RADARSOLO.COM – Pemerintah Kabupaten Boyolali melakukan reposisi besar-besaran dalam merayakan pergantian tahun 2026. Alih-alih menggelar pesta kembang api yang mewah, Kabupaten di bawah kaki Gunung Merapi ini memilih jalan kebudayaan dengan menggelar rangkaian acara bertajuk kearifan lokal mulai 27 hingga 31 Desember 2025.
Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan bagi warga yang terdampak bencana di berbagai wilayah sekaligus strategi memperkuat citra pariwisata daerah.
Beberapa titik ikonik seperti Alun-Alun Kidul, Tugu Susu Murni, Simpang Siaga, hingga halaman Rumah Dinas Bupati akan disulap menjadi panggung seni.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perayaan kali ini tidak akan diwarnai ledakan kembang api di langit Boyolali. Keputusan meniadakan pesta kembang api tersebut diambil untuk mematuhi instruksi pusat sekaligus menjaga empati sosial.
"Sejak awal kami tidak mengarahkan perayaan Tahun Baru pada pesta pora, tetapi pada pengenalan budaya dan potensi lokal. Kami ingin menunjukkan wajah baru Boyolali yang aman, beradab, dan tetap bernilai budaya melalui pemanfaatan ruang publik yang telah tertata," tegas Bupati Boyolali, Agus Irawan, Jumat (26/12).
Kemeriahan tetap akan terasa melalui konsep Car Free Night (CFN) dan night market di sepanjang Jalan Merdeka Timur. Sebanyak 22 sanggar tari tradisional akan bergantian unjuk gigi, bersanding dengan penampilan band-band lokal. Sementara itu, di jantung kota, yakni Simpang Pandan Alas hingga Simpang Siaga, akan dipenuhi dengan pertunjukan seni tradisi yang menjadi jati diri masyarakat Boyolali.
Sisi religius dan spiritualitas budaya mendapatkan porsi khusus di halaman Rumah Dinas Bupati. Pemkab Boyolali menyuguhkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang dipadukan dengan alunan keroncong dan campursari. Konsep ini dirancang untuk menarik wisatawan sekaligus mengedukasi generasi muda tentang kekayaan tradisi lokal.
Kepala Disporapar Boyolali Budi Prasetyaningsih menambahkan, peniadaan kembang api adalah komitmen bersama untuk menciptakan suasana prihatin namun tetap bermakna.
"Selain karena adanya larangan, kami ingin menghormati saudara-saudara kita yang saat ini sedang tertimpa bencana. Liburan tahun ini harus tetap kondusif dan bermartabat," ujarnya.
Dengan strategi ini, Boyolali berusaha membuktikan bahwa momentum pergantian tahun tidak harus identik dengan hura-hura. Melalui pemanfaatan kawasan hasil revitalisasi, Pemkab optimistis dapat mendongkrak ekonomi kreatif tanpa harus kehilangan empati dan nilai-nilai luhur budaya daerah. (fid/bun)
Editor : Kabun Triyatno