alexametrics
31.1 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Nikmatnya Tongseng Kepala Sapi Mojolaban, Langganan Pejabat hingga Bupati

BERKUNJUNG ke Sukoharjo, jangan lupa mencicipi masakan olahan tongseng kepala sapi. Rasanya empuk, tidak amis, dan kuahnya segar.

Salah satu penjualnya bisa dengan mudah ditemukan di jalan Solo-Waduk Lalung, Karanganyar. Tepatnya di Desa Klumprit, Kecamatan Mojolaban. Hanya 30 menit dari pusat Kota Solo dan 20 menit dari pusat Kota Sukoharjo. Warung kaki lima ini tepat di pinggir jalan. Saking lezatnya, warung ini menjadi langganan para bupati Sukoharjo dan pejabat-pejabat perangkat daerah Kabupaten Sukoharjo.

Pemilik warung makan Tursilowati, 42, mengaku, dalam sehari menghabiskan 20 kilogram bagian-bagian pada kepala sapi. Bukan dalam bentuk kepala utuh, tapi daging yang sudah dibersihkan dari tulang-tulang kepala.

Daging yang berada di kepala sapi memang tidak banyak jumlahnya, namun tetap bisa ditemukan. Misalnya bagian belakang dekat leher maupun dekat rahang. Selain daging di kepala, bagian hidung dan bibir di moncong sapi serta lidah juga tak kalah lezat. Teksturnya krenyes, krenyes

”Bumbunya sama dengan yang lain. Cuma kami pakai daging kepala sapi asli, bukan daging bagian lain. Dari pipi, lidah, dan daging yang menempel di kepala,” kata Tursilowati yang akrab disapa Mbak Sebloh.

Dalam proses memasaknya, Tursilawati mencampur aneka bumbu seperti bawang merah, bawang putih, lada, santan dan kecap. Rempah-rempah inilah yang menciptakan kelezatan tongseng kepala sapi di Mojolaban hingga menjadi langganan pejabat.

”Sejak 2011 saya, dulu Pak Bupati Wardoyo Wijaya sering ke sini. Pak Yuli Bupati Karanganyar juga pernah. Lalu, Ibu Bupati Sukoharjo Etik jika ada agenda kegiatan di Mojolaban dan Polokarto, biasa mampir ke sini,” katanya.

Biasanya pengunjung akan diberikan pilihan pedas sedang atau pedas sekali dengan perbedaan irisan cabai di dalam kuah menu yang disajikan. Ditanya perbedaan dengan tempat lain, dia menyebut tak ada rahasia khusus selain pilihan daging yang disajikan. Hanya saja kuah yang disajikan memang tidak terlalu kental.

”Ya mungkin karena saya presto dulu sebelum dimasak. Lalu, kuahnya itu segar, tidak terlalu kental,” terangnya.

Warung makan ini buka setiap hari mulai pukul 09.00-15.00. Setiap kali memasak tongseng, sanggup memasak 25 porsi sekaligus. Sehingga, pelanggan tidak terlalu lama menunggu. Tongseng kepala sapi dibanderol harga Rp 25.000 untuk jenis campur.

”Kalau Bu Bupati Etik Suryani sukanya pesen yang daging saja, sama tambah sambel bawang. Harganya ya beda Rp 30 ribu,” ujar dia.

Warung yang saat ini ditempatinya merupakan lokasi ketiga setelah sempat berpindah dua kali. Tursilawati memilih tak membuka cabang lain dan hanya berfokus dengan satu warung yang telah dibukanya sejak 2011. Meski diterjang masalah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi, Tursilowati masih mampu meraih omzet setiap harinya mencapai Rp 3 juta-Rp 4 juta.

”PMK nggak pengaruh. Saya kalau barang nggak bagus nggak saya terima,” ucap dia.

Iwan Dwi, 24, salah seorang pembeli mengaku ketagihan mampir di warung ini. ”Dagingnya tidak amis, empuk, bumbunya merasuk ke daging. Kuahnya juga seger,” tandasnya. (kwl/adi/ria)

BERKUNJUNG ke Sukoharjo, jangan lupa mencicipi masakan olahan tongseng kepala sapi. Rasanya empuk, tidak amis, dan kuahnya segar.

Salah satu penjualnya bisa dengan mudah ditemukan di jalan Solo-Waduk Lalung, Karanganyar. Tepatnya di Desa Klumprit, Kecamatan Mojolaban. Hanya 30 menit dari pusat Kota Solo dan 20 menit dari pusat Kota Sukoharjo. Warung kaki lima ini tepat di pinggir jalan. Saking lezatnya, warung ini menjadi langganan para bupati Sukoharjo dan pejabat-pejabat perangkat daerah Kabupaten Sukoharjo.

Pemilik warung makan Tursilowati, 42, mengaku, dalam sehari menghabiskan 20 kilogram bagian-bagian pada kepala sapi. Bukan dalam bentuk kepala utuh, tapi daging yang sudah dibersihkan dari tulang-tulang kepala.

Daging yang berada di kepala sapi memang tidak banyak jumlahnya, namun tetap bisa ditemukan. Misalnya bagian belakang dekat leher maupun dekat rahang. Selain daging di kepala, bagian hidung dan bibir di moncong sapi serta lidah juga tak kalah lezat. Teksturnya krenyes, krenyes

”Bumbunya sama dengan yang lain. Cuma kami pakai daging kepala sapi asli, bukan daging bagian lain. Dari pipi, lidah, dan daging yang menempel di kepala,” kata Tursilowati yang akrab disapa Mbak Sebloh.

Dalam proses memasaknya, Tursilawati mencampur aneka bumbu seperti bawang merah, bawang putih, lada, santan dan kecap. Rempah-rempah inilah yang menciptakan kelezatan tongseng kepala sapi di Mojolaban hingga menjadi langganan pejabat.

”Sejak 2011 saya, dulu Pak Bupati Wardoyo Wijaya sering ke sini. Pak Yuli Bupati Karanganyar juga pernah. Lalu, Ibu Bupati Sukoharjo Etik jika ada agenda kegiatan di Mojolaban dan Polokarto, biasa mampir ke sini,” katanya.

Biasanya pengunjung akan diberikan pilihan pedas sedang atau pedas sekali dengan perbedaan irisan cabai di dalam kuah menu yang disajikan. Ditanya perbedaan dengan tempat lain, dia menyebut tak ada rahasia khusus selain pilihan daging yang disajikan. Hanya saja kuah yang disajikan memang tidak terlalu kental.

”Ya mungkin karena saya presto dulu sebelum dimasak. Lalu, kuahnya itu segar, tidak terlalu kental,” terangnya.

Warung makan ini buka setiap hari mulai pukul 09.00-15.00. Setiap kali memasak tongseng, sanggup memasak 25 porsi sekaligus. Sehingga, pelanggan tidak terlalu lama menunggu. Tongseng kepala sapi dibanderol harga Rp 25.000 untuk jenis campur.

”Kalau Bu Bupati Etik Suryani sukanya pesen yang daging saja, sama tambah sambel bawang. Harganya ya beda Rp 30 ribu,” ujar dia.

Warung yang saat ini ditempatinya merupakan lokasi ketiga setelah sempat berpindah dua kali. Tursilawati memilih tak membuka cabang lain dan hanya berfokus dengan satu warung yang telah dibukanya sejak 2011. Meski diterjang masalah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi, Tursilowati masih mampu meraih omzet setiap harinya mencapai Rp 3 juta-Rp 4 juta.

”PMK nggak pengaruh. Saya kalau barang nggak bagus nggak saya terima,” ucap dia.

Iwan Dwi, 24, salah seorang pembeli mengaku ketagihan mampir di warung ini. ”Dagingnya tidak amis, empuk, bumbunya merasuk ke daging. Kuahnya juga seger,” tandasnya. (kwl/adi/ria)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/