Peternak ayam petelur asal Desa Manggis, Kecamatan Mojosongo Pitoyo mengaku kesulitas memenuhi kebutuhan pasaran. Karena saat pandemi Covid-19 lalu, harga telur sempat anjlok. Sehingga populasi ayam petelur direduksi. Apalagi banyak peternak yang sudah gulung tikar.
“Kalau kondisi normal, bisa menghasilkan 2 ton telur per hari. Karena populasi ayam sedikit, produksi telur menutun. Jadi hanya bisa 1,5 ton per hari,” ujarnya, Minggu (28/5/2023).
Faktor lainnya karena usia. Semakin tua usia ayam petelur, kualitas produksi pasti menurun. Sedangkan harga jual telur di kandang, mencapai Rp 28 ribu per kg.
“Belum lagi harga pakan yang tinggi. Otomatis biaya produksi meningkat. Jujur peternak senang harganya tinggi. Bisa menutup kerugian harga anjlok saat pandemi dulu,” bebernya.
Sementara itu, pemilik toko sembako di Desa Jelok, Cepogo Nurul Utami mengaku harga telur naik sejak beberapa pekan lalu. “Saya jual Rp 30 ribu per kg. Saya ambil langsung dari kandang Rp 28,5 ribu per kg,” jelasnya. (rgl/fer/dam) Editor : Damianus Bram