Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Keramba Overload, Kadar Oksigen di Perairan Waduk Kedung Ombo Kurang

Damianus Bram • Kamis, 5 Januari 2023 | 03:04 WIB
BERHARAP BANTUAN: Petani ikan di keramba Waduk Kedung Ombo Kemusu tengah memindahkan ikan mati yang ada di keramba jaring apung miliknya, Selasa (3/1/2023). (M. IHSAN/RADAR SOLO)
BERHARAP BANTUAN: Petani ikan di keramba Waduk Kedung Ombo Kemusu tengah memindahkan ikan mati yang ada di keramba jaring apung miliknya, Selasa (3/1/2023). (M. IHSAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali telah mengecek dissolved oxygen (DO) atau kadar oksigen terlarut diperairan Waduk Kedung Ombo (WKO) pada Selasa lalu (3/1/2023). Tepatnya di air sekitar keramba jaring apung (KJA) Dusun Bulu, Desa Wonoharjo, Kemusu. Hasilnya, kadar DO 4,7 miligram (mg) per liter atau masih di bawah ambang batas 5 mg per liter.

Kabid Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali Nurul Nugroho mengatakan, kadar oksigen di air mulai naik. Hasil pemeriksaan pada Selasa (3/1/2023) kadar oksigen menyentuh 4,7 mg per liter. Lalu suhu air mencapai 29-30 derajat celcius. Sedangkan pH air 6-7 dan kandungan nitrit 0,01 mg per liter.

"Kondisi perairan sudah mulai membaik. Dilihat dari parameter kualitas air secara fisik dan kimia. Sebelumnya, DO di bawah normal, bahkan di bawah 5mg per liter jauh. Maka kami beri rekomendasi kepada petani untuk menaikkan DO dengan menggunakan pompa," terangnya.

Hingga kemarin, jumlah ikan yang mati mencapai 200 ton milik 37 petani keramba. Sedangkan taksiran kerugian mencapai Rp 6 miliar. Membaiknya kadar oksigen di perairan juga membuat angka kematian masal ikan berkurang. Ķarena sudah tidak ada ikan yang mati sejak Selasa sore. Selain itu, Nurul meminta agar petani segera memindahkan bangkai ikan yang mati.

"Ikan mati yang masih di kolam (KJA) kita sarankan untuk segera dibuang. Karena akan memicu timbulnya penyakit baru dari parasit, bakteri, jamur dan lainnya. Alhamdulillah, penambahan kematian ikan sudah relatif ndak ada, Senin kemarin (2/1/2023) sore saya cek ke lokasi," katanya.

Dia bersama petani keramba sudah memindahkan KJA ke lokasi aman. Guna mengantisipasi terjadinya upwelling lagi. Selain itu, perairan terus dipompa dengan diesel air untuk menaikan kadar oksigen. Sejumlah rekomendasi juga disarankan pada petani.

Untuk menekan kerugian, dinas menyarankan agar petani segera melakukan panen ikan yang sudah masuk ukuran jual. Kemudian, memantau kualitas air secara berkala. Melakukan efisiensi pemberian pakan ikan di KJA. Petani diharapkan mengaplikasikan KJA sistem manajemen air dengan resirkulasi dan tanaman (Smart) yang ramah lingkungan.

"Selain itu, juga perlu pemantauan kualitas air secara berkala. Perlu juga dilakukan rasionalisasi jumlah KJA di WKO. Karena kalau dilihat secara fisik di lokasi, memang overload karamba, tapi itu perlu ada kajiannya. Yang berwenang melakukan kajian dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana," terangnya.

Salah satu petani KJA WKO, Kardiyo, 53, berharap pemerintah memperhatikan petani karamba di Dusun Bulu ini. Sebab, kejadian ini betul-betul telah memukul petani ikan tahun ini. Biasanya tidak seperti ini.

“Punya saya 16 ton, kalau dikalikan harga ikan Rp 35 ribu per kilogram sudah rugi Rp 500 juta. Sebenarnya ikan-ikan ini siap panen," ungkapnya. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#Petani Ikan #waduk kedung ombo #Ikan Mati #Petani Karamba #Karamba Ikan Kurang Oksigen #Fenomena Upwelling #ikan karamba mati #Disnakan Boyolali