Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Manfaat Tari Sufi, Obat Mujarab Penyakit Ringan

Damianus Bram • Sabtu, 23 April 2022 | 15:45 WIB
PENUH FILOSOFI: Santri dan satriwati Ponpes Nurul Hidayah Boyolali menari sufi di halaman, kemarin sore (22/4). Tarian ini dipercaya mampu mengobati penyakit ringan. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
PENUH FILOSOFI: Santri dan satriwati Ponpes Nurul Hidayah Boyolali menari sufi di halaman, kemarin sore (22/4). Tarian ini dipercaya mampu mengobati penyakit ringan. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
WONOGIRI - Satuan pendidikan, madrasah, hingga pondok pesantren (ponpes), berlomba menggelar kegiatan keagamaan untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan 1443 H. Salah satunya tari sufi di Ponpes Nurul Hidayah Boyolali. Menariknya, tarian khas Turki tersebut mengandung banyak filosofi dan manfaat.

Perform tari sufi digelar di Ponpes Nurul Hidayah, kemarin sore (22/4). Merupakan agenda rutin tahunan di bulan suci Ramadan. Kemarin, 12 santri dan satriwati ponpes setempat memeragakan tari sufi dengan kostum jubah lebar. Di bagian bawah seperti rok yang melebar. Satu lagi ciri khas penarinya, yang pria mengenakan topi panjang yang dikenal dengan nama sikke. Perlambang batu nisa para wali dan sufi.

Tarian yang juga dikenal dengan whirling dervishes ini, memiliki gerakan khas memutar badan dalam jangka waktu lama. Menariknya, para penari tidak merasakan pusing sama sekali. Diiringi alunan lagu, disertai lantunan doa. Gerakan ini dipercaya sebagai bagian dari meditasi, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Tari sufi banyak manfaatnya. Anak yang biasanya sering sakit kepala, migren, dan sesak nafas, langsung sembuh ketika menari,” kata Pimpinan Ponpes Nurul Hidayah Nur Rohman.

Syarat lain dalam menari sufi, penari dituntut untuk tenang, fokus, dan menanggalkan semua beban pikiran. Mata harus focus pada satu titik, senantiasa terbuka, dan pantang melirik. Selain itu, kepala juga tidak boleh bergerak. Inilah kunci mengapa saat berputar dalam waktu lama, penari tidak merasakan pusing.

“Di sini semua santri dan satriwati bisa menari sufi. Mereka bisa karena mayoritas berminat mempelajari,” imbuh Nur.

Pelatih tari suri Ponpes Nurul Hidayah Musa Asyari menambahkan, para santri dan satriwati sering berlatihan di sela jam kosong pelajaran. “Biasanya latihan tiap Jumat dan Ahad (Minggu). Durasinya sekitar 1-1,5 jam secara bertahap,” ujarnya.

Diakui Musa, melatih tari sufi gampang-gampang susah. Tak jarang anak didiknya muntah, pusing, dan mual. Terutama saat pertama kali mencoba. Namun setelah berlatih dua pecan, mereka langsung bisa beradaptasi.

“Tari sufi ini sebagai gambaran mengelilingi Kabah dan Hajar Aswad. Ketika menari, harus melantunkan dzikir dan menyebut asma Allah SWT,” bebernya.

Sementara itu, siswa kelas X Madrasah Aliyah (MA) Nurul Hidayah Khusnul Khotimah mengaku senang dan bangga, ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. “Dulu pertama kali mencoba sering muntah dan pusing. Tapi lama-kelamaan terbiasa. Mengatasi mual dan pusing, diminta untuk banyak-banyak dzikir. Dan banyak minum air putih,” katanya. (mg1/mg2/fer) Editor : Damianus Bram
#Manfaat Tari Sufi #Ponpes Nurul Hidayah #Filosofi Tari Sufi #tari sufi