Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sejarah Make-up Wahyu Merapi Pacul Goweng yang Melegenda, Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Syahaamah Fikria • Minggu, 23 April 2023 | 17:00 WIB
Pengantin dengan riasan Wahyu Merapi Pacul Goweng, make-up by Amalia Mallika, belum lama ini. Riasan ini merupakan ciri khas Boyolali, tepatnya di Kecamatan Selo. (HARPI BOYOLALI FOR RASO)
Pengantin dengan riasan Wahyu Merapi Pacul Goweng, make-up by Amalia Mallika, belum lama ini. Riasan ini merupakan ciri khas Boyolali, tepatnya di Kecamatan Selo. (HARPI BOYOLALI FOR RASO)
RADARSOLO.COM - Siapa sangka, Kabupaten Boyolali memiliki tata rias alias paes yang melegenda. Namanya Wahyu Merapi Pacul Goweng. Konon, tren make-up ini sudah ada sejak zaman perjuangan Pangeran Diponegoro.

Make-up pengantin Wahyu Merapi Pacul Goweng didominasi warna hijau. Baik dari segi baju pengantin hingga riasannya. Sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2021.

Salah seorang make-up artist (MuA) asal Kota Susu yang intens melestarikan riasan Wahyu Merapi Pacul Goweng adalah Amalia Mallika Sari. Dia mengklaim make-up ini sudah menjadi ciri khas Boyolali.

Awalnya, riasan ini muncul di kawasan lereng Gunung Merapi-Merbabu. Tepatnya saat Pangeran Diponegoro singgah di Kecamatan Selo. Seiring perkembangan waktu, riasan ini terus dijaga kelestariannya oleh Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Boyolali. Bahkan sudah dibakukan pada 2015 lalu.

“Tata rias pengantin Wahyu Merapi Pacul Goweng ini merupakan ciri khas Boyolali. Tidak hanya di Selo saja, tapi seluruh Boyolali. Setiap pakaian hingga riasan pengantin, memiliki ciri khas atau pakem-pakem tertentu,” ungkap Amalia kepada Radarsolo.com.

Penamaan Pacul Goweng diambil dari uluk atau topi mahkota yang dikenakan pengantin pria. Uluk yang dikenakan para prajurit Pangeran Diponegoro di era penjajahan kolonial Belanda. Kemudian digunakan sebagai atribut pernikahan di kawasan Selo.

Uluk ini berbentuk blangkon, kemudian ditumpangi topi lagi yang bentuknya krowak alias tidak utuh. Lalu pada bagian belakang menyerupai pacul atau cangkul yang juga goweng alias tidak utuh. Sedangkan di sisi kanan dan kirinya, tepat diatas telinga terdapat hiasan warna emas. Berupa aksesoris berbentuk tambun lalu lancip ke atas.

“Ada filosofi sendiri dari uluk ini. Dulu itu sering digunakan oleh prajurit Pangeran Diponegoro, yang melangsungkan pernikahan di Selo. Maka dari itu dinamakan Wahyu Merapi Pacul Goweng. Karena dulu pertama digunakan yang di Selo,” imbuh Mallika.

Ciri khas lainnya, yakni aksesoris yang dikenakan mempelai wanita. Berupa cunduk mentul atau aksesoris emas di atas sanggul. Ada sembilan cunduk mentul, yang menggambarkan keanekaragaman sumber daya alam di Boyolali. Di antaranya matahari, pepaya, bunga mawar, tembakau, sapi. Cunduk mentul motif matahari diletakkan di tengah. Bersanding dengan cunduk mentul motif pepaya, mawar, tembakau, dan sapi di bagian paling pinggir.

Atribut lain yang menjadi ciri khas Wahyu Merapi Pacul Goweng, yakni busana pengantin. Terdapar motif ikan lele. Merepresentasikan kampung lele di Kecamatan Teras. Kemudian jarit yang dikenakan pengantin merupakan motif batik Wahyu Merapi.

Motif batik ini didominasi corak Gunung Merapi dan Merbabu. Kemudian pada corak paes yang dinamakan panunggul Merapi-Merbabu, diapit bunga kantil yang mirip kepala ikan lele. Didominasi warga putih dan hitam, dengan warna dasar jarit coklat keemasan.

“Ada pakem yang tidak boleh dihilangkan atau dimodifikasi. Seperti rangkaian bunga melati pada cunduk mentul, harus memiliki ciri khas Boyolali,” urai Mallika.

Nah, pakem dari Wahyu Merapi Pacul Goweng terletak pada make-up mempelai wanita. Warnanya harus hijau kehitaman, ditambah sedikit sentuhan eksyen warna emas. Kemudian di bagian eyeshadow, warna juga hijau kehitaman. Ditambah lipstik warna merah jambu pada bibir.

“Modifikasinya hanya diperbolehkan untuk busana. Namun untuk periasan yang lain, tidak diperbolehkan. Karena sudah menjadi ciri khas,” terangnya.

Diakui Mallika, proses merias Wahyu Merapi Pacul Goweng tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu minimal 3 jam untuk merias mempelai wanita saja. Sedangkan riasan mempelai pria estimasinya hanya sekira 1 jam.

Tingkat kesulitan tertinggi pada paes Wahyu Merapi Pacul Goweng adalah penggunaan dua tone warna. Kemudian, proses penyanggulan pada rambut mempelai wanita harus memakai ukel tekuk samber lilin. Bentuknya menyerupai ukel tekuk, namun di bagian pinggri ada irisan daun pandan.

“Sudah ada beberapa perias yang memakai Wahyu Merapi Pacul Goweng. Tapi memang belum terlalu terekspos. Bahkan Harpi Melati Boyolali akan memberikan penghargaan bagi masyarakat yang mau menggunakan riasan Wahyu Merapi Pacul Goweng. Karena sudah ikut nguri-uri budaya,” tandasnya. (rgl/fer/ria) Editor : Syahaamah Fikria
#Make-up #make up pengantin #Wahyu Merapi Pacul Goweng #warisan budaya tak benda