RADARBOYOLALI.COM–Dampak kekeringan di Kabupaten Boyolali semakin parah. Terutama di wilayah utara. Kecamatan Wonosegoro hingga Juwangi. Selama tiga bulan terakhir, sebagian warga setempat kesulitan air bersih.
Muhlisin, warga Dusun Ngasinan, Desa Garangan, Kecamatan Wonosamudro mengatakan, masyarakat hanya mengandalkan air dari ceruk kali yang tersisa.
Ditambah selama sepekan terakhir tidak ada dropping air bersih dari pemkab maupun swasta.
"Sudah satu minggu belum ada dropping air bersih. Sudah tiga bulan ini warga kesulitan air bersih," ujarnya kemarin (6/9).
Senada, Sekretaris Desa Kalitlawah, Kecamatan Juwangi, Subekti Hidayat mengatakan, kekeringan sudah dirasakan warga sejak Februari lalu.
Namun, saat itu, beberapa sumber air masih hidup meski debitnya kecil. Selama ini warga mencari air di salah satu sumber. Hanya saja letaknya jauh.
"Untuk mendapatkan air, warga kami membuat kubangan di pinggiran sungai atau sungai yang mengering. Warga mengumpulkan air untuk keperluan mencuci, mandi dengan air sisa-sisa genangan di sungai," terangnya.
Sedangkan kebutuhan air minum, warga membeli galon isi ulang.
Data dari BPBD Boyolali, Kecamatan Wonosamudro memang paling banyak permintaan air bersih. Tercatat ada sekira 30 dusun di lima desa terdampak. Total ada 8.226 jiwa.
Rinciannya, di Desa Bengle kekeringan terjadi di Dusun Bengle, Sambiroto, Kalilatung, Padasmalang, Cepit, Talunombo Karangploso, Glondonglor, Glondong, Pendem dan Banjarsari.
Lalu Desa Gunungsari ada tiga dusun terdampak, yakni Losari, Sambirejo dan Tegalsari. Lalu di Desa Jatilawang ada dua dusun, yakni, Pilangsari dan Jatilawang.
Selanjutnya Desa Garangan ada enam dusun, yakni, Garangan, Sokokerep, Losari, RT 1,2,3 RW 5, Getas Kerikil, dan Ngasinan. Kemudian di Desa Bercak ada lima dusun, yakni, Bercak Kidul, Ngasinan, Bercak Lor, Karang Tengah, Bendobobok.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Boyolali, Suparman mengatakan, jumlah air bersih yang disalurkan mencapai 206 tangki per 6 September.
Angka tersebut merupakan gabungan bantuan dari BPBD dengan tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL) perusahaan.
"Jumlah total dropping air sudah mencapai 206 tangki. Rinciannya, di Kecamatan Wonosamudro sudah 65 tangki, Tamansari 50 tangki, Kemusu 48 tangki, Wonosegoro 26 tangki, Juwangi 14 tangki dan Selo tiga tangki," jelasnya.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Boyolali Suratno mengajak seluruh komponen baik di tingkat desa, kecamatan dan lainnya turut membantu dan proaktif dalam penanganan kekeringan. Sehingga kebutuhan air bersih masyarakat bisa tertangani.
Dari anggaran BPBD, telah menyalurkan 153 tangki dari ketersediaan total 195 tangki. Sedangkan penyaluran lainnya juga berasal dari bantuan masyarakat dan perusahaan.
"Data di BPBD, penyaluran air bersih sampai kemarin ada enam kecamatan yang ditetapkan. Baik Kemusu, Wonosegoro, Wonisamudro, Juwangi, Musuk, Tamansari ditambah Kecamatan Selo dan Cepogo. Total yang telah mengajukan air bersih ada 27 desa," jelasnya.
Permintaan air bersih juga meluas ke desa-desa yang sebelumnya tidak terdampak kekeringan.
Seperti di Kecamatan Kemusu meluas ke Desa Sarimulyo. Padahal tahun sebelumnya permintaan air bersih hanya dari Desa Kendel dan Kedungrejo.
"Di anggaran perubahan (APBD perubahan) kami mendapat Rp 80 juta. Hampir 75 persen dari anggaran APBD murni. Harapannya ini dapat menjadi penguatan di dalam memenuhi kebutuhan air bersih untuk masyarakat," katanya. (rgl/bun)
Editor : Tri Wahyu Cahyono