alexametrics
33.5 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Saat Suro dan Ruwah, Bisa Ribuan Peziarah

Wisata Religi Makam Sunan Pandanaran di Kabupaten Klaten

KLATEN – Sosoknya tak setenar para tokoh yang menjadi bagian dari Wali Songo. Tetapi dia sangat dihormati. Dia adalah Ki Ageng Pandanaran atau yang dikenal dengan Sunan Pandanaran. Seorang Adipati Semarang yang atas petunjuk Sunan Kalijaga meninggalkan Kota Semarang untuk menyiarkan agama Islam. Terutama ke daerah pegunungan bagian selatan yakni Bayat dan sekitarnya.

Kini jejaknya masih bisa dilihat pada Kompleks Makam Sunan Pandanaran di Bukit Jabalkat, Desa Paseban, Bayat, Klaten. Lokasinya berada di ketinggian 860 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kompleks makam itu diperkirakan dibangun semasa pendirian Masjid Agung Demak dan Masjid Menara Kudus pada 1479-1549.

Kompleks Makam Sunan Pandanaran yang dikelola Pemkab Klaten telah menjadi salah satu wisata religi di Kabupaten Klaten. Keberadaannya mampu menarik ribuan peziarah yang datang setiap harinya dari berbagai daerah. Di samping dari Jawa Tengah, juga Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera hingga Kalimantan.

Puncak kedatangan peziarah ke makam Bupati Semarang kedua itu pada saat penanggalan Jawa yakni bulan Suro dan Ruwah. Dari biasanya 1.000-2.000 peziarah bisa sampai 3.000 peziarah dalam sehari. Para peziarah yang hendak masuk ke Kompleks Makam Sunan Pandanaran itu cukup membayar retribusi Rp 2.000 saja.

Sebelum itu, peziarah harus menapaki 300 anak tangga dengan jarak sekitar 300 meter hingga sampai ke puncak. Maka itu diperlukan stamina yang kuat untuk berziarah. Tetapi bagi peziarah lansia bisa memanfaatkan jasa ojek yang berada di depan loket dengan membayar Rp 10.000 setiap kali jalan.

DI ATAS BUKIT: Kompleks Makam Sunan Pandanaran beserta pengikut-pengikutnya. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Bagi peziarah yang menyusuri ratusan anak tangga akan melihat deretan kios yang menawarkan berbagai produk lokal khas Klaten. Mulai dari kaos bertuliskan Sunan Pandanaran hingga gerabah. Meski sebenarnya di area parkir terdapat Pasar Seni Paseban hingga kios yang menjajakan kuliner khas setempat yakni intip.

Ketika nantinya hendak memasuki area Masjid Makam Bayat, peziarah diminta melepas alas kaki dan dititip pada tempat yang disediakan. Peziarah bisa melakukan wudu sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Makam Sunan Pandanaran. Nantinya akan melewati sekitar delapan gapura dengan bentuknya yang khas hingga menemui padasan Kyai Naga.

Hingga akhirnya peziarah akan memasuki sebuah bangunan di dalamnya terdapat Makam Sunan Pandanaran yang berada di dalam cungkup. Termasuk makam dari sejumlah kerabat Sunan Pandanaran yang mengelilinginya. Peziarah diperkenankan untuk mendoakan tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa ini.

Tepat di sekitar bangunan yang terdapat Makam Sunan Pandanaran bisa melihat pemandangan alam Bayat dan sekitar yang begitu hijau. Termasuk kemegahan dari arsitektur kompleks makam tersebut dari ketinggian.

”Kedatangan para peziarah yang cukup banyak ini membuat perekonomian di desa kami terus terdongkrak. Perputaran uangnya bisa sampai ratusan juta. Mengingat pedang dan tukang ojek di Kompleks Makam Sunan Pandanaran merupakan dari warga kami,” jelas Kepala Desa Paseban Al Eko Tri Raharjo, kemarin (29/7).

Lebih lanjut, Eko menyarankan kepada peziarah untuk mengunjungi Pasar Seni Paseban untuk berburu cendera mata yang bisa dijadikan oleh-oleh. Mulai dari kaos anak-anak bertuliskan Sunan Pandanaran, gerabah hingga blangkon dengan berbagai model. Harganya pun cukup terjangkau mulai dari Rp 20 ribu saja.

”Untuk kuliner yang khas ya intip. Ada yang memang berasal dari kerak nasi maupun sudah cetakan. Harganya pun cukup terjangkau mulai dari Rp 3.000 saja,” ucap Eko.

Kedepannya, pengembangan wisata di Desa Paseban dengan menghadirkan wisata petik buah. Terlebih lagi desa tersebut memiliki potensi buah seperti jeruk hingga jambu yang ditanami di tanah kas desa seluas 2 hektare. Lokasinya pun tak jauh dari kompleks Makam Sunan Pandanaran.

”Hampir 50 persen warga kami perekonomiannya menggantungkan dari perputaran Kompleks Makam Sunan Pandanaran. Mulai dari menjadi pedagang hingga tukang ojek. Total jumlah penduduk desa kami terdapat 5.700 jiwa,” tandasnya. (ren/adi/dam)

KLATEN – Sosoknya tak setenar para tokoh yang menjadi bagian dari Wali Songo. Tetapi dia sangat dihormati. Dia adalah Ki Ageng Pandanaran atau yang dikenal dengan Sunan Pandanaran. Seorang Adipati Semarang yang atas petunjuk Sunan Kalijaga meninggalkan Kota Semarang untuk menyiarkan agama Islam. Terutama ke daerah pegunungan bagian selatan yakni Bayat dan sekitarnya.

Kini jejaknya masih bisa dilihat pada Kompleks Makam Sunan Pandanaran di Bukit Jabalkat, Desa Paseban, Bayat, Klaten. Lokasinya berada di ketinggian 860 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kompleks makam itu diperkirakan dibangun semasa pendirian Masjid Agung Demak dan Masjid Menara Kudus pada 1479-1549.

Kompleks Makam Sunan Pandanaran yang dikelola Pemkab Klaten telah menjadi salah satu wisata religi di Kabupaten Klaten. Keberadaannya mampu menarik ribuan peziarah yang datang setiap harinya dari berbagai daerah. Di samping dari Jawa Tengah, juga Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera hingga Kalimantan.

Puncak kedatangan peziarah ke makam Bupati Semarang kedua itu pada saat penanggalan Jawa yakni bulan Suro dan Ruwah. Dari biasanya 1.000-2.000 peziarah bisa sampai 3.000 peziarah dalam sehari. Para peziarah yang hendak masuk ke Kompleks Makam Sunan Pandanaran itu cukup membayar retribusi Rp 2.000 saja.

Sebelum itu, peziarah harus menapaki 300 anak tangga dengan jarak sekitar 300 meter hingga sampai ke puncak. Maka itu diperlukan stamina yang kuat untuk berziarah. Tetapi bagi peziarah lansia bisa memanfaatkan jasa ojek yang berada di depan loket dengan membayar Rp 10.000 setiap kali jalan.

DI ATAS BUKIT: Kompleks Makam Sunan Pandanaran beserta pengikut-pengikutnya. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Bagi peziarah yang menyusuri ratusan anak tangga akan melihat deretan kios yang menawarkan berbagai produk lokal khas Klaten. Mulai dari kaos bertuliskan Sunan Pandanaran hingga gerabah. Meski sebenarnya di area parkir terdapat Pasar Seni Paseban hingga kios yang menjajakan kuliner khas setempat yakni intip.

Ketika nantinya hendak memasuki area Masjid Makam Bayat, peziarah diminta melepas alas kaki dan dititip pada tempat yang disediakan. Peziarah bisa melakukan wudu sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Makam Sunan Pandanaran. Nantinya akan melewati sekitar delapan gapura dengan bentuknya yang khas hingga menemui padasan Kyai Naga.

Hingga akhirnya peziarah akan memasuki sebuah bangunan di dalamnya terdapat Makam Sunan Pandanaran yang berada di dalam cungkup. Termasuk makam dari sejumlah kerabat Sunan Pandanaran yang mengelilinginya. Peziarah diperkenankan untuk mendoakan tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa ini.

Tepat di sekitar bangunan yang terdapat Makam Sunan Pandanaran bisa melihat pemandangan alam Bayat dan sekitar yang begitu hijau. Termasuk kemegahan dari arsitektur kompleks makam tersebut dari ketinggian.

”Kedatangan para peziarah yang cukup banyak ini membuat perekonomian di desa kami terus terdongkrak. Perputaran uangnya bisa sampai ratusan juta. Mengingat pedang dan tukang ojek di Kompleks Makam Sunan Pandanaran merupakan dari warga kami,” jelas Kepala Desa Paseban Al Eko Tri Raharjo, kemarin (29/7).

Lebih lanjut, Eko menyarankan kepada peziarah untuk mengunjungi Pasar Seni Paseban untuk berburu cendera mata yang bisa dijadikan oleh-oleh. Mulai dari kaos anak-anak bertuliskan Sunan Pandanaran, gerabah hingga blangkon dengan berbagai model. Harganya pun cukup terjangkau mulai dari Rp 20 ribu saja.

”Untuk kuliner yang khas ya intip. Ada yang memang berasal dari kerak nasi maupun sudah cetakan. Harganya pun cukup terjangkau mulai dari Rp 3.000 saja,” ucap Eko.

Kedepannya, pengembangan wisata di Desa Paseban dengan menghadirkan wisata petik buah. Terlebih lagi desa tersebut memiliki potensi buah seperti jeruk hingga jambu yang ditanami di tanah kas desa seluas 2 hektare. Lokasinya pun tak jauh dari kompleks Makam Sunan Pandanaran.

”Hampir 50 persen warga kami perekonomiannya menggantungkan dari perputaran Kompleks Makam Sunan Pandanaran. Mulai dari menjadi pedagang hingga tukang ojek. Total jumlah penduduk desa kami terdapat 5.700 jiwa,” tandasnya. (ren/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/