RADARSOLO.COM-Di Boyolali terdapat sebuah kampung dengan nama unik, yakni Kampung Pambraman.
Kampung ini berlokasi di Kelurahan Banaran, Kecamatan Boyolali Kota.
Memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan tentara Belanda kelahiran Boyolali, Johannes Marius Van Braam.
Nama kampung ini berasal dari sosok Van Braam, yang makamnya masih berada di belakang kampung hingga saat ini.
Kampung Pambraman terletak di utara Jembatan Kali Gede Kridanggo dan hanya terdiri dari satu gang kecil.
Sekilas, kampung ini tampak seperti permukiman biasa. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, peninggalan era kolonial Belanda masih bisa ditemukan di beberapa sudut kampung.
Sejarawan Boyolali, Ibnu Rustamaji menjelaskan, masih terdapat beberapa bukti peninggalan Belanda yang bertahan di kampung ini, antara lain:
- Tiang telegraf peninggalan Belanda, yang kini digunakan sebagai jalur aliran listrik di atap rumah-rumah warga.
- Rumah-rumah tua bergaya Belanda, dengan tembok tebal yang masih dipertahankan.
- Makam Belanda (Kerkhof) di belakang kampung, yang memiliki dua nisan khas Belanda.
Dari peta tahun 1934, Ibnu menemukan bahwa nama Kampung Pambraman sudah tercatat sejak saat itu.
Dalam peta tersebut, kerkhof (makam Belanda) di bagian timur kampung ditandai dengan simbol “plus merah”, yang mengindikasikan makam Kristen.
"Merujuk pada peta tahun 1934 yang kami temukan, kampung ini sudah ada sejak lama. Di bagian timur terdapat makam yang ditandai dengan simbol plus merah, yang merupakan lambang pemakaman Kristen," ujar Ibnu Rustamaji," Se saat ditemui di lokasi.
Siapa Johannes Marius Van Braam?
Van Braam lahir di Boyolali pada 24 Maret 1850 dan mulai berdinas sebagai tentara Belanda pada 1886 dengan status sukarelawan.
Ia menempuh pendidikan perwira di Weltevreden, Jatinegara, dan diangkat sebagai Letnan Artileri 1 pada 24 Juli 1886 dengan pangkat kapten.
Pada 1886, ia dikirim ke Perang Aceh di bawah pimpinan Jenderal Van der Heijde.
Setelah lima tahun bertugas, Van Braam memutuskan pensiun pada 1891.
Ia kemudian bekerja di Pabrik Gula Karanganom, Klaten, sebagai akuntan dan ahli kimia, hingga akhirnya menjadi manajer produksi.
Setelah 10 tahun bekerja di industri gula, ia pensiun pada 1902 dan kembali ke Boyolali, kampung halamannya.
Hingga akhirnya, Van Braam meninggal dunia pada 11 Juli 1924 dan mendapat penghormatan militer sebelum dimakamkan di belakang Kampung Prambaman.
Perubahan Kampung Pambraman Pasca-Kolonial
Menurut Ibnu Rustamaji, perkampungan ini telah mengalami banyak perubahan seiring waktu.
Banyak bangunan lama yang mengalami renovasi atau pembongkaran, namun beberapa ciri khas kolonial masih bisa ditemukan.
“Kondisi pemukiman sudah berubah total, tetapi kami bisa mengidentifikasi beberapa tempat yang masih memiliki perbedaan antara kampung lama dan permukiman baru,” tambahnya.
Dari citra satelit lama, wilayah Kampung Pambraman ternyata dulu mencakup hingga Kampung Recosari, tempat kompleks pemakaman Belanda modern.
Van Braam sendiri diduga merupakan tuan tanah, yang memiliki lahan cukup luas di Boyolali.
Baca Juga: SMKN 2 Solo Ungkap Penyebab Gagal Isi PDSS yang Berujung 300 Siswa Tak Bisa Daftar SNBP
Namun, pada 1942, ketika Jepang datang menjajah Indonesia, perkampungan ini mulai ditinggalkan.
Saat itu, warga keturunan Belanda diberikan dua pilihan:
- Tetap tinggal, tetapi harus masuk kamp interniran Jepang.
- Pergi ke Belanda.
Mayoritas keluarga Van Braam memilih kembali ke Belanda, sehingga kampung ini menjadi kosong.
Pasca-kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Boyolali mulai melakukan perluasan wilayah dan menata ulang kawasan ini sebagai pemukiman baru.
“Kampung ini akhirnya ditinggalkan secara otomatis. Kemudian, pemerintah mulai melakukan perluasan wilayah dan penataan kota, sehingga banyak rumah lama direnovasi atau bahkan dibongkar," pungkas Ibnu.
Meski telah banyak berubah, Kampung Pambraman tetap menjadi bagian dari sejarah Boyolali, yang menyimpan jejak peninggalan kolonial dari seorang tentara Belanda kelahiran lokal. (rgl/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono