alexametrics
31.4 C
Surakarta
Monday, 4 July 2022

Jujukan Goweser hingga Pemancing

Waduk Kembangan di Sragen, Tempat Nyaman dan Irit Buat Bersantai

SRAGEN – Wilayah Kabupaten Sragen memiliki banyak waduk yang sejatinya untuk pasokan kebutuhan air pertanian. Namun pada umumnya waduk juga menjadi jujukan bagi warga yang ingin melepas penat. Salah satunya waduk Kembangan di Desa Mojorejo, Kecamatan Karangmalang.

Selain Waduk Kedung Ombo (WKO) yang sudah dikenal karena cukup luas dan memiliki ragam cerita, Sragen juga punya Waduk Kembangan. Tidak seluas WKO dan lokasinya cukup tersembunyi, namun bagi pecinta petualangan, ini menjadi salah satu lokasi yang layak untuk disinggahi.

Jaraknya cukup terjangkau dari pusat kota Sragen, hanya 20 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor atau sekitar 10 kilometer. Biasanya pada waktu-waktu tertentu seperti akhir pekan, waduk Kembangan menjadi tujuan rombongan gowes.

Pada umumnya mereka berniat melihat untuk olah raga sambil menikmati indahnya pemandangan Gunung Lawu di seberang bendungan. Rombongan pesepeda juga tampak melepas dahaga menikmati jajanan di pinggir bendungan. Beberapa pedagang menjajakan kopi dan makanan ringan seperti gorengan. Harga makanan dan minum pun wajar dan terjangkau karena memang masyarakat sekitar yang berdagang.

Selain itu Waduk Kembangan juga diminati para pemancing. Tak jarang pemancing menyalurkan hobinya ke waduk yang cukup kaya dengan beragam jenis ikan ini. Namun menurut beberapa pemancing, pada waktu-waktu tertentu ikan di waduk kembangan ogah makan umpan.

Namun kembali sesuai fungsinya, Waduk Kembangan ini memang bukan dikelola untuk tempat wisata. Sehingga tidak ada perahu keliling di sekitar area waduk. Sejauh ini dikelola Dirjen Sumberdaya Air Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Dengan luas 13,4 hektare, kondisi volume air di Waduk Kembangan cukup melimpah.

Lantas, Waduk Kembangan juga kerap dijadikan lokasi latihan untuk anggota SAR dalam penanganan banjir. Karena pertimbangan lokasi dan jarak dengan wilayah perkotaan tidak jauh.

Suminem, warga Kembangan, Desa Mojorejo mengungkapkan, akhir-akhir ini semakin banyak orang yang berkunjung ke Waduk Kembangan. Baik menggunakan sepeda motor maupun rombongan gowes pada akhir pekan.

”Banyak yang sepedaan kesini, cukup ramai lah sekarang ini,” ujarnya.

Bahkan jalan di atas tanggul yang dulu bisa dilintasi sepeda motor, setahun terakhir ditutup dengan portal. Pihak pengelola mempertimbangkan ketahanan tanggul agar tidak cepat rusak. Hanya sepeda yang diizinkan melintas.

”Sekitar setahun ini ditutup portal, lagian jalannya juga jelek,” ujar pedagang nasi tumpang di sekitar Waduk Kembangan ini. (din/adi/dam)

SRAGEN – Wilayah Kabupaten Sragen memiliki banyak waduk yang sejatinya untuk pasokan kebutuhan air pertanian. Namun pada umumnya waduk juga menjadi jujukan bagi warga yang ingin melepas penat. Salah satunya waduk Kembangan di Desa Mojorejo, Kecamatan Karangmalang.

Selain Waduk Kedung Ombo (WKO) yang sudah dikenal karena cukup luas dan memiliki ragam cerita, Sragen juga punya Waduk Kembangan. Tidak seluas WKO dan lokasinya cukup tersembunyi, namun bagi pecinta petualangan, ini menjadi salah satu lokasi yang layak untuk disinggahi.

Jaraknya cukup terjangkau dari pusat kota Sragen, hanya 20 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor atau sekitar 10 kilometer. Biasanya pada waktu-waktu tertentu seperti akhir pekan, waduk Kembangan menjadi tujuan rombongan gowes.

Pada umumnya mereka berniat melihat untuk olah raga sambil menikmati indahnya pemandangan Gunung Lawu di seberang bendungan. Rombongan pesepeda juga tampak melepas dahaga menikmati jajanan di pinggir bendungan. Beberapa pedagang menjajakan kopi dan makanan ringan seperti gorengan. Harga makanan dan minum pun wajar dan terjangkau karena memang masyarakat sekitar yang berdagang.

Selain itu Waduk Kembangan juga diminati para pemancing. Tak jarang pemancing menyalurkan hobinya ke waduk yang cukup kaya dengan beragam jenis ikan ini. Namun menurut beberapa pemancing, pada waktu-waktu tertentu ikan di waduk kembangan ogah makan umpan.

Namun kembali sesuai fungsinya, Waduk Kembangan ini memang bukan dikelola untuk tempat wisata. Sehingga tidak ada perahu keliling di sekitar area waduk. Sejauh ini dikelola Dirjen Sumberdaya Air Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Dengan luas 13,4 hektare, kondisi volume air di Waduk Kembangan cukup melimpah.

Lantas, Waduk Kembangan juga kerap dijadikan lokasi latihan untuk anggota SAR dalam penanganan banjir. Karena pertimbangan lokasi dan jarak dengan wilayah perkotaan tidak jauh.

Suminem, warga Kembangan, Desa Mojorejo mengungkapkan, akhir-akhir ini semakin banyak orang yang berkunjung ke Waduk Kembangan. Baik menggunakan sepeda motor maupun rombongan gowes pada akhir pekan.

”Banyak yang sepedaan kesini, cukup ramai lah sekarang ini,” ujarnya.

Bahkan jalan di atas tanggul yang dulu bisa dilintasi sepeda motor, setahun terakhir ditutup dengan portal. Pihak pengelola mempertimbangkan ketahanan tanggul agar tidak cepat rusak. Hanya sepeda yang diizinkan melintas.

”Sekitar setahun ini ditutup portal, lagian jalannya juga jelek,” ujar pedagang nasi tumpang di sekitar Waduk Kembangan ini. (din/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/