alexametrics
31.4 C
Surakarta
Monday, 4 July 2022

Keunikan Candi Sewu Klaten: Arsitektur Klasik Peninggalan Abad-8

KLATEN – Kabupaten Klaten tak hanya dikenal dengan banyaknya wisata air, tetapi juga mempunyai berbagai candi yang begitu megah. Salah satunya Candi Sewu di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan.

Candi bercorak agama Buddha itu berada di kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan. Candi Sewu menjadi candi Budhha terbesar kedua di Indonesia setelah Candi Borobudur di Magelang. Bagi wisatawan yang hendak menelusuri kemegahan dari candi dengan sebutan Manjusrighra itu harus merogoh kocek Rp 50.000 per orang bagi usia 10 tahun ke atas. Sedangkan di bawah 10 tahun cukup membayar tiket Rp 25.000 per orang.

Meskipun masih satu kompleks, jarak antara Candi Prambanan ke Candi Sewu cukup jauh. Wisatawan pun bisa menaiki mobil listrik dengan membayar sekitar Rp 20.000 per orang. Bisa juga menyewa sepeda hingga berjalan kaki.

Ada pun pintu masuk dari candi tersebut berada di empat penjuru mata angin. Meski begitu, pintu masuk utama berada di sisi timur. Setiap pintu masuk dikawal oleh sepasang arca Dwarapala yang menyambut kedatangan wisatawan saat memasuki kompleks candi tersebut.

Candi Sewu diperkirakan dibangun pada abad ke-8 atas perintah penguasa Kerajaan Mataram Rakai Panangkaran. Memiliki satu candi induk, 240 candi perwara dan empat pasang candi apit. Beberapa bagian candi perwara saat ini kondisinya tidak utuh lagi. Tetapi tetap menarik untuk ditelusuri sejarahnya.

”Candi Sewu termasuk unik. Meski disebut sewu (seribu) tetapi jumlahnya tak sampai seribu candinya. Apalagi bentuk, model, dan gaya bangunan terutama candi induk seperti yang kita temukan di negara Myanmar dan Kamboja. Terdapat bentuk kubah di bagian atasnya,” ucap Humas Komunitas Pemerhati Cagar Budaya (KPCB) Klaten Hari Wahyudi, Jumat (20/5).

JUJUGAN STUDI SEJARAH: Banyak wisatawan yang sekadar ingin refreshing maupun mempelajari ilmu sejarah. (MUHAMMAD IHSAN/RADAR SOLO)

Hari menambahkan, apabila mencermati secara seksama pada bagian dinding candi induk, tidak terdapat relief yang menceritakan berbagai kisah. Tetapi hanya dalam bentuk polosan tanpa ada pahatan yang merupakan arsitektur khas candi klasik. Sedangkan pada candi perwara terdapat motif sulur dan tumbuh-tumbuhan.

Hari mengungkapkan kelebihan dari Candi Sewu terletak pada pelataran utama dari candi tersebut yang berupa batuan. Hal itu menunjukan jika dahulunya area tersebut hanya boleh dimasuki dari golongan tertentu saja. Kelebihan tersebut tidak ditemukan di candi lainnya karena biasanya berupa tanah.

”Sayang banget kalau datang ke Candi Sewu hanya untuk berswafoto saja. Tetapi juga dengan memahami peninggalan dari nenek moyang kita yang maha luhur ini. Bayangkan saja di abad 8, sudah mendirikan bangunan candi semegah ini yang didirikan oleh kerajaan saat itu,” ucap Hari.

Pada bagian candi induk terdapat sebuah ruangan utama di bagian tengah yang diyakini dahulunya terdapat arca Bodhisattwa Manjusri atau Buddha berbahan perunggu. Tetapi saat ditemukan oleh para ahli dari Belanda pada 1804 sudah dalam keadaan kosong. Meski begitu, tak menghilangkan fungsi Candi Sewu digunakan sebagai tempat ibadah dan ritual keagamaan umat Buddha hingga saat ini.

”Sebenarnya candi bercorak Buddha di Klaten banyak. Selain Candi Sewu ini ada Candi Lumbung, Candi Gana, Candi Plaosan hingga Candi Sojiwan. Ini yang menandakan jika dahulunya Klaten dianggap sebagai Kota Buddha sekaligus mengindikasikan pusat pemerintahan Rakai Panangkaran ada di wilayah Klaten,” tandasnya. (ren/adi/dam)

KLATEN – Kabupaten Klaten tak hanya dikenal dengan banyaknya wisata air, tetapi juga mempunyai berbagai candi yang begitu megah. Salah satunya Candi Sewu di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan.

Candi bercorak agama Buddha itu berada di kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan. Candi Sewu menjadi candi Budhha terbesar kedua di Indonesia setelah Candi Borobudur di Magelang. Bagi wisatawan yang hendak menelusuri kemegahan dari candi dengan sebutan Manjusrighra itu harus merogoh kocek Rp 50.000 per orang bagi usia 10 tahun ke atas. Sedangkan di bawah 10 tahun cukup membayar tiket Rp 25.000 per orang.

Meskipun masih satu kompleks, jarak antara Candi Prambanan ke Candi Sewu cukup jauh. Wisatawan pun bisa menaiki mobil listrik dengan membayar sekitar Rp 20.000 per orang. Bisa juga menyewa sepeda hingga berjalan kaki.

Ada pun pintu masuk dari candi tersebut berada di empat penjuru mata angin. Meski begitu, pintu masuk utama berada di sisi timur. Setiap pintu masuk dikawal oleh sepasang arca Dwarapala yang menyambut kedatangan wisatawan saat memasuki kompleks candi tersebut.

Candi Sewu diperkirakan dibangun pada abad ke-8 atas perintah penguasa Kerajaan Mataram Rakai Panangkaran. Memiliki satu candi induk, 240 candi perwara dan empat pasang candi apit. Beberapa bagian candi perwara saat ini kondisinya tidak utuh lagi. Tetapi tetap menarik untuk ditelusuri sejarahnya.

”Candi Sewu termasuk unik. Meski disebut sewu (seribu) tetapi jumlahnya tak sampai seribu candinya. Apalagi bentuk, model, dan gaya bangunan terutama candi induk seperti yang kita temukan di negara Myanmar dan Kamboja. Terdapat bentuk kubah di bagian atasnya,” ucap Humas Komunitas Pemerhati Cagar Budaya (KPCB) Klaten Hari Wahyudi, Jumat (20/5).

JUJUGAN STUDI SEJARAH: Banyak wisatawan yang sekadar ingin refreshing maupun mempelajari ilmu sejarah. (MUHAMMAD IHSAN/RADAR SOLO)

Hari menambahkan, apabila mencermati secara seksama pada bagian dinding candi induk, tidak terdapat relief yang menceritakan berbagai kisah. Tetapi hanya dalam bentuk polosan tanpa ada pahatan yang merupakan arsitektur khas candi klasik. Sedangkan pada candi perwara terdapat motif sulur dan tumbuh-tumbuhan.

Hari mengungkapkan kelebihan dari Candi Sewu terletak pada pelataran utama dari candi tersebut yang berupa batuan. Hal itu menunjukan jika dahulunya area tersebut hanya boleh dimasuki dari golongan tertentu saja. Kelebihan tersebut tidak ditemukan di candi lainnya karena biasanya berupa tanah.

”Sayang banget kalau datang ke Candi Sewu hanya untuk berswafoto saja. Tetapi juga dengan memahami peninggalan dari nenek moyang kita yang maha luhur ini. Bayangkan saja di abad 8, sudah mendirikan bangunan candi semegah ini yang didirikan oleh kerajaan saat itu,” ucap Hari.

Pada bagian candi induk terdapat sebuah ruangan utama di bagian tengah yang diyakini dahulunya terdapat arca Bodhisattwa Manjusri atau Buddha berbahan perunggu. Tetapi saat ditemukan oleh para ahli dari Belanda pada 1804 sudah dalam keadaan kosong. Meski begitu, tak menghilangkan fungsi Candi Sewu digunakan sebagai tempat ibadah dan ritual keagamaan umat Buddha hingga saat ini.

”Sebenarnya candi bercorak Buddha di Klaten banyak. Selain Candi Sewu ini ada Candi Lumbung, Candi Gana, Candi Plaosan hingga Candi Sojiwan. Ini yang menandakan jika dahulunya Klaten dianggap sebagai Kota Buddha sekaligus mengindikasikan pusat pemerintahan Rakai Panangkaran ada di wilayah Klaten,” tandasnya. (ren/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/