Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Terlalu Aktif Anak Autisme di Boyolali Terpaksa Dikurung

Perdana Bayu Saputra • Senin, 14 Juni 2021 | 04:39 WIB
Anak Autis di Boyolali yang di kurung. (Ragil Listyo/Radar Solo)
Anak Autis di Boyolali yang di kurung. (Ragil Listyo/Radar Solo)
BOYOLALI – Anak berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan perhatian lebih. Namun tak jarang demi membatasi keaktifannya, mereka harus dibatasi ruang geraknya.

Hal tersebut juga dialami remaja asal di Kampung Gatak, Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan/Kabupaten Boyolali, Muhammad Rendy Setiawan, 15. Hari-harinya dihabiskan dalam ruang kamar seluas 2x3 meter.

Beberapa tahun terakhir, Rendy hanya bisa menikmati luar rumah melalui jendela dengan terali kayu. Ia terpaksa beraktivitas di dalam ruang kamar, lantaran aktif berlari kesana-kemari. Orang tuanya terpaksa melakukan ini karena jika lepas pengawasan, Rendy bisa berlari ke mana pun yang ia suka.

"Biasanya Rendy berlari-lari kecil menuju lubang tembok yang terhubung dengan ruang keluarga. Karena jika lepas pengawasan, dia berlari ke mana-mana," jelas orang tua Rendy, Daryanto kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Anak sulungnya ini memang dikenal aktif. Sejak kecil, Rendy memang kesulitan berkonsentrasi. Dia lebih suka berlari-lari. Kebetulan, depan rumah Daryanto berbatasan langsung dengan jalan desa. Daryanto memilih mengurung Rendy di rumah untuk memudahkan pengawasan.

"Dia memang suka lari-lari. Sampai lulus TK, dia lanjut sekolah di SDLB (sekolah dasar luar biasa, Red). Namun, sekolah itu tidak ada ruang tertutup dan tidak ada yang sanggup menjaga anak saya yang selalu lari-lari. Akhirnya hanya sebulan dia berhenti sekolah," jelasnya.

Begitu juga di rumah, tidak ada yang mampu menjaga dan mengawasi Rendy. Sehari-hari, Daryanto harus mencukupi kebutuhan rumah dengan menjadi buruh serabutan. Sedangkan istri dan ibunya tak sanggup menahan Rendy saat berlari ke luar rumah. Nenek Rendy sudah cukup renta untuk mengejar cucunya.

Hal yang membuat Daryanto membatasi ruang gerak Rendy tak lain karena Rendy pernah nekad berlari hingga ke jalan raya. Rendy tertabrak kendaraan yang melintas sampai mengalami patah tulang kaki. "Ketika itu Rendy lari ke luar rumah, dan tidak terkejar neneknya. Lalu tertabrak kendaraan sampai patah tulang. Akhirnya saya buatkan kamar khusus agar tidak lari ke mana-mana," imbuhnya.

Rendy juga memiliki kebiasaan untuk minta ditemani tidur. Tiap malam, Daryanto menemani Rendy tidur. Sesekali, Daryanto mengajak Rendy jalan-jalan keluar rumah agar tidak bosan. Daryanto akan menggenggam tangan Rendy dengan kuat agar tidak lepas dan berlari kemana-mana. Pihaknya berharap, ada lembaga maupun instansi yang memberikan bantuan terapi anaknya.

"Kami harap ada yang mau membantu kami supaya Rendy bisa hidup normal. Bisa punya keterampilan, dan bisa mandiri. Kalau masalah bantuan kesehatan atau sembako pemerintah, sudah saya terima,” terangnya

Sementara itu Ketua Forum Komunikasi Guru Pendidikan Khusus (FKGBK) Boyolali Siti Sunarni mengatakan Rendy termasuk ABK dengan klasifikasi autisme. Siti menjelaskan, ABK harus mendapat pembinaan diri agar mampu mengurus diri sendiri. Seperti makan, minum, mandi, dan beraktivitas sendiri.

"Dia ABK dan diklasifikasikan ke dalam autisme. Dia mampu sedikit bina diri seperti makan sendiri. Namun, dia tidak bisa mengendalikan emosinya dan gerakannya. Sehingga tidak bisa berdiam diri. Orang tuanya memang sangat berharap Rendy bisa sekolah lagi agar anaknya bisa lebih baik," singkat guru inklusi SDN 2 Cepogo ini yang tinggal tak jauh dari rumah Rendy tersebut. (rgl/nik/dam) Editor : Perdana Bayu Saputra
#Anak Autisme di Boyolali Terpaksa Dikurung #Muhammad Rendy Setiawan #ABK Terlalu Aktif Dikurung #Anak Autis di Boyolali