“Dibandingkan tahun lalu di bulan yang sama, ada peningkatan jumlah kasus DBD. Sebulan ini terdapat dua kasus kematian, yakni di Andong dan Boyolali," jelas Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Boyolali Teguh Tri Kuncoro, Rabu (1/2/2023).
Merujuk catatan dinkes, pada minggu pertama 2023 tercatat 10 kasus DBD. Naik pada minggu kedua dengan 20 kasus, lalu turun di minggu ketiga dengan 19 kasus, dan minggu keempat 18 kasus.
Kasus DBD tertinggi ditemukan di Karanggede dengan 15 kasus. Andong tujuh kasus, Juwangi, Nogosari, dan Boyolali I masing-masing lima kasus.
Berikutnya Teras, Sambi dan Kemusu masing-masing empat kasus. Mojosongo, Sawit, Ngemplak, Simo masing-masing tiga kasus. Sisanya, di Cepogo, Banyudono I dan Wonosamudro masing-masing dua kasus. Ampel dan Boyolali II masing-masing satu kasus.
Lebih lanjut diterangkan Teguh, data pada 2021 terdapat 207 kasus DBD dengan lima kasus kematian. Temuan kasus terbesar di Kecamatan Ngemplak dan Juwangi masing-masing 24 kasus.
Pada 2022, kasus DBD melonjak tembus 297 kasus dengan empat kasus kematian. Sedangkan di awal 2023, tercatat 61 kasus.
Begitu ada laporan DBD, dinkes akan melakukan penyelidikan epidemologi (PE). Karena, tidak semua gejala bisa mengindikasikan positif DBD. Perlu pemeriksaan medis dan PE.
Jika ditemukan kasus baru dalam radius 100 meter di sekitar lokasi temuan awal, maka akan dilakukan fogging focus.
Tingginya kasus DBD dipicu faktor cuaca yang berubah-ubah. Terkadang hujan berlanjut terik, menjadikan nyamuk aedes aegypti pembawa virus dengue mudah berkembang biak.
Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dinilai paling efektif menekan penyebaran DBD. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono