Social Gathering, Ruang Meaningful Learning Dalam Pembelajaran Speaking Bahasa Inggris


Oleh: Mauly Halwat Hikmat, M.Hum., Ph.D., Kabid Pengembangan Layanan Bahasa LPMB UMS
DI banyak program studi (prodi) non-bahasa Inggris, pembelajaran bahasa Inggris masih sering dipahami sebatas mata kuliah pelengkap.
Mahasiswa belajar tata bahasa dan kosakata, tetapi belum memiliki cukup ruang untuk menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi yang hidup.
Akibatnya, kemampuan speaking menjadi tantangan terbesar, bukan hanya karena keterbatasan bahasa, tetapi juga rendahnya rasa percaya diri dan ketakutan melakukan kesalahan.
Dalam konteks ini, kegiatan social gathering dapat menjadi bentuk meaningful learning dalam pembelajaran speaking bahasa Inggris.
Baca Juga: Energi Masa Depan Indonesia: Tantangan Geopolitik Global Serta Agenda Riset Perguruan Tinggi
Pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata, interaksi sosial, dan keterlibatan emosional yang membuat proses belajar lebih relevan dan bermakna.
Kegiatan Social Gathering bertema “Voices for Peace: Speaking Across Borders, Healing Beyond Conflicts” yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Mata Kuliah dan Layanan Bahasa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menjadi contoh bagaimana pembelajaran speaking dapat dikemas lebih kontekstual dan inspiratif.
Tema yang dekat dengan isu global tersebut mendorong mahasiswa menggunakan bahasa Inggris untuk menyampaikan gagasan tentang perdamaian, empati, dan kemanusiaan.
Melalui berbagai bentuk performa seperti storytelling, drama, pidato, puisi, dan debat, mahasiswa memperoleh kesempatan menggunakan bahasa Inggris dalam situasi autentik.



