RADARSOLO.COM - Bengawan Solo di era penjajahan merupakan akses yang sangat penting untuk perdagangan.
Terutama hubungan dagang antara Mataram dengan Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) maupun pedagang dari bangsa lain.
Salah satu buktinya adalah perahu besi yang ditemukan di Bengawan Solo sekira 26 tahun lalu di wilayah Desa Karanganyar, Kecamatan Plupuh.
Perahu yang diperkirakan milik VOC ini, kini ditempatkan di Taman Tirtasari Sragen. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen memindahkan perahu tersebut agar lebih terawat dan mudah diakses.
Sebelumnya sejak ditemukan, perahu tersebut berada di tepi Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Desa Karanganyar.
Pasca dipindahkan di Taman Tirtasari Sragen, Pemkab Sragen membuatkan semacam monumen. Kapal tersebut kemudian ditempatkan di bagian atas. Sehingga mudah bagi warga sekitar mengambil foto maupun selfie.
Selain itu, juga diberi catatan agar masyarakat yang singgah paham akan sejarah singkat terkait kapal tersebut.
Sejarah penemuan perahu tersebut saat warga tengah mencari balok kayu untuk membuat masjid di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo pada 1997.
Dan tidak sengaja mereka menemukan bangkai perahu tersebut di dasar Bengawan Solo. Kemudian dibantu anggota kodim dan koramil bangkai perahu tersebut ditarik ke tepian sungai.
Sayangnya setelah beberapa tahun, tidak ada tindak lanjut. Perahu tersebut rentan mengalami kerusakan akibat karat dan korosi.
Hingga pada 2019 lalu, Pemkab Sragen berinisiatif memindahkan penemuan bersejarah ini ke Taman Tirtasari.
Perahu tersebut akhirnya diteliti bersama Dinas Pendidikan dan kebudayaan (Disdikbud) Sragen, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah dan Balai Arkeologi Jogjakarta.
Alhasil, di dalamnya terdapat lubang untuk memasang kemudi. Panjang perahu 8,83 meter, lebar 2,48 meter dan tinggi 0,89 meter. Perahu itu dibuat dari lima plat baja yang lebarnya sekira 20 sentimeter (cm).
Selain itu disimpulkan bahwa teknik konstruksi masih meniru perahu berbahan papan kayu. Perahu ini diasumsikan model pada abad 18 hinga 19 Masehi.
Bentuk dan ukurannya dianalogikan perahu jenis skiff yang populer di Eropa pada abad 18. Kemudian bentuk dan ukurannya memang cenderung digunakan untuk ekspedisi sungai.
Saat mengunjungi lokasi, sayangnya ada bagian monumen yang kurang terawat. Seperti tegel keramik yang sudah pecah dan beberapa bagian lainnya.
Tapi bagi yang penasaran, akses cukup mudah dan hanya membayar parkir Rp 2000 di halaman parkir Taman Tirtasari.
Terkait keberadaan perahu peninggalan VOC ini, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sragen Joko Hendang Murdono menyampaikan, perahu tersebut memiliki nilai sejarah. Karena diperkirakan milik Kompeni Belanda.
”Agar masyarakat yang berkunjung di taman ini bisa mengenal lebih dekat peninggalan sejarah yang ditemukan di wilayah Kabupaten Sragen. Masyarakat tidak lupa dengan perjuangan panjang meraih kemerdekaan,” ujarnya.
Joko menambahkan, keberadaan kapal tersebut juga menambah daya tarik untuk Kabupaten Sragen.
Selain itu ditempatkan di ruang terbuka yang disediakan pemkab Sragen untuk aktivitas yang positif bagi masyarakat.
”Ada satu peninggalan sejarah yang ditempatkan di ruang terbuka juga menambah daya tarik kedua masyarakat biar tahu lebih dekat.” tandasnya. (din/adi)
Editor : Damianus Bram