan. Mulai dari remaja hingga dewasa. Apalagi saat akhir pekan, banyak keluarga yang berwisata gratis di barat Rumah Dinas Bupati Boyolali. Mereka pasti menyempatkan mampir.

”Sehari bisa habis puluhan bungkus. Kalau Minggu bisa habìs 10 kilogram jeroan sapi. Gembusnya bisa habis 10 lonjoran besar. Kalau lontongnya habis 5 kilogram, saya kalau bawa satu tonggok dan selalu baru, jadi hangat,” tandasnya. (rgl/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/