Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Moderasi Positif dalam Pendidikan

Ferry Ardi Susanto
Penulis: Ferry Ardi Susanto❯
Dartim Ibnu Rushd, dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dartim Ibnu Rushd, dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Advertisement

 

Oleh: Dartim Ibnu Rushd, Dosen Pendidikan Agama Islam UMS

KASUS perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan Indonesia masih menjadi persoalan serius. Dari ejekan verbal hingga kekerasan fisik dan siber, dampaknya tidak hanya melukai korban secara psikologis, tetapi juga merusak iklim belajar yang sehat.

Advertisement

Upaya pencegahan sering kali berfokus pada aturan dan sanksi. Padahal, yang lebih mendasar adalah membangun karakter siswa. Di sinilah pentingnya pendekatan moderasi positif dalam pendidikan.

Misalnya, kasus perundungan dan kekerasan di dunia pendidikan Indonesia yang kembali menjadi sorotan, yakni insiden perkelahian antarsiswa yang terjadi di Sragen, Jawa Tengah, pada awal april lalu. Di mana salah satu siswa ada yang meninggal dunia.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus serupa seperti pengeroyokan siswa saat MPLS di Blitar pada 2025 lalu serta kasus fatal di Tangerang Selatan.

Hal itu menunjukkan bahwa praktik bullying dan kekerasan di kalangan pelajar masih dipengaruhi oleh lemahnya kontrol emosi, rendahnya empati, serta kurangnya internalisasi nilai-nilai moderasi dan penyelesaian konflik secara damai di lingkungan pendidikan.

Moderasi positif bukan sekadar sikap “tengah-tengah”, melainkan kemampuan untuk bersikap adil, seimbang, menghargai perbedaan, dan mengedepankan empati dalam interaksi sosial. Dalam konteks pendidikan, moderasi positif mengajarkan siswa untuk tidak mudah menghakimi, tidak ekstrem dalam bersikap, serta mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

Nilai-nilai ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang menekankan pembentukan manusia berkarakter, berakhlak, dan berkepribadian sosial. Moderasi positif khususnya yang berkaitan dengan pendidikan, juga relevan dengan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi gotong royong, toleransi, dan harmoni.

Apalagi bullying sering muncul dari sikap yang intoleran, keinginan mendominasi, atau ketidakmampuan memahami perbedaan. Moderasi positif bekerja pada akar masalah tersebut.

Advertisement
Editor : Ferry Ardi Susanto
Sumber : Radar Solo

Artikel Terkait

Ilmu yang Berkah Berawal dari Proses yang Jujur

Ilmu yang Berkah Berawal dari Proses yang Jujur

Dr. Laili Etika Rahmawati, M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berpendapat terkait ilmu yang berkah berawal dari proses yang jujur.

Sumpah Pemuda di Era AI: Jangan Sampai Kita Canggih tetapi Kehilangan Jati Diri

Sumpah Pemuda di Era AI: Jangan Sampai Kita Canggih tetapi Kehilangan Jati Diri

Dr. Dwi Haryanti, M.Hum., Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMS menyoroti perayaan Hari Sumpah Pemuda di era digitalisasi dan AI.

Hidup Adalah Perjalanan tentang Apa yang Harus Kita Perjuangkan

Hidup Adalah Perjalanan tentang Apa yang Harus Kita Perjuangkan

rs. Soleh Amini Yahman, M.Si., Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surakarta mengutarakan opini terkait perjuangan kita dalam perjalanan hidup.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer