RADARSOLO.COM - Tak hanya dikenal sebagai penghasil susu perah, Kabupaten Boyolali juga punya segudang warisan budaya.
Salah satunya tari Turonggo Seto, khas Desa Samiran, Kecamatan Selo. Tari keprajuritan yang terinspirasi perjuangan para pahlawan.
Desa Samiran, Selo, terletak di lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Selain Samiran, masih banyak desa-desa lainnya di lereng Merapi-Merbabu yang getol melestarikan tarian tradisional. Sebagai bagian tidak terpisahkan dari acara budaya maupun ruwatan.
Tari asli Boyolali ini menggambarkan kisah perjuangan Pangeran Diponegoro saat melawan penjajahan Belanda pada 1825-1830. Penarinya mengenakan kostum prajurit dengan dominasi ornamen warna kuning emas.
Satu lagi yang menonjol dari penarinya, yakni riasan wajahnya yang berkesan gahar. Berupa kumis tebal dan riasan dominan warna merah.
Demi menambah kesan gahar, seluruh penarinya menggenakan properti wig atau rambut palsu model kribo.
Penampilan mereka menberikan Kesan prajurit yang gagah berani. Ditambah dengan properti kuda lumping warna putih. Sesuai dengan asal muasal dari nama tarian ini.
“Turonggo artinya kuda, kalau seto berarti putih. Itu menggambarkan kuda yang dinaiki Pangeran Diponegoro. Seekor kuda putih,” jelas Ketua Sanggar Tari Rakyat Turonggo Seto Suharmin.
Secara keseluruhan, tari Turonggo Seto menampilkan semangat kepahlawanan Pangeran Diponegoro.
Dimainkan oleh 17 penari laki-laki. Seorang penari berperan sebagai panglima, sedangkan 16 sisanya sebagai prajurit.
Setiap gerakan dalam tarian ini menggambarkan aksi peperangan. Seperti menunggang kuda, berlari, bertarung, dan saling mengadu kekuatan.
Tak sekadar melestarikan budaya, tarian ini juga refleksi dari semangat perjuangan di masa penjajahan.
Menariknya, Turonggo Seto sudah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda sejak 2016.
“Dulu saya daftarkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali pada 2008. Waktu itu ada 500 kelompok sanggar seni yang saya data, lalu diajukan ke dinas. Sertifikat dari UNESCO saya terima Oktober 2016,” imbuh Suharmin.
Sejak saat itu, banyak desa-desa di lereng Merapi-Merbabu yang mendirikan kelompok kesenian lokal.
Hingga melahirkan sejumlah kesenian tradisional seperti tari Topeng Ireng, Soreng, Campur Bawur, Wirengan, Bendongan, dan sebagainya.
Sementara itu, Sanggar Tari Rakyat Turonggo Seto berdiri sejak 1 Januari 1956. Didirikan oleh kakek Suharmin, Ikaryo Redjo. Fokus dari sanggar ini adalah menciptakan dan melestarikan tari-tarian tradisional. (rgl/fer)
Editor : Damianus Bram