Ada enam batu candi yang diamankan di rumah warga Dukuh Pisah, Rt 4 Rw 10, Kragilan, Mojosongo, Sriyono. Enam batu yang diamankan yakni Lingga, dua batu pipi tangga pintu masuk berukir naga, dan tiga batu ukir untuk pagar. Sayangnya, ada beberapa batu yang hilang, seperti batu gamelan dan batu jadah yang digunakan untuk pondasi.
”Awalnya, di situs ini hanya ada batu-batu dan salah satunya patung Andini. Awal mulanya pada 2012-2014 ada tiga rohaniawan Hindu yang saya antar untuk sembahyang di sini bersama saya. Saya menemukan struktur batu yang miring, setelah dibersihkan ternyata Yoni,” jelas Sriyono, kemarin (10/11).
Penggalian lantas dilakukan mandiri oleh Sriyono. Tujuannya membuat tempat sembahyang yang lebih baik. Tak disangka, dia justru menemukan Lingga atau batu panjang pasangan dari Yoni. Hal tersebut sempat viral dan banyak masyarakat berdatangan. Barulah ekvakasi pertama dilakukan oleh BPCB Jateng pada 2016.
BPCB Jateng berencana memindahkan Lingga ke Prambanan, Klaten. Namun, Sriyono menolak dan memilih merawatnya di pura kecil miliknya. Setelah sepakat, berita acara penitipan batu Lingga dilakukan. Pasca penggalian pertama, situs Watu Genuk masih digunakan untuk peribadatan umat Hindu. Sriyono mengamini ada beberapa batu yang hilang, seperti batu gamelan dan batu jadah untuk pondasi.
”Lalu penggalian kedua dilakukan tahun ini, ditemukan tiga Candi Perwira. Lantas ada lima baru yang dititipkan. Yakni dua baru pipi tangga pintu masuk kiri dan kanan dan tiga batu ukir yang mungkin untuk pagar,” jelasnya.
Sriyono mengatakan, situs Candi Watu Genuk diperkirakan masih berkaitan dengan situs Kerajaan Salembi, di Mojosongo. Sebelum memasuki situs Candi Watu Genuk, terdapat batu berbentuk gentong atau Watu Genuk di kali Kampung Air, Kragilan. Diperkirakan, batu genuk tersebut berfungsi menampung air untuk membersihkan diri sebelum melakukan peribadatan di Candi Watu Genuk.
Pamong Budaya Ahli Muda BPCB, Winarto, mengatakan pada eksvakasi kedua ini ditemukan tiga candi perwira ini memiliki ukuran yang sama, yakni 5,5 x 5,5 meter persegi dengan pintu masuk tiap candi disisi timur. Dijelaskan, bangunan ini digunakan untuk peribadatan Agama Hindu pada masa Mataram kuno. Sedangkan bukti penguatnya, ditemukan patung nandi, yoni dan lingga serta ornamen kala.
”Lalu temuan lainnya, yakni ada penggunaan bahan alam. Seperti di sisi utara ditemukan batu padas keras yang menjadi alas penyusun batu. Baru di sisi semakin ke selatan semakin rendah, sehingga diberi tumpukan-tumpukan batu untuk mensejajarkan candi. Pada kedalaman 1,5 meter ini sudah diketahui lantai dasar candi. Karena dibatu terbawah terlihat struktur kasar batu yang terpendam tanah pada saat itu,” bebernya.
Sedangkan temuan-temuan batu yang terpisah dari struktur fondasi diamankan pada warga hindu setempat. Menurutnya penitipan ini lebih aman dari pada ditinggal di lokasi situs.
”Kalau dirawat pemeluk agama Hindu pasti ada rasa memiliki dan merawat. Kalau dibiarkan di sini ya rawan dicuri. Apalagi kalau malam cukup jauh dari pemukiman,” imbuhnya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram