Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Perajin Kembar Mayang dan Penjor Kian Langka, Festival Janur di Boyolali Berupaya Hidupkan Lagi

Ragil Listiyo • Kamis, 5 Desember 2024 | 03:41 WIB
Festival Janur yang digelar di Boyolali merupakan upaya menguri-uri seni pembuatan kembar mayang dan penjor.
Festival Janur yang digelar di Boyolali merupakan upaya menguri-uri seni pembuatan kembar mayang dan penjor.

RADARSOLO.COM-Janur menjadi seni dekorasi yang sudah ada sejak ratusan tahun silam.

Seni dekorasi janur biasanya ditampilkan dalam acara hajatan, seperti pernikahan. Disebut dengan kembar mayang serta penjor.

Jika dulu, masyarakat akan membuat sendiri dekorasi dari janur secara gotong royong. Kini, seni tradisi janur itu menjadi bisnis dekorasi. 

Seni itu mulai dihidupkan lagi dalam Festival Janur yang diadakan MAXONE Loji Kridanggo.

Ada 10 peserta yang mengikuti festival ini. Mereka dengan telaten mulai mendesain janur. Ada yang dibuat kembar mayang, adapula penjor. 

Supri Jabrik, 60, pegiat seni dekorasi janur asal Boyolali menggeluti pembuatan dekorasi janur sejak 1980-an.

Seni dekorasi kembar mayang dan penjor ini sudah dipelajarinya sejak masih remaja. Awalnya, dia belajar dari kegiatan karang taruna.

"Zaman dulu, kalau ada hajatan semuanya didekor sendiri. Termasuk kembar mayang ini. Malam sebelum resepsi, kami gotong royong buat itu. Dari situ belajar otodidak. Karena tiap acara nikahan di kampung, pasti buat sendiri," ungkapnya, Rabu (4/12/2024). 

Pembuatan kembar mayang dan penjor ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian.

Selain itu, butuh waktu paling tidak selama 2 jam untuk proses memotong dan merangkai dekorasi janur. 

Kembar mayang tidak hanya sekedar seni dekorasi. Tapi juga terdapat makna mendalam.

Janur terdiri dari kata Ja yang berarti kelahiran dan Nur yang berarti cahaya. Sehingga diharapkan rumah tangga pengantin akan bercahaya.

"Bentuknya sebisa mungkin harus rapi. Terus kalau bisa gak monoton, seni janur itu berkembang terus. Cuma tantangannya, anak zaman sekarang malas yang berkaitan budaya. Apalagi sekarang zaman gadget seperti ini, budaya sudah mulai luntur," beber Supri.

Selain regenerasi, perajin juga dihadapkan pada bahan baku janur yang sulit. Saat ini mencari janur lokal cukup susah.

Supri harus memesan dari daerah Wonosobo. Harganya berkisar Rp 50-an ribu per papah. Sedangkan harga kembar mayang berkisar Rp 750 ribu per pasang. 

Sutarto, 52, warga Desa Candi, Kecamatan Ampel, Boyolali mengamini seni dekorasi janur terganjal pada bahan baku dan regenerasi.

Untuk mendapatkan papah janur, dia harus memesan sejak jauh-jauh hari. 

"Kalau bisa (Festival Janur,Red) sering diadakan lebih bagus. Karena juga mengangkat budaya Jawa dan kreasi, lalu dari anak muda biar tertarik melanjutkan, jadi ada regenerasi," ungkapnya. 

Diungkapkan Sutarto, untuk menghasilkan kembar mayang atau penjor yang bagus, tidak bisa kemrungsung (tergesa-gesa).

Harus telaten dan sabar. Desainnya juga berkembang dari masa ke masa. Ada model bali, klasik, solo dan lainnya. 

Sementara itu, budayawan Boyolali Gatut Suseno menjelaskan, seni janur ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak atau abad ke-15.

Kembar mayang dipasang saat hajat pernikahan. Ada yang bernama Dewandaru, Dewa berarti umat dari yang Maha Kuasa. Sedangkan Ndaru adalah cahaya. 

Satu lagi bernama Kalpondaru. Kalpo berarti abadi dan Ndaru diartikan cahaya.

Sehingga kembar mayang menjadi ujub doa agar kedua mempelai mendapat cahaya dari yang Maha Kuasa.

"Sedangkan janur itu adalah dari daun pelapa kelapa yang paling atas, paling muda. Itu di tata cara adat Jawa, janur itu mengandung makna permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa," ujarnya.

Sales Marketing Manager MAXONE LojiKridanggo Boyolali Clarita Hera menjelaskan, peserta membuat dua jenis rangkaian janur, yaitu kembar mayang dan penjor.

"Terdapat nilai-nilai sosial, budaya. Seperti gotong royong, pengorbanan, rasa syukur, doa-doa, menjalin silaturahmi, dan saling berbagi antarmasyarakat di suatu lingkungan," tandasnya. (rgl/wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Janur #kembar mayang #penjor #budaya #dekorasi