Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Menelusuri Bekas Dusun Paling Dekat dengan Merapi di Boyolali: Hilang saat Erupsi 1954, Tersisa Pemakaman Kuno

Ragil Listiyo • Minggu, 25 Februari 2024 | 23:31 WIB
SAKSI BISU: Warga menunjukan sisa makam kuno Dusun Pencar yang disapu wedhus gembel dari erupsi Gunung Merapi pada 1954 silam. Lokasi ini di Desa Klakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.
SAKSI BISU: Warga menunjukan sisa makam kuno Dusun Pencar yang disapu wedhus gembel dari erupsi Gunung Merapi pada 1954 silam. Lokasi ini di Desa Klakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.

RADARSOLO.COM - Bekas perkampungan di Desa Klakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali ini jadi saksi ganasnya letusan Gunung Merapi.

Perkampungan ini dulunya masuk wilayah Dusun Pencar. Namun hilang disapu wedhus gembel saat erupsi Merapi 1954 silam. Seperti apa kondisinya terkini?

Perjalanan menuju bekas Dusun Pencar cukup menantang. Terbagi menjadi Dusun Pencar Duwur dan Pencar Ngisor, dusun ini sangat dekat dengan puncak Merapi.

Usai erupsi Merapi 1954, kini hanya tersisa makam kuno milik warga tempo dulu.

Perjalanan bisa ke petunjuk pertama di Balai Desa Klakah. Setelah itu, berlanjut ke bekas Dusun Pencar melewati jembatan dengan jurang khas pegunungan.

Sampai di batas dusun, ada sebuah pemakaman yang dulu digunakan oleh masyarakat Dusun Pencar Ngisor. Sampai saat ini, masih digunakan oleh warga Desa Klakah dan Jrakah.

Jalan usaha tani cor beton semakin menanjak. Di sisi tenggara, Gunung Merapi berdiri gagah. Menampakan lautan pasir di puncaknya.

Ya, bekas dusun yang hilang ini hanya berjarak 2 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Tak ayal, begitu erupsi mengarah ke utara maupun barat laut, rumah-rumah kayu dusun ini habis terkena awan panas.

Kini, bekas dusun itu sudah berubah menjadi areal pertanian. Warga memanfaatkannya sebagai kebun tempat berladang. Menanam sayur mayur hingga tembakau.

Lebih jauh ke atas, terdapat pemakaman tua Dusun Pencar Duwur masih terawat. Gundukan-gundukan tanah serta nisan tua tampak bersih.

Meski warga asli Dusun Pencar sudah pindah berpencar, namun mereka masih kerap bertandang untuk membersihkan makam leluhur.

Kompleks perkampungan tersebut diapit tiga kali aliran Merapi. Yakni, Kali Gondang, Kali Anggrung dan Kali Lowo. Rumah-rumah warga juga terdapat lahan pertanian.

Parli Martono, 68, warga Dusun Kajor, Desa Jrakah, Kecamatan Selo menceritakan, saat erupsi 1954, banyak warga yang tidak menyadarinya. Termasuk, kakeknya dan ayahnya yang tinggal di Pencar Atas.

Beruntung, sang ayah bisa melarikan diri dan selamat dari terpaan wedhus gembel. Sedangkan sang ibu mengalami sejumlah luka bakar di bagian lengan dan tangan. Namun berhasil selamat.

”Saya diceritain, karena saya kelahiran Kajor (Desa Jrakah, Selo). Tetapi bapak saya cerita ke saya langsung. Nak nang tegal Pencar, ngati-ngati. Wong ndek biyen wis ra keno dinggoni (Kalau ke ladang Pencar, hati-hati. Karena dulu sudah tidak bisa ditempati lagi, Red). Nah, kadang bisa gludug gunung lagi,” ujar dia menirukan pesan bapaknya.

Dia mengajak ke arah barat, ada jalan setapak yang sudah dicor beton. Jalan selebar 1 meter di antara ladang warga tersebut dahulunya jalan kampung.

Di seberangnya, terdapat pohon kinah raksasa. Namun, bagian akar yang condong ke jalan tampak sudah berlubang cukup besar.

Tapi akarnya kokoh menyangga pohon dan dedaunan lebat. Konon, pohon kinah inilah yang mampur bertahan saat terpaan wedhus gembel Merapi 1954 silam.

Kepala Desa (Kades) Klakah Marwoto menceritakan, pada erupsi 1954, Awan panas terus merangsek ke sisi barat menuju Dusun Tegalrejo (di bawah Dusun Pencar).

Namun, ada satu tokoh masyarakat bernama Kiai Drogo yang enggan mengungsi. Kiai tersebut lantas menanam pohon tulangan di sebelah timur Dusun Tegalrejo.

Agar awan pamas tidak semakin mengarah ke barat dan menyapu dusunnya. Ternyata, awan panas benar-benar tak menyentuh Dusun Tegalrejo termasuk Desa Sidorejo.

”Jadi yang seharusnya Desa Sidorejo ini kena semua, ini jadi kelangkahan (terlompati). Hanya kena yang Pencar, dusun-dusun bawahnya terus mengalir ke Kali Apu. Nah, makanya desa ini dinamakan Desa Klakah karena kelangkahan. Jadi riwayat desa Klakah seperti itu,” terangnya.

Awalnya, nama Klakah untuk menyebut Dusun Klakah Duwur, Klakah Tengah dan Klakah Ngisor.

Pasca erupsi pada 1954-1957, warga mulai membangun perkampungan kembali di bawah kepemimpinan Kades Pertama Klakah, Singoredjo. Dia memimpin dari 1940-1960. Kemudian dilanjutkan sembilan kades lainnya hingga kini. (rgl/adi)

Editor : Damianus Bram
#desa klakah #erupsi merapi #Dusun Pencar #gunung merapi