RADARSOLO.COM-Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Boyolali mencatatkan tren positif penurunan kasus kebakaran sepanjang tahun 2025.
Meski demikian, beban kerja petugas justru meningkat tajam di sektor penyelamatan (rescue).
Terutama pada evakuasi hewan dan sarang tawon yang jumlahnya melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabid Satpol PP Boyolali, Supriyono mengungkapkan, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 96 kasus kebakaran.
Angka ini menunjukkan penurunan signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencapai 147 kasus.
Tren Kebakaran dan Faktor Penyebab
Mayoritas kejadian kebakaran di tahun 2025 merupakan skala rumah tangga yang berpusat di area dapur.
Puncak Kejadian: Terjadi pada Oktober dengan 17 kasus.
Faktor Utama: Kelalaian saat memasak dan korsleting listrik akibat penggunaan kabel atau colokan yang tidak standar.
Pengaruh Cuaca: Penurunan kasus kebakaran lahan juga dipengaruhi oleh kondisi kemarau basah sepanjang tahun 2025.
Lonjakan Drastis Layanan Evakuasi
Berbeda dengan angka kebakaran yang turun, laporan evakuasi justru mencatatkan rekor baru.
Baca Juga: Omzet Pedagang Melejit, Lokasi CFD Boyolali di Alun-alun Kidul Berpotensi Jadi Permanen
Pada tahun 2024, Damkar hanya menerima 281 laporan evakuasi hewan, namun di tahun 2025 melonjak menjadi 634 laporan.
Laporan Terbanyak: Terjadi di bulan November dengan total 119 laporan (104 evakuasi hewan dan 15 evakuasi lainnya).
Dominasi Kasus: Permintaan didominasi oleh evakuasi sarang tawon yang meresahkan warga.
Kegiatan Non-Pemadaman: Damkar juga melakukan 268 kegiatan lain, termasuk penanganan pohon tumbang, evakuasi kecelakaan laka, serta sosialisasi pencegahan.
Peningkatan Infrastruktur dan Imbauan Warga
Untuk memperluas jangkauan layanan di seluruh wilayah Boyolali, saat ini Damkar mengoperasikan tiga pos utama: Pos Induk (Jalan Merdeka Timur), Pos Marhaen, dan Pos Klego.
Dalam waktu dekat, pemerintah berencana mengoperasikan Pos Damkar baru di Wonosegoro.
Supriyono mengimbau warga untuk terus meningkatkan kewaspadaan.
"Kami meminta warga rutin mengecek kondisi kelistrikan rumah, tidak menggunakan kabel non-standar, serta menghindari penggunaan colokan bertumpuk untuk mencegah risiko korsleting," tegasnya, Minggu (4/1/2026). (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono