Pantauan di Pasar Hewan Jelok, Cepogo, lalu lintas pedagang sapi tampak menyusut. Parkiran barat yang biasanya disesaki truk dan mobil pikap tampak lebih lengang. Tidak ada antrean kendaraan pengangkut sapi yang masuk. Pemeriksaan kesehatan hewan juga dilakukan oleh Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Disdagperin dan Polsek Cepogo.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Hewan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Sapto Hadi Darmono mengatakan, penjualan dan potensi sapi yang masuk ke pasar hewan turun 25-30 persen. Biasanya ada sekitar seribu sapi yang masuk. Namun, kini tersisa 700 an ekor yang meramaikan jual beli di Pasar Hewan Jelok, Cepogo.
”Penurunan itu hanya berasal dari Boyolali sekitar saja. Seperti Klaten 5 persen, Kabupaten Semarang 10 persen dan Boyolali 15 persen,” jelasnya ditemui di Pasar Hewan Jelok, Senin (16/5).
Hal tersebut juga dipicu petani yang enggan dan menunda pembelian. Hal serupa juga berlaku pada jual beli sapi potong. Karena biasanya, sebulan jelang Idul Adha, pasar hewan sudah diramaikan pedagang sapi. Namun, keberadaan PMK justru menyurutkan minat penjual sapi dadakan. Seperti penjualan di Pasar Hewan Karanggede Minggu (15/5) lalu. Biasanya 200 hewan terjual, namun kemarin hanya 160 sapi yang terjual.
”Harusnya bulan-bulan ini dah ramai jual beli sapi kurban. Terutama pedagang dadakan yang nanti menyetok sapi kurban. Sekarang justru masih sepi,” terangnya.
Sementara pemeriksaan hewan terus dilakukan. Dokter hewan Bidang Keswan Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali Diah Ayu mengatakan tracing pada ternak terus dilakukan. Salah satunya di Pasar Hewan Jelok Boyolali. Ada 300 sapi yang dicek kesehatan secara umum. Ditemukan 50-100 sapi yang muncul gejala hipersalivasi atau liur berlebihan.
”Lalu kami lanjutkan dengan pemeriksaan mulut dan kaki. Tidak ada indikasi mengarah PMK,” katanya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram