RADARSOLO.COM – Ada tradisi unik yang dilakukan Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hidayah Al Mubarokah, Desa Sempu, Kecamantan Andong, Boyolali, menyambut Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan. Para santri mengaji tanpa penerangan listrik.
Ratusan santri ini mengaji di bawah sorot cahaya tintir atau obor, Minggu (31/3/2024). Dengan khusyuk mereka melantunkan ayat-ayat suci Alquran di pematang-pematang sawah.
Kegiatan rutin tiap Ramadan ini menjadi momentum refleksi. Ada sekitar 200-an santri dan keluarga ponpes yang mengikuti kegiatan ini. Mereka membaca Alquran di bawah sorot cahaya tintir. Hal itu sebagai pengingat dari masa lampau bahwa belajar membutuhkan perjuangan.
Pengurus Ponpes Nurul Hidayah, Kecamatan Andong, Muhammad Fatan Syarifuddin mengatakan, santrinya rutin menggelar khataman Alquran selama 30 juz di akhir Ramadan. Khataman tersebut menggunakan oncor atau obor sebagai lentera pengingat bagi para santri.
"Bahwasannya zaman dahulu para pendahulu kita, nenek moyang kita itu ketika membaca Alquran seperti itu, membawa oncor," ujarnya.
Dengan mempraktikan langsung, para santri merasakan langsung bagaimana suasana saat di masa lampau. Termasuk rasanya jerih payah hanya untuk mengaji Kalam Allah.
"Agar mereka merasakan bagaimana sulitnya membaca Alquran. Dalam situasi saat ini kita sudah ada berbagai macam fasilitas. Bagaimana kita tetap bisa membaca Alquran. Tapi pada zaman dulu sangat sulit membaca Alquran, tapi semangatnya sangat luar biasa," tambahnya.
Tujuan dari ngaji tintir ini untuk mengajarkan para santri. Jerih payah dan susahnya dalam membaca Alquran serta mencari ilmu. Kegiatan ini memang menjadi agenda rutin setiap Ramadan.
"Sudah empat tahun berturut-turut dilaksanakan acara seperti ini. Pesertanya ada 200 lebih dari santri dan keluarga yayasan. Inilah momen untuk menhambut Lailatul Qadar, para santri mengaji bersama," tandasnya. (rgl/bun)
Editor : Kabun Triyatno