RADARSOLO.COM-Seni dan budaya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Dimas Archellino, 22, mahasiswa Universitas Boyolali.
Warga Desa Methuk, Kecamatan Mojosongo, Boyolali ini sukses menekuni kerajinan pembuatan topeng Gedruk yang kini dikenal hingga mancanegara.
Berawal dari kecintaannya terhadap seni dan budaya yang diwarisi dari ibunya, Laura, seorang seniman dan pendiri komunitas seni Langen Beksan Kinasih (LBK) Erawati, Dimas mulai belajar membuat topeng sejak SMA.
“Karena orang tua punya sanggar seni dan ada rasa suka terhadap topeng Gedruk, saya ingin menjadi pegiat topeng Gedruk," ujarnya, Minggu (12/1/2025).
"Selain digunakan untuk properti tari, juga bisa sebagai pajangan,” lanjutnya.
Dalam ruang kerja sederhana di rumahnya, Dimas bersama enam rekannya membuat berbagai jenis topeng. Seperti topeng gedruk, buto, kuntilanak, hingga pocong.
Proses pembuatan memakan waktu 1-2 bulan untuk tiap topeng. Mulai dari mencari bahan baku hingga tahap akhir.
Rambut ekor kuda dan sapi menjadi bahan utama yang sulit didapatkan, terutama di musim hujan.
“Prosesnya cukup sulit karena bahan seperti ekor kuda dan sapi harus melalui pengeringan alami agar hasilnya bagus. Rambut sintetis kadang digunakan untuk menekan biaya produksi,” jelas Dimas.
Tak hanya fokus pada produksi, Dimas juga aktif mempromosikan kesenian Gedruk melalui media sosial dengan konten-konten kreatif.
Hasilnya, topeng buatannya telah dikirim ke berbagai daerah, bahkan hingga Taiwan dan Bali.
“Pembeli dari luar negeri biasanya menggunakan topeng sebagai kado atau pajangan. Sekaligus memperkenalkan kesenian Gedruk di sana,” tambahnya.
Topeng hasil karyanya dijual dengan harga Rp 1 juta-Rp 2 juta. Tergantung bahan dan tingkat kerumitan.
Dengan permintaan belasan topeng per bulan, omzet yang diraih mencapai Rp 30 juta.
“Ada kebanggaan tersendiri ketika karya kita digunakan orang lain dan memberikan manfaat. Dari yang awalnya lokal, sekarang mulai dikenal global,” ujar Dimas.
Dimas berharap, melalui karya-karyanya, seni Gedruk dapat terus dilestarikan dan semakin dikenal, baik di dalam maupun luar negeri. (rgl/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono