RADARSOLO.COM- Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak sapi masih ditemui di Kabupaten Boyolali.
Terbaru, ditemukan 41 kasus PMK yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Boyolali.
Hal tersebut telah dilaporkan ke Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali.
Kepala Disnakan Boyolali Lusia Dyah Suciati mengamini, masih ada temuan kasus PMK.
Setelah di-tracking, asal usul virus masih sama dengan kasus tahun sebelumnya.
Yakni, penularan sapi yang baru dibeli peternak dari pasar.
"Ternak itu dari wilayah wabah PMK di Jawa Timur," terang Lusia, Selasa (30/4/2024).
Disnakan Boyolali mewanti-wanti agar peternak dan petani jeli.
Jika ada temuan gejala PMK ataupun sapi sakit, diminta untuk segera melaporkan ke Disnakan Boyolali.
Sehingga bisa dilakukan penanganan dan pengobatan secepatnya.
Disnakan Boyolali juga sudah meminta petugas hingga dokter dan mantri hewan untuk bergerak aktif.
Termasuk mengimbau peternak dan pedagang sapi tidak membeli ternak dari kawasan wabah PMK.
Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Disnakkan Boyolali Afiany Rifdania menambahkan, dinas bergerak cepat mengedukasi peternak.
"Laporan sementara yang masuk sebanyak 41 kasus (PMK,Red)," terangnya.
Puluhan kasus PMK itu tersebar di Kecamatan Ampel, Cepogo, dan Tamansari.
Ditambahkan Afiany, PMK yang menyerang sapi saat ini lebih ganas.
"Kalau dulu, kemungkinan ternak sapi mati akibat PMK hanya berkisar 10 persen. Namun kini bisa mencapai 30- 40 persen,” katanya.
“Namun kalau cepat terdeteksi dan segera diobati, tetap bisa sembuh," lanjut Afiany.
Munculnya PMK bermula dari sapi yang dibeli di pasar hewan.
Dari hasil penelusuran, sapi berasal dari wilayah wabah PMK di Jawa Timur.
Ironisnya, sapi- sapi itu belum divaksin dan langsung dimasukkan kandang bercampur sapi lain. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono