alexametrics
27.4 C
Surakarta
Sunday, 22 May 2022

Ada Bendungan Logung, Warga Penambang Pasir Alih Profesi Jadi Pelaku Wisata

KUDUS – Bendungan Logung yang berada di perbatasan Desa Kandangmas dan Tanjungrejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata andalan desa. Dengan potensi pariwisata yang tinggi, bahkan warga desa yang dulunya bekerja menambang pasir kini beralih menjadi pelaku wisata.

Bendungan Logung mulai dibangun sejak 2014 dan diresmikan pada 2018. Bendungan itu memiliki pesona alam yang indah. Panorama bebukitan yang mengelilingi telaga, dapat memanjakan mata. Keindahan itu menjadi magnet wisata yang dikembangkan masyarakat sekitar, terutama  Desa Kandangmas.

Ramidi, bagian keamanan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Kandangas menuturkan, Kandangmas saat ini telah dinobatkan sebagai desa wisata. Hal itu lantaran adanya Bendungan Logung di desanya.

“Alhamdulillah, saat ini karena ada Bendungan Logung yang ada di wilayah Kudus, masyarakat yang dulunya menambang pasir sekarang punya wisata,”ujarnya, Selasa (15/3).

Bukan hanya penambang pasir yang berpindah haluan menjadi pelaku wisata, masyarakat setempat juga mulai membuka usaha kuliner di sekitar lokasi wisata. Tentu, kondisi tersebut mampu meningkatkan perekonimian masyarakat.

“Sekarang ada yang membuka warung. Ini sangat membantu masyarakat yang tadinya tidak ada penghasilan,” papar Ramidi.

Bahkan, keberadaan Bendungan Logung juga mampu mengangkat berbagai potensi desa. Seperti UMKM gula merah, wisata alam, dan wisata religi.

Sementara Ketua Pokdarwis Desa Kandangmas, Sabari menuturkan, wisatawan dapat menikmati keindahan panorama Bendungan Logung dengan menaiki perahu atau speedboat.

“Tarif naik perahu Rp 15 ribu sampai Rp 17 ribu. Tapi kalau speedboat di antara Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu, itu bisa dinaiki tiga sampai empat orang,” jelas Sabari.

Wisatawan yang datang ke Bendungan Logung bukan hanya dari kalangan lokal. Namun juga wisatawan luar daerah. Dikatakan Sabari, sebelum pandemi bendungan tersebut dikunjungi lebih dari 1.000 wisatawan per hari.

“Kalau sekarang jumlah pengunjungh memang naik-turun. Sebab, belum buka 100 persen karena masih pandemi,” ungkapnya.

Keberadaan Kandangmas sebagai desa wisata rintisan juga telah mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Kita pernah menerima bantuan keuangan dari provinsi sebesar Rp 100 juta untuk pegembangan wisata di sini. Dan, saat ini masih akan terus kita kembangkan,” ucap Sabari.

Selain sebagai pariwisata, Bendungan Logung juga bermanfaat untuk mengurangi debit air Sungai Logung dan mencegah potensi banjir di sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus. Keberadaan bendungan juga digunakan sebagai irigasi lahan pertanian seluas 2.821 hektare yang memungkinkan kegiatan pertanian dilakukan sepanjang tahun.

Air dari bendungan ini menyediakan sumber air bersih masyarakat di Kabupaten Kudus dengan kapasitas penyediaan rata-rata 200 liter per detik. Pemanfaatan lainnya yaitu untuk menggerakkan turbin sehingga menghasilkan energi listrik dengan potensi mencapai 0,5 mw. (bay/ria)

KUDUS – Bendungan Logung yang berada di perbatasan Desa Kandangmas dan Tanjungrejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata andalan desa. Dengan potensi pariwisata yang tinggi, bahkan warga desa yang dulunya bekerja menambang pasir kini beralih menjadi pelaku wisata.

Bendungan Logung mulai dibangun sejak 2014 dan diresmikan pada 2018. Bendungan itu memiliki pesona alam yang indah. Panorama bebukitan yang mengelilingi telaga, dapat memanjakan mata. Keindahan itu menjadi magnet wisata yang dikembangkan masyarakat sekitar, terutama  Desa Kandangmas.

Ramidi, bagian keamanan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Kandangas menuturkan, Kandangmas saat ini telah dinobatkan sebagai desa wisata. Hal itu lantaran adanya Bendungan Logung di desanya.

“Alhamdulillah, saat ini karena ada Bendungan Logung yang ada di wilayah Kudus, masyarakat yang dulunya menambang pasir sekarang punya wisata,”ujarnya, Selasa (15/3).

Bukan hanya penambang pasir yang berpindah haluan menjadi pelaku wisata, masyarakat setempat juga mulai membuka usaha kuliner di sekitar lokasi wisata. Tentu, kondisi tersebut mampu meningkatkan perekonimian masyarakat.

“Sekarang ada yang membuka warung. Ini sangat membantu masyarakat yang tadinya tidak ada penghasilan,” papar Ramidi.

Bahkan, keberadaan Bendungan Logung juga mampu mengangkat berbagai potensi desa. Seperti UMKM gula merah, wisata alam, dan wisata religi.

Sementara Ketua Pokdarwis Desa Kandangmas, Sabari menuturkan, wisatawan dapat menikmati keindahan panorama Bendungan Logung dengan menaiki perahu atau speedboat.

“Tarif naik perahu Rp 15 ribu sampai Rp 17 ribu. Tapi kalau speedboat di antara Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu, itu bisa dinaiki tiga sampai empat orang,” jelas Sabari.

Wisatawan yang datang ke Bendungan Logung bukan hanya dari kalangan lokal. Namun juga wisatawan luar daerah. Dikatakan Sabari, sebelum pandemi bendungan tersebut dikunjungi lebih dari 1.000 wisatawan per hari.

“Kalau sekarang jumlah pengunjungh memang naik-turun. Sebab, belum buka 100 persen karena masih pandemi,” ungkapnya.

Keberadaan Kandangmas sebagai desa wisata rintisan juga telah mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Kita pernah menerima bantuan keuangan dari provinsi sebesar Rp 100 juta untuk pegembangan wisata di sini. Dan, saat ini masih akan terus kita kembangkan,” ucap Sabari.

Selain sebagai pariwisata, Bendungan Logung juga bermanfaat untuk mengurangi debit air Sungai Logung dan mencegah potensi banjir di sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus. Keberadaan bendungan juga digunakan sebagai irigasi lahan pertanian seluas 2.821 hektare yang memungkinkan kegiatan pertanian dilakukan sepanjang tahun.

Air dari bendungan ini menyediakan sumber air bersih masyarakat di Kabupaten Kudus dengan kapasitas penyediaan rata-rata 200 liter per detik. Pemanfaatan lainnya yaitu untuk menggerakkan turbin sehingga menghasilkan energi listrik dengan potensi mencapai 0,5 mw. (bay/ria)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/