Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ilmu yang Berkah Berawal dari Proses yang Jujur

fery ardi susanto
Penulis: fery ardi susanto❯
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Laili Etika Rahmawati, M.Pd. (Dok. Pribadi)
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Laili Etika Rahmawati, M.Pd. (Dok. Pribadi)

Advertisement

Oleh: Dr. Laili Etika Rahmawati, M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

RADARSOLO.COM - Menjelang Ujian Tengah Semester (UTS), suasana kampus mulai berubah. Mahasiswa semakin sibuk membuka catatan, membaca kembali materi perkuliahan, berdiskusi dengan teman, dan mempersiapkan diri menghadapi soal-soal ujian.

Ada yang belajar jauh-jauh hari, ada pula yang baru membuka buku ketika jadwal ujian semakin dekat. Semua itu bagian dari dinamika kehidupan mahasiswa.

Advertisement

Namun, di tengah kesibukan mempersiapkan ujian, ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan: kejujuran.

UTS bukan sekadar kegiatan memperoleh angka dalam lembar hasil studi. Ujian merupakan salah satu bentuk evaluasi untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami materi, mengembangkan pengetahuan, dan mencapai kompetensi yang telah dipelajari.

Advertisement

Lebih dari itu, ujian juga menjadi ruang untuk menguji karakter. Sebab, ketika mahasiswa berada di ruang ujian tanpa pengawasan langsung yang ketat, sesungguhnya ada nilai yang sedang diuji, yaitu integritas.

Sayangnya, dalam praktik akademik, menyontek masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Berbagai cara dapat dilakukan untuk memperoleh jawaban tanpa melalui usaha sendiri, mulai dari melirik pekerjaan teman, bertukar jawaban melalui pesan singkat, menyimpan catatan tersembunyi, hingga memanfaatkan perangkat digital dan akal imitasi (AI) untuk mendapatkan jawaban yang tidak semestinya digunakan dalam ujian. 

Teknologi yang seharusnya membantu proses belajar justru dapat disalahgunakan untuk mempermudah kecurangan.

Pertanyaannya, untuk apa memperoleh nilai tinggi apabila nilai tersebut tidak mencerminkan kemampuan diri sendiri?

Advertisement
Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo

Artikel Terkait

Pengabdian Masyarakat P2DB: Tim Interprofesi Kesehatan UMS Lanjutkan Pendampingan Lansia di Sukoharjo

Pengabdian Masyarakat P2DB: Tim Interprofesi Kesehatan UMS Lanjutkan Pendampingan Lansia di Sukoharjo

Tim menjelaskan pentingnya mengenali tekanan darah dan gula darah sebagai bagian dari pengelolaan kesehatan, serta mengaitkan materi tersebut dengan kebiasaan sehari-hari yang dapat diperhatikan lansia.

Hadiri Silatnas BEM PTMA di UMS, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ingatkan Mahasiswa Jaga Independensi

Hadiri Silatnas BEM PTMA di UMS, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ingatkan Mahasiswa Jaga Independensi

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengingatkan mahasiswa agar menjaga independensi dalam menyuarakan kritik, saat hadiri Silatnas BEM PTMA di UMS, Kamis (29/10).

Bikin Bangga! 10 Dosen UNS dan UMS Masuk Daftar Ilmuwan Top 2% Dunia 2026

Bikin Bangga! 10 Dosen UNS dan UMS Masuk Daftar Ilmuwan Top 2% Dunia 2026

Sebanyak 10 dosen dari UNS dan UMS masuk daftar World’s Top 2% Scientists 2026 berdasarkan indikator publikasi dan sitasi ilmiah. Capaian ini menunjukkan kontribusi akademisi Solo dalam pengembangan riset.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer