Desa yang terletak di lereng Merapi ini memiliki jumlah 1.035 kepala keluarga (KK). Mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani dan peternak. Tanah yang subur dengan berbagai komoditas sayur bertumbuh subur. Keelokan Klakah seakan tak ada habisnya. Di balik indah dan gemburnya tanah Klakah, tersimpan ancamam erupsi Merapi. Klakah, merupama nama baru yang disematkan pasca erupsi 1954. Sekaligus menandai, hilangnya dua dusun yang luluh lantak disapu awan panas.
"Petilasan Pencar itu ada pada 1954. Jadi Dusun Pencar itu ada sekira 200 KK, Pencar Duwur (Atas) dan Pencar Ngisor (Bawah) hilang pada erupsi 1954 itu. Nah, sekarang peninggalannya itu ada makam. Lalu, makam-makam di ladang itu ada beberapa titik. Kemungkinan itu yang meninggal di rumah situ, lalu dimakamkan langsung di pekarangan rumah itu (saat tragedi 1954). Sekarang jadi lahan pertanian," kata Kepala Des Klakah Marwoto.
Awan panas menyapu area perumahan dari kayu dan gedeg atau dinding anyaman bambu hingga tak bersisa. Saat letusan terjadi, hanya beberapa warga yang selamat. Mereka mengungsi ke Bangunrejo, Jrakah; Pakis, Selo Duwur; Temanggung; juga Klakah Duwur. Mereka lantas beranak pinak dan melanjutkan hidup di pengungsian. Sedangkan bekas dua Dusun Pencar seluas 255,210 meter persegi dijadikan lahan pertanian.
Pasca erupsi, tak ada warga yang kembali ke Dusun Pencar. Bahkan dilarang. Mengingat dampak erupsi kala itu cukup besar. Tak sedikit warga Dusu Pencar yang tidak bisa selamat. Warga yang bisa menyelamatkan diri lantas membangun rumah di Bangunsari Klakah, Kajor Jrakah dan lainnya. Keganasan awan panas Merapi juga tak bisa dilupakan. Warga tetap waspada dan mawas diri jika Mbah Merapi sedang punya hajat.
"Klakah ini, untuk desa ini kan dulu namanya Sidorejo, bukan Klakah. Dengan adanya erupsi 1954, ada legenda desa yang kemudian merubah nama desa ini," terangnya.
Diceritakan, pada erupsi 1954, ada seorang tokoh masyarakat di Dusun Tegalrejo. Sebuah dusun yang terletak di sisi barat Dusun Pencar. Awan panas terus merangsek ke sisi barat menuju Dusun Tegalrejo. Namun, ada satu tokoh masyarakat bernama Kiai Drogo yang enggan mengungsi. Kiai tersebut lantas menanam pohon tulangan di sebelah timur Dusun Tegalrejo. Agar awan pamas tidak semakin mengarah ke barat dan menyapu dusunnya. Ternyata, awan panas benar-benar tak menyentuh Dusun Tegalrejo termasuk Desa Sidorejo.
"Jadi yang seharusnya Desa Sidorejo ini kena semua, ini jadi kelangkahan. Hanya kena yang Pencar, dusun-dusun bawahnya terus mengalir ke Kali Apu. Nah, makanya desa ini dinamakan Desa Klakah karena kelangkahan (terlompati). Jadi riwayat Desa Klakah seperti itu," terangnya.
Awalnya, nama Klakah untuk menyebut Dusun Klakah Duwur, Klakah Tengah dan Klakah Ngisor. Pasca erupsi pada 1954 -1957, warga mulai membangun perkampungan kembali dibawah kepemimpinan Kades Pertama Klakah Singoredjo. Dia memimpin dari 1940-1960. Kemudian dilanjutkan sembilan kades lainnya hingga kini.
"Desa Klakah memiliki potensi simber daya alam (SDA) yang banyak. Baik alamnya, pertanian maupun peternakan," katanya. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram