Tradisi sadranan biasa digelar di tiga kecamatan lereng Merapi Merbabu. Seperti Selo, Cepogo dan Musuk. Tradisi sadranan ini biasanya digelar saat Ruwah dipenanggalan Jawa atau Syaban dipenanggalan hijriyah. Tradisi ruwah bisanya dimulai dengan membawa berbagai makanan ke makam dan dilanjutkan dengan bersih-bersih serta doa bersama. Selanjutnya, tiap desa akan menggelar open house.
Bupati Boyolali M. Said Hidayat mengimbau masyarakat yang menggelar sadranan tetap menerapkan prokes ketat.
”Untuk sadranan dan kegiatan-kegiatan masyarakat kami minta semua ketentuan ditaati. Termasuk kapasitas dan prokesnya. Saya harap masyarakat menghadapi pandemi dengan ketenangan batin yang bisa meningkatkan imun. Tapi tetap harus dibarengi dengan prokes dan saling mengingatkan satu sama lain,” singkatnya.
Sekda Boyolali Masruri menambahkan, tradisi sadranan tetap mengacu pada intruksi Bupati. Sebab, Boyolali masih berada di level 3 PPKM. Masyarakat tetap diizinkan menggelar sadranan ke makam dengan prokes ketat. Sedangkan tradisi open house diimbau untuk ditiadakan. Peniadaan open house ini baru diberlakukan di wilayah Cepogo.
”Kalau ke makam boleh tapi kalau ramai-ramai kunjungan ke rumah-rumah atau open house kami sarankan tidak usah dulu. Kalaupun buka dengan prokes ketat. Dan boleh kalau keluarga sendiri. Meski tiap kecamatan/desa ada kebijakan berbeda,” terangnya ditemui di kantornya, Senin (7/3).
Masruri menambahkan khusus di wilayah Cepogo, tidak boleh mengadakan open house. Pemerintah kecamatan hanya mengizinkan untuk menggelar tradisi dan membawa tenongan ke makam. Dia menilai, pembatasan ini sebagai langkah antisipasi potensi paparan Covid-19. Karena biasanya pengunjung tradisi sadranan sangat banyak dan berasal dari berbagai daerah.
Camat Cepogo Waluyo Jati mengamini, awal bulan ini sudah memasuki tradisi sadranan. Biasanya tiap dusun mengadakan sadranan di hari-hari tertentu yang sudah ditentukan. Sehingga pelaksanaan sadranan antar desa bisa berbeda-beda. Terkait sadranan tahun ini, pihaknya telah berembug dengan desa.
”Kemarin sudah ada kesepakatan dengan tiap desa. Sadranan bisa digelar. Tapi khusus untuk besik makam dengan prokes ketat. Karena kami menyesuaikan dengan situasi kondisi pandemi. Sedangkan untuk open house tahun ini ditiadakan,” jelasnya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram