Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Masa Depan Itu Bernama Artificial Intelligence

Ferry Ardi Susanto
Penulis: Ferry Ardi Susanto❯
Aris Rakhmadi, Dosen UMS. (DOK. PRIBADI)
Aris Rakhmadi, Dosen UMS. (DOK. PRIBADI)

Advertisement

Oleh: Aris Rakhmadi, Dosen Teknik Informatika UMS

RADARSOLO.COM - Beberapa tahun lalu, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mungkin masih terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia sering dibayangkan sebagai teknologi canggih yang hanya berkembang di laboratorium penelitian atau di perusahaan teknologi raksasa.

Namun, hari ini AI telah hadir di genggaman kita. Ia membantu mesin pencari memahami pertanyaan, merekomendasikan film yang kita tonton, bahkan membantu dokter membaca data medis dengan lebih cepat. Tanpa disadari, manusia sedang hidup di awal sebuah era baru: era kecerdasan buatan.

Advertisement

Perubahan inilah yang mulai disadari oleh generasi muda. Tidak mengherankan jika minat terhadap bidang AI semakin meningkat. Bagi banyak mahasiswa, AI bukan sekadar jurusan baru, melainkan pintu menuju masa depan. Mereka melihat teknologi ini sebagai ruang untuk belajar, berinovasi, dan berkontribusi dalam dunia yang semakin digital.

Jika melihat perkembangan global, kebutuhan tenaga ahli di bidang AI diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade ke depan. Banyak negara berlomba-lomba menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi ini. AI tidak lagi menjadi milik satu sektor tertentu, melainkan telah merambah hampir semua bidang kehidupan.

Advertisement

Di dunia kesehatan misalnya, AI digunakan untuk membantu menganalisis citra medis sehingga penyakit dapat dideteksi lebih cepat. Di sektor pertanian, teknologi ini dapat memprediksi kondisi lahan dan cuaca untuk membantu petani meningkatkan hasil panen.

Industri manufaktur juga memanfaatkan sistem cerdas untuk meningkatkan efisiensi produksi. Sementara sektor transportasi, mulai mengembangkan sistem kendaraan yang semakin cerdas dan aman.

Perkembangan ini membuka peluang pekerjaan yang lebih luas bagi generasi muda. Profesi seperti data scientist, machine learning engineer, AI developer, dan analis data kini menjadi salah satu bidang yang paling dibutuhkan di dunia kerja. Bahkan banyak inovasi teknologi lahir dari para wirausahawan muda yang memanfaatkan AI untuk menciptakan solusi baru bagi berbagai persoalan masyarakat.

Namun, di balik peluang besar tersebut, terdapat tantangan yang tidak ringan. Pengembangan AI membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga pemahaman yang matang tentang dampak teknologi terhadap kehidupan manusia.

Teknologi yang kuat tanpa tanggung jawab dapat menimbulkan persoalan baru. Mulai dari penyalahgunaan data, hingga keputusan otomatis yang tidak adil. Karena itu, pendidikan di bidang AI tidak boleh berhenti pada penguasaan algoritma dan pemrograman semata.

Advertisement

Artikel Terkait

Sumpah Pemuda di Era AI: Jangan Sampai Kita Canggih tetapi Kehilangan Jati Diri

Sumpah Pemuda di Era AI: Jangan Sampai Kita Canggih tetapi Kehilangan Jati Diri

Dr. Dwi Haryanti, M.Hum., Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMS menyoroti perayaan Hari Sumpah Pemuda di era digitalisasi dan AI.

Bukan Cuma Bisa Pakai AI, Pelajar Sukoharjo Dibekali Cara Verifikasi Informasi dan Jaga Privasi

Bukan Cuma Bisa Pakai AI, Pelajar Sukoharjo Dibekali Cara Verifikasi Informasi dan Jaga Privasi

Polres Sukoharjo membekali pelajar dengan literasi AI. Sebanyak 781 siswa dari 18 SMA/SMK dilatih berpikir kritis, verifikasi informasi, dan menjaga privasi.

Ilmu yang Berkah Berawal dari Proses yang Jujur

Ilmu yang Berkah Berawal dari Proses yang Jujur

Dr. Laili Etika Rahmawati, M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berpendapat terkait ilmu yang berkah berawal dari proses yang jujur.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer