Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Gas Melon Langka di Wonogiri, Harga di Tingkat Pengecer Tembus Rp28 Ribu per Tabung

Iwan Adi Luhung • Jumat, 13 Maret 2026 | 17:06 WIB

Distribusi gas melon di pangkalan kawasan Jalan Teratai Nomor 35, RT 02 RW 14, Kelurahan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Minggu (8/9/2024).
Distribusi gas melon di pangkalan kawasan Jalan Teratai Nomor 35, RT 02 RW 14, Kelurahan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Minggu (8/9/2024).

RADARSOLO.COM-Menjelang akhir bulan suci Ramadhan, masyarakat di sejumlah kecamatan di Wonogiri menjerit akibat sulitnya mendapatkan gas ukuran 3 kilogram atau gas melon.

Tak hanya langka, harga jual di tingkat pengecer pun dilaporkan meroket tajam hingga jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Berdasarkan pantauan radarsolo.jawapos.com, keluhan warga terkait kelangkaan gas bersubsidi ini ramai disuarakan di berbagai platform media sosial, khususnya oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Jatisrono, Jatiroto, dan Slogohimo.

Tika, seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Jatisrono mengaku sudah kesulitan mencari pasokan gas melon sejak awal Ramadhan.

"Pekan pertama puasa saya beli dengan harga Rp22 ribu. Tapi itu pun barangnya sudah mulai langka. Saya harus keliling ke empat lokasi berbeda, baru bisa dapat," keluhnya, Jumat (13/3/2026).

Memasuki pekan kedua, kondisi tak kunjung membaik.

Tika mengungkapkan bahwa ada warga yang terpaksa membeli gas melon seharga Rp25 ribu hingga Rp28 ribu per tabung.

"Informasi dari keluarga, di Slogohimo juga sama susahnya. Pekan kemarin saya sempat beli di KDMP (Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih) Watangsono, tapi stoknya sangat tipis. Kamis kemarin katanya mau datang lagi pasokan, tapi saya belum mengeceknya," beber Tika.

Menanggapi keresahan warga, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disdag KUKM) Wonogiri Wahyu Widayati membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait kelangkaan gas melon.

Wahyu menerangkan bahwa skema pendistribusian gas melon dilakukan secara berjenjang.

Pihak agen mengirimkan pasokan langsung kepada pangkalan-pangkalan resmi yang telah mendapatkan jatah kuota.

"Sesuai aturan yang berlaku, HET gas melon di tingkat pangkalan adalah Rp18 ribu. Jika ada pangkalan yang menjual di atas harga tersebut, maka pangkalan itu nakal," tegasnya.

Baca Juga: Inovasi Keranda Jenazah Ergonomis Karya Mahasiswa ISI Solo Raih Juara Dua Di Masjid Zayed: Lebih Ringan, Kuat, dan Beban Seimbang

"Kami terus mengimbau masyarakat untuk membeli langsung di pangkalan agar mendapat harga HET, kecuali jika meminta diantar ke rumah dan dipasangkan, wajar bila ada tambahan Rp2.000 untuk jasanya," imbuh Wahyu.

Merespons lonjakan harga yang tak wajar di tingkat pengecer, Disdag KUKM langsung menginstruksikan seluruh agen untuk melakukan inspeksi mendadak ke pangkalan di wilayah masing-masing.

"Pihak Pertamina dan Hiswana Migas juga sudah merespons laporan ini dan akan turun langsung mengecek ke lapangan," tegasnya.

Wahyu menduga, sulitnya mendapatkan gas melon saat ini dipicu oleh kepanikan warga yang mulai menimbun stok (nyetok) untuk persiapan masa Lebaran.

Di sisi lain, ada indikasi kuat para pengecer sengaja memanfaatkan momentum kelangkaan ini untuk meraup untung dengan mematok harga hingga Rp28.000 per tabung.

Meski jatah kuota LPG 3 kg untuk Kabupaten Wonogiri pada tahun 2026 secara umum mengalami pengurangan dari pusat, Wahyu memastikan Pemkab telah berhasil mengajukan tambahan kuota fakultatif khusus untuk momen Lebaran.

"Tambahan fakultatif sudah disetujui. Tanggal 11 dan 12 Maret kemarin sudah turun. Nanti disusul tanggal 15, 19, 21, dan 22 Maret akan ada tambahan lagi. Semestinya pasokan ini sangat bisa memenuhi lonjakan kebutuhan masyarakat mendekati Lebaran," pungkas Wahyu. (al)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#elpiji #pengecer #tabung #3 kilogram #jatisrono #gas melon langka #wonogiri #slogohimo