
Oleh: Mauly Halwat Hikmat, Ph.D., Kabid Layanan Pengembangan Bahasa LPMB UMS
RADARSOLO.COM - Bagi banyak mahasiswa non-bahasa Inggris, speaking masih menjadi keterampilan yang paling menantang.
Hambatannya sering kali bukan sekadar keterbatasan kosakata atau tata bahasa, melainkan rasa takut untuk berbicara.
Mahasiswa khawatir melakukan kesalahan, merasa kemampuan dirinya kurang baik, atau takut dinilai oleh orang lain.
Akibatnya, mereka cenderung memilih diam meskipun sebenarnya memiliki ide dan pemahaman yang ingin disampaikan.
Baca Juga: Social Gathering, Ruang Meaningful Learning Dalam Pembelajaran Speaking Bahasa Inggris
Situasi tersebut menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa masih memandang kemampuan bahasa sebagai sesuatu yang bersifat tetap.
Mahasiswa yang fasih dianggap berbakat sejak awal, sedangkan yang belum lancar merasa dirinya memang tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik.
Padahal, kemampuan komunikasi berkembang melalui proses latihan, pengalaman, keberanian mencoba, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan.
Karena itu, pembelajaran bahasa Inggris tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan teori di ruang kelas.




