Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Saat Islam dan Kristen Bersatu dalam Sadranan Desa Genting Boyolali, Seperti Ini Rukunnya

Ragil Listiyo • Selasa, 18 Februari 2025 | 02:35 WIB
Warga Dusun Sidorejo, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali membawa tenongan menuju makam dengan melintas gereja setempat, Senin (17/2/2025).
Warga Dusun Sidorejo, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali membawa tenongan menuju makam dengan melintas gereja setempat, Senin (17/2/2025).

RADARSOLO.COM-Tradisi Sadranan di Dusun Sidorejo, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali memiliki keunikan tersendiri.

Di tengah dominasi umat Muslim, 7 kepala keluarga (KK) umat Kristiani tetap ikut serta dalam tradisi ini dengan penuh kekhidmatan.

Sadranan yang berlangsung setiap bulan Ruwah tersebut bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga simbol nyata kerukunan antarumat beragama di dusun kecil ini.

Seperti biasa, masyarakat menggotong tenongan berisi makanan ke makam leluhur.

Perjalanan menuju makam melewati masjid dan gereja yang letaknya berdekatan, mencerminkan kehidupan bertoleransi yang telah diwariskan turun-temurun.

Sesampainya di makam, doa bersama dilakukan dengan tata cara Islam, tetapi diikuti oleh seluruh warga tanpa sekat agama.

Setelah doa, warga baik Muslim maupun Kristiani melanjutkan tradisi open house, membuka rumah mereka bagi sanak saudara dan tetangga untuk bersilaturahmi dan menikmati hidangan yang telah disiapkan.

Rosyidi, pemuka agama Islam di Dusun Sidorejo menegaskan, tradisi Sadranan sudah berjalan ratusan tahun sebagai bentuk syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.

Sadranan tidak memandang agama, tetapi menjadi ajang mempererat persaudaraan dan persatuan antarwarga.

Doa bersama di area makam sebelum menyantap makanan tradisional.
Doa bersama di area makam sebelum menyantap makanan tradisional.

"Ini adalah warisan nenek moyang yang harus dilestarikan. Di Sidorejo, Islam dan Kristen menyatu dalam acara ini, tanpa harus membedakan keyakinan masing-masing," ungkapnya, Senin (17/2).

Hal senada disampaikan Suparno, salah satu umat Kristiani di dusun tersebut.

Baca Juga: Viral!!! Video di TikTok Sebut Penegakan Hukum Kasus Dana Desa Sugihan Wonogiri Loyo, Ini Jawaban Bupati Jekek

Ia menuturkan bahwa budaya toleransi sudah ditanamkan sejak lama.

"Puji Tuhan, kami saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Sebagai petani, kami mengandalkan pertanian untuk kehidupan ekonomi bersama," ujarnya.

Keharmonisan ini juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Saat umat Kristiani beribadah pada hari Minggu, umat Islam tetap menghormati tanpa gangguan.

Begitu pula ketika Muslim menjalankan Sholat Jumat dan Tarawih, semua berlangsung dengan tertib dan saling menghargai.

"Gereja dan masjid di sini berdekatan, tetapi kami tetap berdampingan tanpa masalah. Semua saling menghormati," tambah Suparno.

Bersihkan rumah untuk menyambut kedatangan kerabat dan tetangga.
Bersihkan rumah untuk menyambut kedatangan kerabat dan tetangga.

Dalam menjalankan tradisi Sadranan, masyarakat membawa tenongan sebagai simbol syukur atas rezeki yang diterima.

Tidak hanya itu, tradisi ini juga menjadi momen silaturahmi antarwarga, di mana selama dua hari warga membuka rumah untuk menyambut tamu dengan hidangan khas.

Rosyidi menambahkan, semangat kebersamaan dalam Sadranan adalah bukti nyata bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang untuk hidup rukun.

"Kami ingin generasi muda tetap menjaga tradisi ini, agar semangat gotong royong dan persaudaraan tetap hidup," tandasnya. (rgl/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#islam #harmoni #Boyolali #Desa Genting #rukun #kristen #Sadranan #cepogo