RADARSOLO.COM – Di balik sunyinya sebuah dusun di lereng Magelang, tersimpan kisah masa lampau yang terlupakan waktu. Situs Candi Secang, yang dikenal pula dengan sebutan Candi Talun, Candisari, Canditalun, Gomblang, atau Gumbulan, menjadi saksi bisu peradaban kuno yang pernah berjaya di tanah Jawa.
Situs Candi Secang berada di Dusun Candi, Desa Candisari, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Situs ini masih menyimpan banyak teka-teki arkeologis era klasik yang belum terpecahkan.
Terletak di atas gundukan tanah kecil di tengah pemukiman, situs ini menyuguhkan atmosfer mistis sekaligus eksotis. Jejak-jejak batu bata kuno berserakan di berbagai sudut dusun, seolah menjadi potongan puzzle yang menanti untuk dirangkai kembali.
Yang paling menarik perhatian adalah keberadaan sebuah struktur batu panjang berbentuk menyerupai yoni, namun tanpa lubang lingga di bagian tengahnya.
Batu ini memiliki ukuran cukup besar: panjang 177 cm, tinggi 68 cm, dan lingkar besar 7 cm. Warga sekitar menyebutnya dengan nama "watu meja", atau meja batu kuno, yang kini menjadi salah satu ikon situs ini.
Tak hanya itu, terdapat pula tiga buah yoni lainnya yang masih dalam kondisi cukup baik.
Dua di antaranya kini berada di tengah kebun milik warga dan menjadi saksi sunyi dari ritual-ritual masa lampau.
Namun sayangnya, keberadaan lingga sebagai pasangannya hingga kini masih misterius—belum ditemukan ataupun diketahui keberadaannya.
Beberapa bagian struktur candi mengalami kerusakan, namun daya tarik situs ini tidak luntur.
Justru, kondisi tersebut menjadi panggilan bagi para arkeolog, pecinta sejarah, dan pelancong budaya untuk datang, menyelami sisa-sisa kejayaan leluhur yang tertanam dalam diam.
Situs Candi Secang bukan hanya destinasi sejarah biasa. Ia adalah pintu gerbang menuju masa lalu, tempat di mana spiritualitas, simbolisme, dan budaya kuno berpadu dalam bentuk batu.
Bagi wisatawan yang haus akan pengalaman berbeda, kunjungan ke sini menjadi pilihan yang tak akan mengecewakan. (nik)
Editor : Niko auglandy