Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali, Wiwis Trisiwi Handayani. TPA Winong memiliki luas 5,3 hektar. Namun, terancam penuh dalam waktu 300 hari atau sekitar 10 bulan lagi. Selama ini, pengelolaan sampah menggunakan sistem controlled landfill atau sistem pengurukan sampah terpusat. TPA Winong dibuat beberapa blok-blok untuk menampung sampah.
"Itu (TPA Winong,red) kalau dihitung-hitung blok aktif tinggal 300 hari akan penuh, dengan prediksi sampah yang masuk 60 ton per hari. Selain itu, sampah yang masuk tanpa dipilah langsung dimasukkan ke lubang penimbunan," terangnya Senin (25/7).
Permasalahan sampah ini memang perlu pemahaman bersama. Karena kondisi sampah di Boyolali sudah kritis dan perlu pengelolaan yang tepat secara bersama-sama termasuk masyarakat. Penanganan bisa dilakukan dengan pemilahan sampah dengan pola 3 R atau reduce, reuse, recycle.
"Kami telah membentuk tim pemilahan sampah dengan melibatkan para pemulung. Sampah-sampah yang bisa didaur ulang atau memiliki nilai jual, diberikan kepada pemulung," katanya.
Tim pemulung pemilah sampah itu tak hanya di TPA Winong. Tetapi juga di TPS-TPS, khususnya di wilayah Boyolali Kota. Karena di Boyolali Kota ada 72 TPS baik dalam bentuk bangunan atupun kontainer. Sedangkan pemulung di TPA ada 26 orang. Wiwis berharap dengan pemilahan sampah 3 R bisa mengurangi sampah yang masuk ke TPA.
"Sehingga sampah yang masuk ke penimbunan tinggal residunya saja. Kami juga buat bank sampah tiap ada event-event tertentu di Boyolali. Kami terjunkan tim pemulung TPS untuk mengumpulkan sampah di acara tersebut, sekaligus memilahnya," imbuhnya.
Pihaknya juga melakukan edukasi pada masyarakat untuk membangun kesadaran pengelolaan sampah. Karena kondisi sampah saat ini sudah kritis. “Sekarang kita harus menyadarkan pilah sampah di tempat. Kalau bisa jangan sampai sampah ke TPA. Tapi kalau tidak terkendali, tidak terkontrol, tidak terkonsep, sudah semua dimasukkan TPA, penuh," pungkasnya.(rgl/dam) Editor : Damianus Bram