Berbagai macam arca mulai dari ukuran kecil sampai besar terpajang rapi. Ada pula patung Ganesha berukuran besar dengan tinggi sekitar dua meter. Juga Lingga dan Yoni berukuran besar dipintu masuk menuju rumah arca.
Juru pelihara rumah arca Boyolali, Joko Santoso mengatakan, ada 272 arca yang dirawat. Tak hanya di rumah arca, belasan patung peninggalan kuno ini juga tersimpan di Museum R. Hamong Wardoyo. Menurutnya, mayoritas arca yang disimpan merupakan peninggalan masa Mataram Hindu.
"Rumah arca sempat ditutup dan tidak menerima pengunjung, saat diberlakukan PPKM level 3 lalu. Namun, setelah PPKM turun ke level 2 dan kegiatan pariwisata diperbolehkan buka, rumah arca boleh dikunjungi lagi," jelasnya.
Joko menambahkan, benda-benda purbakala yang disimpan di rumah arca berasal dari temuan di wilayah Boyolali. Temuan itu lantas dipindahkan ke rumah arca. Terutama patung-patung yang rawan dicuri. Diketahui, arca juga memiliki nilai yang fantastis.
"Beberapa arca kami ambil dari sejumlah situs, seperti Candi Sari, Candi Lawang dan di Cabean Kunti juga ada. Paling banyak ditemukan arca Nandi atau patung sapi dan Yoni yang melambangkan kesuburan. Ada juga sejumlah patung Siwa dan Ganesha," katanya.
Sedangkan dua arca besar, Ganesha dan Yoni ditemukan di Musuk. Tak hanya menyimpan arca berbentuk patung, rumah arca juga menyimpan bagian dari batu candi seperti bata merah berukuran besar. Diperkirakan arca-arca tersebut merupakan peninggalam zaman Mataran Hindu.
"Kami lakukan arsiparis dengan memberikan nomor untuk pendataan. Selain itu, arca yang kami temukan juga sudah dalam kondisi tidak utuh (bagian kepala patung hilang, Red) karena rusak dan patah. Ada juga yang sudah berbentuk tapi belum jadi sempurna. Seperti beberapa patung Nandi," jelasnya.
Perawatan arca-arca di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Arca dibersihkan secara berkala dan dalam kondisi terawat. Pengunjung bisa menikmati hasil peradaban masa lampau ini secara gratis. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram