alexametrics
31.1 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Es Dawet Bayat Khas Klaten: Dicari Pecinta Kuliner Luar Daerah

KLATEN – Saat berkunjung ke Kabupaten Klaten, tak ada salahnya menikmati segarnya Es Dawet Bayat. Kuliner khas Klaten ini cocok sebagai pelepas dahaga usai jalan-jalan di bawah terik sinar matahari.

Es dawet Bayat bisa dinikmati langsung dari daerah asalnya di Desa Bogem, Kecamatan Bayat, Klaten. Salah satunya di tepi Jalan Pandanaran, Desa Paseban, Bayat. Lokasinya tidak jauh dari objek wisata religi Makam Sunan Pandanaran. Bertemu Sarjinem, 45, penjual es dawet asal Desa Bogem yang sudah berjualan lebih dari 10 tahun.

Ada pun komposisi es dawet Bayat itu terdiri dari dawet, santan, dan gula merah. Bahan baku membuat dawet dari pati onggok. Sarjinem biasanya merendam semalaman sebelum akhirnya diolah menjadi dawet pada keesokan harinya. Perendaman itu dilakukan agar cita rasa dawet tidak kecut.

Kemudian direbus kembali dengan air hingga tanak selama 30 menit lamanya. Lalu dilanjutkan dengan proses pencetakan dengan alat cetak berbahan aluminium. Biasanya dawet yang dihasilkan berwarna putih, coklat hingga biru dongker tergantung dari pati onggok yang disetorkan ke Sarjinem.

Sementara itu untuk santan dibutuhkan lima buah kelapa untuk setiap 1 kilogram (kg) pati onggok. Biasanya diolah dengan gula, pandan, garam hingga vanili. Dalam membuat santan untuk es dawet, harus kental untuk memperkuat cita rasa gurih.

Untuk membuat gula merah menggunakan bahan baku berupa gula Jawa yang direbus dengan bahan pilihan lainnya. Tentunya gula merah yang dihasilkan harus kental untuk memperkuat cita rasa manis. Ketika musim buah nangka tiba, biasanya ditambahkan juga dalam bentuk potongan ke gula merah tersebut.

Sarjinem menjual es dawet Bayat dengan menggunakan pikul yang terbuat dari rotan. Dalam pikulan terdapat kedua gentong yang terbuat dari gerabah. Satu gentong berisikan dawet yang sudah bercampur dengan santan. Sedangkan gentong lain berisikan gula merah sebagai pemanisnya.

Saat hendak disajikan dalam gelas, diberikan es batu terlebih dahulu. Kemudian dimasukan dawet yang sudah bercampur dengan santan. Sedangkan terakhir diberikan gula merah yang akan berada di bagian dasar gelas apabila tidak diaduk.

”Biasanya untuk menikmati es dawet Bayat ini ditambahkan dengan tape. Kebetulan kali ini tidak produksi. Begitu pula dengan buah nangka, tapi belum musim,” ucap Sarjinem saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, kemarin (24/6).

Apabila hendak menikmati segelas es dawet Bayat harus diaduk terlebih dahulu agar dawet, santan dan gula merahnya menyatu. Ada pun cita rasanya perpaduan antara gurih dan manis. Segelas es dawet Bayat dibanderol dengan harga Rp 3.500 saja sehingga cukup terjangkau.

Pelanggan es dawet Bayat Sarjinem tidak hanya datang dari Klaten, tetapi juga Solo, Jogja, Wonogiri, Sragen hingga sejumlah kota di Jawa Timur. Dalam sehari pun mampu menjual es dawet Bayat sebanyak 100 gelas.

”Saat menikmati es dawet Bayat ini sebenarnya juga bisa dipadukan dengan roti untuk dicocol ke es. Begitu juga dengan gorengan sebagai pendampingnya,” tandasnya. (ren/adi/dam)

KLATEN – Saat berkunjung ke Kabupaten Klaten, tak ada salahnya menikmati segarnya Es Dawet Bayat. Kuliner khas Klaten ini cocok sebagai pelepas dahaga usai jalan-jalan di bawah terik sinar matahari.

Es dawet Bayat bisa dinikmati langsung dari daerah asalnya di Desa Bogem, Kecamatan Bayat, Klaten. Salah satunya di tepi Jalan Pandanaran, Desa Paseban, Bayat. Lokasinya tidak jauh dari objek wisata religi Makam Sunan Pandanaran. Bertemu Sarjinem, 45, penjual es dawet asal Desa Bogem yang sudah berjualan lebih dari 10 tahun.

Ada pun komposisi es dawet Bayat itu terdiri dari dawet, santan, dan gula merah. Bahan baku membuat dawet dari pati onggok. Sarjinem biasanya merendam semalaman sebelum akhirnya diolah menjadi dawet pada keesokan harinya. Perendaman itu dilakukan agar cita rasa dawet tidak kecut.

Kemudian direbus kembali dengan air hingga tanak selama 30 menit lamanya. Lalu dilanjutkan dengan proses pencetakan dengan alat cetak berbahan aluminium. Biasanya dawet yang dihasilkan berwarna putih, coklat hingga biru dongker tergantung dari pati onggok yang disetorkan ke Sarjinem.

Sementara itu untuk santan dibutuhkan lima buah kelapa untuk setiap 1 kilogram (kg) pati onggok. Biasanya diolah dengan gula, pandan, garam hingga vanili. Dalam membuat santan untuk es dawet, harus kental untuk memperkuat cita rasa gurih.

Untuk membuat gula merah menggunakan bahan baku berupa gula Jawa yang direbus dengan bahan pilihan lainnya. Tentunya gula merah yang dihasilkan harus kental untuk memperkuat cita rasa manis. Ketika musim buah nangka tiba, biasanya ditambahkan juga dalam bentuk potongan ke gula merah tersebut.

Sarjinem menjual es dawet Bayat dengan menggunakan pikul yang terbuat dari rotan. Dalam pikulan terdapat kedua gentong yang terbuat dari gerabah. Satu gentong berisikan dawet yang sudah bercampur dengan santan. Sedangkan gentong lain berisikan gula merah sebagai pemanisnya.

Saat hendak disajikan dalam gelas, diberikan es batu terlebih dahulu. Kemudian dimasukan dawet yang sudah bercampur dengan santan. Sedangkan terakhir diberikan gula merah yang akan berada di bagian dasar gelas apabila tidak diaduk.

”Biasanya untuk menikmati es dawet Bayat ini ditambahkan dengan tape. Kebetulan kali ini tidak produksi. Begitu pula dengan buah nangka, tapi belum musim,” ucap Sarjinem saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, kemarin (24/6).

Apabila hendak menikmati segelas es dawet Bayat harus diaduk terlebih dahulu agar dawet, santan dan gula merahnya menyatu. Ada pun cita rasanya perpaduan antara gurih dan manis. Segelas es dawet Bayat dibanderol dengan harga Rp 3.500 saja sehingga cukup terjangkau.

Pelanggan es dawet Bayat Sarjinem tidak hanya datang dari Klaten, tetapi juga Solo, Jogja, Wonogiri, Sragen hingga sejumlah kota di Jawa Timur. Dalam sehari pun mampu menjual es dawet Bayat sebanyak 100 gelas.

”Saat menikmati es dawet Bayat ini sebenarnya juga bisa dipadukan dengan roti untuk dicocol ke es. Begitu juga dengan gorengan sebagai pendampingnya,” tandasnya. (ren/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/