RADARSOLO.COM-Proyek revitalisasi dan pemeliharaan jalan Pandanaran Boyolali terus dikebut.
Proyek senilai hampir Rp22 miliar itu saat ini berada pada tahap pekerjaan persiapan, galian, serta pembongkaran perkerasan lama dan pedestrian existing.
Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Boyolali Joko Prasetyo mengungkapkan, hingga Minggu (5/10/2025), kontraktor mulai mendatangkan uditch dan box precast untuk konstruksi drainase maupun utility kabel provider.
Joko menjelaskan, untuk struktur tunnel, pekerjaan dilaksanakan dengan metode pengecoran di tempat (cast in site).
“Pengerjaan nanti menggunakan beton readymix, bukan sistem precast,” jelas Joko, Minggu (5/10/2025).
Trotoar di sekeliling tugu patung kuda juga terlihat sudah dibongkar total.
Joko mengatakan, nantinya trotoar di patung kuda akan dipendekkan menjadi hanya 15 cm dari permukaan jalan.
Trotoar Patung Kuda Dipendekkan, Median Jalan Dihilangkan, dan Perkerasan Jalan akan Disempurnakan dengan Metode Cold Milling
Diketahui saat ini jarak antara permukaan jalan dengan trotoar setinggi kurang lebih 1 meter.
Selain itu, median jalan di Jalan Pandanaran arah susu tumpah dihilangkan sepenuhnya.
“Di area Tugu Patung Kuda tidak direncanakan adanya median jalan. Namun, pada area sekitarnya, pedestrian dirancang memiliki ketinggian kurang lebih 10 cm dari di atas rencana perkerasan akhir jalan, agar tetap nyaman dan aman bagi pejalan kaki,” tambahnya.
Baca Juga: Pria Asal Laweyan Solo Ngamuk dan Rusak Rumah Warga di Pajang, Ini Penyebabnya
Sebelumnya, Joko menjelaskan, bahwa tahap awal pembangunan proyek revitalisasi dan pemeliharaan jalan Pandanaran Boyolali difokuskan pada sistem drainase, tunnel utilitas, dan pedestrian.
“Ke depan, dimungkinkan ada tahap lanjutan, khususnya untuk penyempurnaan perkerasan. Hal ini karena pada titik Monumen Susu Tumpah hingga Arpus elevasi perkerasan eksisting sudah cukup tinggi, sehingga diperlukan pelapisan ulang dengan metode cold milling (pengupasan aspal lama) terlebih dahulu agar elevasi jalan, pedestrian, dan lingkungan tetap terjaga,” pungkasnya. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono