alexametrics
25.5 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Potensi Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar

Desa Gaum, Kembangkan Sentra Kuliner dan Taman Anggrek

RADARSOLO.ID – Nama Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu terkerek, seiring munculnya sentra kuliner di sana. Memanfaatkan bangunan bekas Pasar Beji yang lama mangkrak. Disulap jadi Pasar Gaum Garden (Pagaga).

Cukup banyak potensi yang bisa digali di Desa Gaum. Mulai dari perdagangan, pertanian, seni dan budaya, serta keagamaan. Seluruh potensi ini coba dikembangkan pemerintah desa setempat. Melalui badan usaha milik desa (BUMDes).

Pengembangan paling mencolok, yakni Pagaga. Bangunan Pasar Beji yang sudah belasan tahun mangkrak, dipercantik menjadi resto dan cafe. Sangat nyaman dan cozzy digunakan untuk menghabiskan malam bersama keluarga, kolega, atau pasangan tercinta.

TEMPAT BERSANTAI: Kondisi kios kuliner di Pagaga. (ISTIMEWA)

“Jujur, awalnya saya malu melihat kondisi bekas Pasar Beji yang tepat berada di pinggir jalan ring road Kabupaten Karanganyar. Terlihat kumuh dan tidak terawat. Banyak ditumbuhi ilalang. Akhirnya saya tergugah untuk mengembangkan sentra kuliner di sana,” kata Kepala Desa (Kades) Gaum Edi Susanto, kemarin (8/10).

Revitalisasi Pasar Beji menjadi Pagaga, berawal dari terpilihnya Edi sebagai kades, per 2019 silam. Dia berani mengucurkan anggaran dana desa (DD) Rp 40 juta untuk proyek Pagaga. Berdiri di atas lahan seluas 4.000 meter persegi.

Padahal sebelum direvitalisasi, kondisi eks Pasar beji cukup memprihatinkan. Bahkan, masyarakat sekitar tidak ada yang berani mendekat. Karena dipercaya, lokasi tersebut angker.

“Setelah digarap, sekarang jadi tempat nongkrong sembari menikmati kuliner. Suasananya tenang. Harga makanan dan minumannya terjangkau, tetapi dengan penampilan resto,” imbuh kades.

Tak sekadar mengembangkan sentra kuliner. Edi yang memiliki hobi bersepeda tersebut, juga pengembangan potensi di bidang pertanian dan perkebunan. Tanah kas desa yang mangkrak, tak jauh dari Pagaga, dikembangkan sebagai taman bunga anggrek.

PERAWATAN: Taman anggrek di kompleks Pagaga. (ISTIMEWA)

Edi berharap, masyarakat Desa Gaum juga bisa merasakan pengembangan seluruh potensi yang ada. Tidak hanya dimonopoli pemerintah desa setempat. Baik dengan membuka wisata kuliner baru, maupun budi daya anggrek.

“Kami mulai kembangkan beberapa tanaman hias, seperti bunga anggrek. Kami tanam di pot. Kalau budi daya berhasil, akan kami jual. Dan hasilnya nanti bisa untuk modal bagi masyarakat yang ingin membudi daya anggrek,” tandasnya. (rud/fer/dam)

RADARSOLO.ID – Nama Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu terkerek, seiring munculnya sentra kuliner di sana. Memanfaatkan bangunan bekas Pasar Beji yang lama mangkrak. Disulap jadi Pasar Gaum Garden (Pagaga).

Cukup banyak potensi yang bisa digali di Desa Gaum. Mulai dari perdagangan, pertanian, seni dan budaya, serta keagamaan. Seluruh potensi ini coba dikembangkan pemerintah desa setempat. Melalui badan usaha milik desa (BUMDes).

Pengembangan paling mencolok, yakni Pagaga. Bangunan Pasar Beji yang sudah belasan tahun mangkrak, dipercantik menjadi resto dan cafe. Sangat nyaman dan cozzy digunakan untuk menghabiskan malam bersama keluarga, kolega, atau pasangan tercinta.

TEMPAT BERSANTAI: Kondisi kios kuliner di Pagaga. (ISTIMEWA)

“Jujur, awalnya saya malu melihat kondisi bekas Pasar Beji yang tepat berada di pinggir jalan ring road Kabupaten Karanganyar. Terlihat kumuh dan tidak terawat. Banyak ditumbuhi ilalang. Akhirnya saya tergugah untuk mengembangkan sentra kuliner di sana,” kata Kepala Desa (Kades) Gaum Edi Susanto, kemarin (8/10).

Revitalisasi Pasar Beji menjadi Pagaga, berawal dari terpilihnya Edi sebagai kades, per 2019 silam. Dia berani mengucurkan anggaran dana desa (DD) Rp 40 juta untuk proyek Pagaga. Berdiri di atas lahan seluas 4.000 meter persegi.

Padahal sebelum direvitalisasi, kondisi eks Pasar beji cukup memprihatinkan. Bahkan, masyarakat sekitar tidak ada yang berani mendekat. Karena dipercaya, lokasi tersebut angker.

“Setelah digarap, sekarang jadi tempat nongkrong sembari menikmati kuliner. Suasananya tenang. Harga makanan dan minumannya terjangkau, tetapi dengan penampilan resto,” imbuh kades.

Tak sekadar mengembangkan sentra kuliner. Edi yang memiliki hobi bersepeda tersebut, juga pengembangan potensi di bidang pertanian dan perkebunan. Tanah kas desa yang mangkrak, tak jauh dari Pagaga, dikembangkan sebagai taman bunga anggrek.

PERAWATAN: Taman anggrek di kompleks Pagaga. (ISTIMEWA)

Edi berharap, masyarakat Desa Gaum juga bisa merasakan pengembangan seluruh potensi yang ada. Tidak hanya dimonopoli pemerintah desa setempat. Baik dengan membuka wisata kuliner baru, maupun budi daya anggrek.

“Kami mulai kembangkan beberapa tanaman hias, seperti bunga anggrek. Kami tanam di pot. Kalau budi daya berhasil, akan kami jual. Dan hasilnya nanti bisa untuk modal bagi masyarakat yang ingin membudi daya anggrek,” tandasnya. (rud/fer/dam)

Populer

Berita Terbaru