alexametrics
31.4 C
Surakarta
Monday, 4 July 2022

Desa Juron di Kecamatan Nguter Bersolek: Sediakan Bus Cafe hingga Mini Golf

SUKOHARJO – Desa Juron, Kecamatan Nguter, Sukoharjo dikenal sebagai kampungnya kaum boro. Banyak warganya yang merantau, lantaran letak geografisnya cukup tandus. Kini, oleh pemerintah desa (pemdes) setempat, kawasan tersebut disulap menjadi jujugan wisatawan.

Hampir 70 persen warga Desa Juron merantau keluar kota. Mereka memilih mengais rezeki di kota-kota besar. Di antaranya kawasan Jabodetabek, hingga Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Mereka mayoritas merintis usaha di bidang kuliner. Ada yang jualan bakso, mi ayam, jamu, aneka es, dan sebagainya.

Dikenal sebagai kampungnya kaum boro, sampai-sampai dibangunkan monumen khusus pada 2003. Berupa patung penjual angkringan, yang menandakan perjuangan warga setempat dalam mengais rezeki di luar daerah. Monumen tersebut dibangun Bupati Sukoharjo saat itu Bambang Riyanto.

Bisa dimaklumi banyak warga Desa Juron yang pilih meninggalkan desanya. Karena tanah di sana cukup gersang. Kurang cocok untuk pertanian maupun perkebunan.

Terhitung mulai 2014, wajah Desa Juron berubah. Setelah dibangun sebuah embung yang di tengahnya terdapat pulau mini oleh pemdes setempat. Dinamai Sendang Sumurup. Lokasinya bersebelahan dengan embung yang dibangun Pemkab Sukoharjo, di era kepemimpinan Wardoyo Wijaya.

“Pemerintah desa cukup berhasil melakukan sinergi dengan pemerintah, perantau, dan masyarakat. Salah satunya mengubah tanah kas desa yang gersang, menjadi obyek wisata yang menawan. Menempati lahan seluas 4 hektare,” ungkap Kepala Desa (Kades) Juron Sarbini Sigit Budiyanto, Jumat (17/6).

Sebagai ikon wisata baru di kawasan Sukoharjo sisi selatan, Sarbini berharap Sendang Sumurup mampu menjadi magnet wisatawan. Maka, berbagai sarana dan prasarana (sarpras) penunjang terus dibangun. Di antaranya taman, gazebo, lapangan golf mini, termasuk pusat kuliner di tepian embung.

“Kami juga berencana membangun museum pertanian dan peralatan memasak nusantara. Museum pertanian nusantara berbentuk kendi. Di museum ini, terdapat beragam peralatan pertanian tradisional hingga modern. Kalau museum peralatan memasak nusantara berbentuk dandang atau periuk,” imbuhnya.

Pembangunan sarpras ini baru dimulai sejak 2018. Memanfaatkan anggaran dana desa. Selain itu, juga mendapat pemihakan dari pemerintah. Berupa bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Sukoharjo. Termasuk bantuan dari para perantau yang telah sukses.

“Proses pembangunan kawasan wisata Sendang Sumurup baru 60 persen. Kolam renang, waterboom, dan taman masih proses pengerjaan,” beber kades.

Saat ini, sejumlah fasilitas yang bisa dinikmati wisatawan, di antaranya pemancingan, embung untuk wisata air, lapangan golf mini, menara pandang, bus cafe, dan pendapa. Termasuk deretan food court berbentuk gazebo dari bambu, yang siap memanjakan lidah para pengunjung.

“Sementara ini belum ada tiket masuk. Wisatawan cukup memberi seikhlasnya. Itupun hasilnya masih digunakan untuk operasional. Ke depan akan dikelola BUMDes (badan usaha milik desa). Pembagiannya 70 persen untuk BUMDes dan 30 persen masuk PADes (pendapatan asli desa),” tandas kades. (kwl/fer/dam)

SUKOHARJO – Desa Juron, Kecamatan Nguter, Sukoharjo dikenal sebagai kampungnya kaum boro. Banyak warganya yang merantau, lantaran letak geografisnya cukup tandus. Kini, oleh pemerintah desa (pemdes) setempat, kawasan tersebut disulap menjadi jujugan wisatawan.

Hampir 70 persen warga Desa Juron merantau keluar kota. Mereka memilih mengais rezeki di kota-kota besar. Di antaranya kawasan Jabodetabek, hingga Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Mereka mayoritas merintis usaha di bidang kuliner. Ada yang jualan bakso, mi ayam, jamu, aneka es, dan sebagainya.

Dikenal sebagai kampungnya kaum boro, sampai-sampai dibangunkan monumen khusus pada 2003. Berupa patung penjual angkringan, yang menandakan perjuangan warga setempat dalam mengais rezeki di luar daerah. Monumen tersebut dibangun Bupati Sukoharjo saat itu Bambang Riyanto.

Bisa dimaklumi banyak warga Desa Juron yang pilih meninggalkan desanya. Karena tanah di sana cukup gersang. Kurang cocok untuk pertanian maupun perkebunan.

Terhitung mulai 2014, wajah Desa Juron berubah. Setelah dibangun sebuah embung yang di tengahnya terdapat pulau mini oleh pemdes setempat. Dinamai Sendang Sumurup. Lokasinya bersebelahan dengan embung yang dibangun Pemkab Sukoharjo, di era kepemimpinan Wardoyo Wijaya.

“Pemerintah desa cukup berhasil melakukan sinergi dengan pemerintah, perantau, dan masyarakat. Salah satunya mengubah tanah kas desa yang gersang, menjadi obyek wisata yang menawan. Menempati lahan seluas 4 hektare,” ungkap Kepala Desa (Kades) Juron Sarbini Sigit Budiyanto, Jumat (17/6).

Sebagai ikon wisata baru di kawasan Sukoharjo sisi selatan, Sarbini berharap Sendang Sumurup mampu menjadi magnet wisatawan. Maka, berbagai sarana dan prasarana (sarpras) penunjang terus dibangun. Di antaranya taman, gazebo, lapangan golf mini, termasuk pusat kuliner di tepian embung.

“Kami juga berencana membangun museum pertanian dan peralatan memasak nusantara. Museum pertanian nusantara berbentuk kendi. Di museum ini, terdapat beragam peralatan pertanian tradisional hingga modern. Kalau museum peralatan memasak nusantara berbentuk dandang atau periuk,” imbuhnya.

Pembangunan sarpras ini baru dimulai sejak 2018. Memanfaatkan anggaran dana desa. Selain itu, juga mendapat pemihakan dari pemerintah. Berupa bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Sukoharjo. Termasuk bantuan dari para perantau yang telah sukses.

“Proses pembangunan kawasan wisata Sendang Sumurup baru 60 persen. Kolam renang, waterboom, dan taman masih proses pengerjaan,” beber kades.

Saat ini, sejumlah fasilitas yang bisa dinikmati wisatawan, di antaranya pemancingan, embung untuk wisata air, lapangan golf mini, menara pandang, bus cafe, dan pendapa. Termasuk deretan food court berbentuk gazebo dari bambu, yang siap memanjakan lidah para pengunjung.

“Sementara ini belum ada tiket masuk. Wisatawan cukup memberi seikhlasnya. Itupun hasilnya masih digunakan untuk operasional. Ke depan akan dikelola BUMDes (badan usaha milik desa). Pembagiannya 70 persen untuk BUMDes dan 30 persen masuk PADes (pendapatan asli desa),” tandas kades. (kwl/fer/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/