Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puasa: Sekolah Jiwa Dan Spiritual Bagi Anak

fery ardi susanto
Penulis: fery ardi susanto❯
 Dwi Haryanti, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dwi Haryanti, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Advertisement

RADARSOLO.COM - Menjelang siang hari di bulan Ramadan, seorang anak sering merasa gelisah. Perutnya terasa lapar, tenggorokannya kering, padahal waktu berbuka masih jauh. Ia bertanya berkali-kali kepada orang tuanya: “Masih lama ya ma?”

Dalam situasi sederhana seperti itu, sebenarnya sebuah proses pendidikan sedang berlangsung. Tanpa ruang kelas dan tanpa buku pelajaran. Puasa diam-diam mengajarkan anak tentang kesabaran, pengendalian diri, dan makna menunggu.

Jika dicermati lebih jauh, pengalaman berpuasa bagi anak bukan sekadar latihan fisik menahan lapar dan haus. Di balik praktik sederhana itu, ada proses pembelajaran yang penting bagi perkembangan kepribadian.

Advertisement

Anak belajar mengendalikan dorongan diri, memahami perasaan orang lain, sekaligus mengenal nilai-nilai spiritual yang membimbing perilaku manusia. Puasa dapat dipahami sebagai sekolah jiwa yang bekerja secara alami dalam kehidupan keluarga.

Dalam dunia pendidikan modern, pengalaman langsung sering dianggap sebagai cara belajar yang paling efektif. Puasa memberikan ruang belajar semacam ini. Ketika seorang anak bangun sahur bersama keluarga, ia mulai mengenal konsep disiplin waktu.

Advertisement

Psikolog Jean Piaget menjelaskan, anak belajar memahami dunia melalui pengalaman nyata. Dengan berpuasa, anak tidak hanya mendengar nasihat tentang kesabaran, tetapi benar-benar menjalani proses bersabar itu sendiri.

Dalam situasi seperti itu, anak belajar tentang apa yang oleh para ahli pendidikan disebut sebagai delayed gratification. Yakni kemampuan menunda kepuasan demi tujuan yang lebih besar.

Dari sudut pandang psikologi, puasa juga melatih kemampuan pengendalian diri. Penelitian yang terkenal tentang pengendalian diri dilakukan oleh psikolog Walter Mischel, melalui eksperimen yang dikenal sebagai Marshmallow Test.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak yang mampu menunda keinginan, cenderung memiliki kemampuan regulasi diri yang lebih baik dalam kehidupannya di kemudian hari. Dalam konteks ini, puasa menjadi latihan alami untuk menunda keinginan.

Puasa juga menghadirkan pelajaran sosial yang tidak kalah penting. Ketika anak merasakan lapar dan haus, ia mulai memahami bahwa ada orang-orang yang setiap hari hidup dalam kondisi kekurangan.

Advertisement
Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo

Artikel Terkait

Dari Desa Kami Belajar Mencintai Indonesia, Refleksi Seorang Anak Desa Menyambut Bulan Kemerdekaan

Dari Desa Kami Belajar Mencintai Indonesia, Refleksi Seorang Anak Desa Menyambut Bulan Kemerdekaan

Dosen Fakultas Geografi UMS Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., memaknai Hari Kemerdekaan dengan belajar mencintai Indonesia dari kehidupan di pedesaan.

Menjadi Guru Yang Selalu Dirindukan Murid

Menjadi Guru Yang Selalu Dirindukan Murid

Dekan Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof., Dr., Anam Sutopo menyoriti peran guru yang selalu dirindukan murid-muridnya.

Melemahnya Kurs Rupiah: Gejala Teknis atau Fundamental?

Melemahnya Kurs Rupiah: Gejala Teknis atau Fundamental?

Guru Besar Kewirausahaan Syariah FEB UMS Prof. Muhammad Sholahuddin, SE, M.Si., Ph.D., CSBA., membedah penyebab ,elemahnya Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dari sisi gejala teknis dan fundamental.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer