Ular kobra ini pertama kali ditemukan oleh warga setempat, Rosa sekitar pukul 07.00. Ular tersebut terlihat menangkring di kayu yang tertutup jaring untuk pemisah ternak. Melihat ukuran yang cukup besar dan termasuk ular berbisa, warga tak berani evakuasi. Sehingga harus memanggil relawan Exalos.
Ketua Umum Exalos Indonesia Regional Boyolali Janu Wahyu Widodo mengatakan, ular tersebut termasuk berbahaya. Karena dikhawatirkan juga dibunuh, upaya evakuasi langsung dilakukan.
”Ular itu terperangkap jaring pagar kandang ternak warga. Jadi rescuer harus ekstra hati-hati untuk mengurai jaring dan mengeluarkan ular dari perangkap jaring. Sudah bisa diurai dan diamankan,” jelasnya, Senin (30/5).
Rencananya, ular kobra tersebut akan dilepasliarkan ke alam habitatnya yang jauh dari pemukiman penduduk. Pelepasan ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam dan tidak menimbulkan konflik baru dengan manusia. Selama ini laporan untuk evakuasi ular sering diterima. Selama sebulan bisa 300 ekor ular di 28 regional yang diselamatkan.
”Kalau di Solo Raya ada 30an ekor ular yang kami selamatkan. Paling banyak ular kobra, ular hijau ekor merah, python dan jali,” katanya.
Kepala Bidang Damkar Satpol PP Boyolali Dono Rumekso mengatakan, temuan ular memang masih sering terjadi. Bahkan hampir semua kecamatan pernah dilakukan evakuasi ular. Jika dilaporkan damkar satpol PP, evakuasi ular akan dilakukan. Setelahnya ular akan dikembalikan ke habitatnya di Hutan Juwangi.
”Malah ini hampir semua kecamatan pernah ada temuan ular dan kami evakuasi. Namun, sampai saat ini belum pernah ada kejadian warga diserang ular,” terangnya.
Kebanyakan kasus yang dilaporkan, ular hanya mencari makan dan memangsa ternak warga. Jika warga kesulitan mengevakuasi, mereka akan melapor ke Damkar Satpol PP Boyolali ataupun relawan pecinta hewan. Pihaknya akan bergerak cepat untuk mengevakuasi ular. Hal tersebut untuk meminimalisir kejadian tidak diinginkan dan memastikan ular tidak dibunuh. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram