Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Wisata Klaten : Rowo Jombor Saksi Manisnya Hasil Pabrik Gula Manisharjo dan Kejamnya Romusha

Tri wahyu Cahyono • Sabtu, 25 Mei 2024 | 02:38 WIB
Selain berwisata, Rowo Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten juga bisa digunakan untuk berolahraga.
Selain berwisata, Rowo Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten juga bisa digunakan untuk berolahraga.

RADARSOLO.COM – Tempat ini sudah tak asing bagi warga Kabupaten Klaten. Adalah Rowo Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat.

Sesuai namanya Rowo (Rowo) Jombor adalah Rowo-Rowo yang berada di tengah Desa Krakitan.

Tempat ini menyimpan cerita sejarah sejak zaman Belanda hingga datang penjajah Jepang.

Dikutip dari buku berjudul Cerita-Cerita Legenda di Kabupaten Klaten karya Danang Santosa-Wisnu Aji Nugraha, Rowo Jombor dahulu merupakan dataran rendah berbentuk cekungan luas.

Dikelilingi deretan pegunungan. Kondisi tersebut menyebabkan Rowo Jombor tersebut sering tergenang air, baik pada saat musim hujan maupun musim kemarau.

Pada 1901, Sinuhun Paku Buwono (PB) X dan Pemerintah Belanda mendirikan pabrik gula Manisharjo di Pedan, Klaten.

Untuk memenuhi kebutuhan air guna menyiram tanaman tebu, dibuatlah saluran irigasi dari Rowo Jombor menuju areal perkebunan tebu.

Pembangunan saluran irigasi dimulai pada 1917 dengan cara membuat terowongan sepanjang 1 km.

Melintasi pegunungan yang membentengi Rowo Jombor, serta membuat talang air di atas kali Dengkeng.

Megaproyek tersebut selesai pada 1921. Keindahan pemandangan Rowo Jombor membuat PB X rutin mengunjungi tempat ini.

Hingga akhirnya datang penjajah Jepang. Pabrik gula Manisharjo yang tadinya berjaya, bangkrut.

Pada 1943-1944, Pemerintah Jepang menjadikan Rowo Jombor sebagai waduk dengan membangun tanggul.

Baca Juga: Memberi Makan Rusa di Taman Sriwedari Kota Solo Bisa untuk Melepaskan Penat dari Rutinitas Hidup Yang Memusingkan

Tanggul tersebut dibangun dengan cara kerja paksa alias romusha.

Rampung penjajahan Jepang, Rowo Jombor tetap dimanfaatkan sebagai waduk untuk menampung air irigasi.

Di era Orde Baru 1967-1968, para tahanan politik (tapol) dikerahkan untuk memperbaiki Rowo Jombor.

Tanggul yang awalnya hanya selebar 5 meter, dijadikan 12 meter. (wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Rowo Jombor #pabrik gula #Desa Krakitan #bayat #wisata klaten #sejarah