alexametrics
29 C
Surakarta
Monday, 4 July 2022

Kampung Purbakala di Bukit Sosogan

Sulap Bukit Gersang Jadi Peyangga Perekonomian

KARANGANYAR – Dulunya, Bukit Sosogan di Desa Rejosari, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar dikenal sebagai daerah minus. Karena letak geografisnya di wilayah yang gersang. Namun kini, potensi wisata di kawasan tersebut  mulai dilirik.

Pengembangan kawasan Bukit Sosogan, tak lepas dari kesuksesan gelaran event yang digelar pemerintah pusat, belum lama ini. Setelah hajatan tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Rejosari mulai tergerak untuk membenahi kawasan itu. Harapannya, ke depan ikut menyangga perekonomian warga sekitar.

“Awalnya hanya bukit kecil. Masuk aset tanah kas desa. Dan kami melihat sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu venue pertunjukan. Maka kami bersama tokoh masyarakat sekitar, menyepakati lokasi tersebut dikembangkan menjadi tempat wisata,” kata Kepala Desa (Kades) Rejosari Agus Supadiyono.

Agus menambahkan, Bukit Sosogan ditunjang pemandangan indah dan masih alami. Kawasan yang gersang, perlahan dipercantik. Diubah agar mampu menjadi magnet bagi wisatawan. Salah satunya sebagai lokasi pertunjukan seni budaya. Baik menonjolkan seni budaya asli desa, maupun Bumi Intanpari.

Selain itu, pemdes juga memperbaiki akses menuju Bukit Sosogan. Jalanan desa yang dulunya rusak, mulai dipermulus. Melalui percepatan pembangunan infrastruktur. Termasuk membentuk badan usaha milik desa (BUMDes), yang dipercaya mengelola kawasan Bukit Sosogan.

“Setelah ada kesepakatan dengan warga, lahan seluas kurang lebih 3,6 hektare ini mulai kami kembangkan. Tepat di depan Bukit Sosogan, kami bangun panggung sebagai tempat pertunjukan seni budaya,” imbuh kades.

Selain itu, kawasan ini juga dilengkapi dengan selter kuliner yang mengelilingi panggung pertunjukan. Termasuk pembangunan pendopo, yang bisa digunakan sebagai tempat pertemuan warga.

“Jadi kalau wisatawan datang, bisa melihat pemandangan bukit di sekitar Kampung Purba. Di sana juga kami lengkapi dengan tempat menggelar pertemuan. Panggung untuk konser pertunjukan juga mumpuni, karena lokasinya luas. Paling sering biasanya dijadikan sebagai lokasi berkemah,” paparnya.

Agus mengakui, sejauh ini pemdes masih fokus pengembangan Bukit Sosogan. Kebetulan, cukup banyak investor yang melirik kawasan ini. Terutama beberapa perusahaan dan komunitas besar di eks Karesidenan Surakarta.

“Pihak kementerian sudah datang melihat. Kemudian dari beberapa partai politik (parpol) di Solo juga sudah mengadakan kegiatan di sini. Mereka ikut membantu pengembangan Bukit Sosogan,” papar kades.

Sementara itu, pemdes bersama tokoh seniman sedang getol mengembangkan tarian khas Desa Rejosari, yakni Babat Punokawan. Tarian ini menggambarkan sejarah kehidupan masyarakat di masa lampau.

“Kami mengembangkan tarian ini, supaya wisatawan tak sekadar refreshing. Tapi juga kami edukasi terkait seni budaya khas Desa Rejosari. Selain itu kami juga menyediakan fasilitas tur naik Jeep,” tandasnya. (rud/fer)

KARANGANYAR – Dulunya, Bukit Sosogan di Desa Rejosari, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar dikenal sebagai daerah minus. Karena letak geografisnya di wilayah yang gersang. Namun kini, potensi wisata di kawasan tersebut  mulai dilirik.

Pengembangan kawasan Bukit Sosogan, tak lepas dari kesuksesan gelaran event yang digelar pemerintah pusat, belum lama ini. Setelah hajatan tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Rejosari mulai tergerak untuk membenahi kawasan itu. Harapannya, ke depan ikut menyangga perekonomian warga sekitar.

“Awalnya hanya bukit kecil. Masuk aset tanah kas desa. Dan kami melihat sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu venue pertunjukan. Maka kami bersama tokoh masyarakat sekitar, menyepakati lokasi tersebut dikembangkan menjadi tempat wisata,” kata Kepala Desa (Kades) Rejosari Agus Supadiyono.

Agus menambahkan, Bukit Sosogan ditunjang pemandangan indah dan masih alami. Kawasan yang gersang, perlahan dipercantik. Diubah agar mampu menjadi magnet bagi wisatawan. Salah satunya sebagai lokasi pertunjukan seni budaya. Baik menonjolkan seni budaya asli desa, maupun Bumi Intanpari.

Selain itu, pemdes juga memperbaiki akses menuju Bukit Sosogan. Jalanan desa yang dulunya rusak, mulai dipermulus. Melalui percepatan pembangunan infrastruktur. Termasuk membentuk badan usaha milik desa (BUMDes), yang dipercaya mengelola kawasan Bukit Sosogan.

“Setelah ada kesepakatan dengan warga, lahan seluas kurang lebih 3,6 hektare ini mulai kami kembangkan. Tepat di depan Bukit Sosogan, kami bangun panggung sebagai tempat pertunjukan seni budaya,” imbuh kades.

Selain itu, kawasan ini juga dilengkapi dengan selter kuliner yang mengelilingi panggung pertunjukan. Termasuk pembangunan pendopo, yang bisa digunakan sebagai tempat pertemuan warga.

“Jadi kalau wisatawan datang, bisa melihat pemandangan bukit di sekitar Kampung Purba. Di sana juga kami lengkapi dengan tempat menggelar pertemuan. Panggung untuk konser pertunjukan juga mumpuni, karena lokasinya luas. Paling sering biasanya dijadikan sebagai lokasi berkemah,” paparnya.

Agus mengakui, sejauh ini pemdes masih fokus pengembangan Bukit Sosogan. Kebetulan, cukup banyak investor yang melirik kawasan ini. Terutama beberapa perusahaan dan komunitas besar di eks Karesidenan Surakarta.

“Pihak kementerian sudah datang melihat. Kemudian dari beberapa partai politik (parpol) di Solo juga sudah mengadakan kegiatan di sini. Mereka ikut membantu pengembangan Bukit Sosogan,” papar kades.

Sementara itu, pemdes bersama tokoh seniman sedang getol mengembangkan tarian khas Desa Rejosari, yakni Babat Punokawan. Tarian ini menggambarkan sejarah kehidupan masyarakat di masa lampau.

“Kami mengembangkan tarian ini, supaya wisatawan tak sekadar refreshing. Tapi juga kami edukasi terkait seni budaya khas Desa Rejosari. Selain itu kami juga menyediakan fasilitas tur naik Jeep,” tandasnya. (rud/fer)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/