Kasi Pengadan Tanah dan Pengembangan Pertanahan, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Boyolali Djarot Sucahya mengatakan proses pembebasan lahan untuk jalan tol terus berlanjut. Sebanyak 1.092 bidang di Banyudono-Sawit terdampak proyek tersebut. Terdiri dari 84 bidang berupa fasum dan fasos. Serta 908 bidang tanah milik masyarakat, pemerintah dan wakaf.
"Dari target 908 bidang diluar fasum/fasos, ada 4 bidang yang dihindari karena yang terkena sangat kecil. Yakni antara 1 sampai dengan 7 meterpersegi. Kemudian, untuk 776 bidang tanah sudah menerima UGR dan telah dibayarkan," jelasnya pada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (24/7).
Kemudian ada empat bidang tanah yang awalnya tedampak tol. Namun, karena bagian yang terdampak hanya 1 meter. "Tapi proses pengurusan surat-surat administrasinya agak susah dan gak cucuk, karena yang kena hanya 1 meter. Makanya bisa diatasi dengan 4 bidang itu dihindari (Tidak jadi terdampak tol,red). Dan ternyata gak masalah (Untuk pembangunan,red)," ujarnya.
Saat ini, proses pembebasan lahan masih menyisakan 128 bidang. Dengan rincian, sebanyak 90 bidang merupakan tanah wakaf, instansi pemerintah, BUMN, TKD dan satu bidang makam. Khusus untuk makan, masih dalam proses perizinan dan mencari tanah pengganti.
Kemudian 38 bidang tanah masyarakat dengan rincian, 10 bidang tanah dalam proses konsinyasi, tiga bidang tanah dalam proses pemberkasan dan validasi serta 25 bidang tanah yang awalnya ditunda, kembali dilanjutkan. Khusus 25 bidang tanah tersebut terletak di Desa Batan, Banyudono. Dan saat ini masih proses verifikasi data untuk siap diumumkan. Karena masih ada satu bidang yang belum diketahui identitasnya.
"Karena data pemilik bidang dan yang memiliki hak atas tanah tersebut sudah beralih. Mungkin karena sudah terjadi jual beli tapi belum dicatatkan di BPN (Boyolali,red)," ungkapnya.
Saat ini tahap verifikasi dan validasi data tengah dilakukan. Sebab, bidang tanah yang terimbas juga telah dilakukan pematokan dan pengukuran. Setelah validasi dan verifikasi rampung, dilanjutkan dengan pembebasan lahan. Pembebasan bidang ini akan digunakan untuk membangun exit tol Solo-Jogja nantinya.
"Sebanyak 25 bidang tanah itu diperuntukkan untuk membuat lengkungan jalan sebelum melintangi jalan arteri Solo-Semarang. Semula ada 25 bidang di Desa Batan ini tidak digunakan dulu (Dibebaskan,red) karena pertimbangan konstruksi interchange," jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Proyek Tol Solo-Jogja PT Adhi Karya, Oka Candra Sukmana mengatakan akses keluar masuk Jalan tol Solo-Jogja mengggunakan model interchange. Sehingga tidak perlu ada traffic light untuk akses keluar masuk Tol. Seperti yang berlaku di GT Colomadu, Karanganyar saat ini. Rencananya akses keluar masuk kendaraan berada di barat Mapolsek Banyudono.
"Akses keluar masuk Tol masih interchange atau simpang susun. Jadi tidak memerlukan taper. Kemudian, jalan tol Jogja-Solo akan tersambung dengan Tol Trans Jawa," terangnya. (rgl/dam) Editor : Damianus Bram