RADARSOLO.COM-Sentra kerajinan tembaga di Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali, atau yang lebih dikenal dengan nama Tumang, menyimpan sejarah panjang.
Dimulai sejak 1930-an, jauh sebelum Indonesia merdeka. Kini, sebanyak 728 pengrajin aktif menggantungkan hidup dari warisan budaya ini.
Menjadikan tembaga sebagai sumber penghidupan ratusan keluarga.
Berdasarkan catatan sejarah lisan yang dihimpun oleh Pemerintah Desa Cepogo, awal mula munculnya kerajinan tembaga Tumang berkaitan erat dengan kisah spiritual Keraton Surakarta Hadiningrat saat dipimpin oleh Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) X.
Kala itu tersiar kabar bahwa salah satu pusaka keraton hilang secara misterius.
Seorang ahli nujum keraton pun diminta menerawang keberadaannya.
Ia menyebut bahwa pusaka yang hilang berada di kawasan lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Dusun Tumang, dekat makam Kyai Ageng Rogosasi.
Atas petunjuk itu, PB X bersama para prajuritnya melakukan perjalanan dan ritual khusus ke wilayah tersebut.
Di sana, beliau mendapati warga Dusun Tumang, terutama dari Dukuh Gunungsari, tengah sibuk memperbaiki dan membuat alat dapur dari bahan tembaga.
Melihat hal itu, PB X memberi titah singkat namun bermakna mendalam:
“Wis terusno, mengko bakal dadi dalan rejekimu” (Teruskan, kelak ini akan menjadi jalan rezekimu).
Ujaran itu tidak hanya menjadi pesan raja, tetapi juga dipegang teguh sebagai wasiat turun-temurun oleh warga Tumang.
Sejak saat itu, aktivitas mengolah tembaga terus dijalankan dengan sungguh-sungguh hingga berkembang seperti saat ini.
Jika pada awalnya hanya fokus membuat alat-alat dapur, kini kerajinan Tumang telah menjelma menjadi sentra produksi logam berkelas tinggi.
Produk yang dihasilkan sangat beragam, mulai dari kaligrafi, ornamen arsitektur, kerajinan aluminium, kuningan, hingga besi. Permintaan bahkan datang dari berbagai kota besar hingga mancanegara.
Konsistensi dalam menjaga warisan dan berinovasi menjadikan Tumang sebagai salah satu sentra kerajinan tembaga terbaik di Indonesia.
Di balik gemerlap logam yang mereka tempa, terpatri nilai sejarah, spiritualitas, dan pesan luhur yang terus dijunjung hingga kini. (rgl/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono